Selasa, 28 Juli 2015

Pejuang yang tak memiliki senjata.

Dia menangis, pertempuran di depannya begitu dahsyat. Dia melihat satu persatu temannya tumbang, pun ada yang melarikan diri.

Dia ingin berteriak memaki pada penyerang. "Mengapa menyerang kami?" Pertanyaan itu yang selalu berputar di kepalanya.

Tapi, yang lebih menyesakkan dadanya adalah kenyataan bahwa dia sama sekali tak berguna di medan perang. Dia hanya berlari kesana kemari, pun tak menumbangkan satupun penyerang.

"Ayo kita lari saja. Sudah jelas kita kalah! Kau bisa lihat sebentar lagi akan datang alteri lainnya!" temannya berteriak disela-sela hujan tembakan yang datang, "Kita tak bisa apa-apa, senjata tak punya, keahlian bertempur pun tak ada. Menyerah pilihan terbaik. Bertahan hidup adalah yang paling utama. Suatu saat nanti kita balas mereka!"

Si pejuang menatap temannya dengan wajah datar, di dalam pikirannya dia bertanya, "Menyerah pilihan terbaik. Mundur dan selamatkan hidupmu! Tapi bagaimana dengan mayat-mayat itu? Sebelumnya mereka adalah teman-teman kita kan? Apakah meninggalkannya tak apa-apa?"

"Ayo pergi sebelum penyerang lain datang!" temannya menarik tangan si pejuang. Pejuang menepisnya, "Aku tetap disini, aku tidak akan pergi. Walau disini aku akan mati aku tetap disini. Bukan untuk siapa-siapa atau untuk apa-apa. Ini untukku sendiri. Aku tidak ingin menyesal. Aku akan berjuang walau tak punya senjata."

"Kamu akan mati sia-sia!" temannya membentaknya.

"Itu lebih baik daripada aku menyerah dan pergi!  Bukan untuk kehormatanku atau apa. Percayalah ini untuk diriku sendiri! Kalau kau mau pergi, pergilah!" Pejuang berkata dengan tegas.

Lalu teman itu pergi, dan alteripun datang, tank-tank itu menyerbu desa kecil itu dan melenyapkannya menjadi lautan api.

Dan apa kabar si pejuang? Tak ada lagi yang mendengar kabarnya.

_---------------------_

Berjuang tak hanya bermodal nekat dan kemauan.
Tapi kau juga harus punya yang lainnya.
Senjata itu, apapun bidangmu adalah yang paling penting.
Bukankah hidup kita adalah pertempuran?
Orang yang hanya memiliki kemauan apakah bisa berhasil?
Atau hanya akan mati sia-sia?

Jumat, 24 Juli 2015

Rumah

Ku ingin mencintai kekasih yang mengingatkanku pada rumah.
Tidak perlu terlalu besar atau megah.
Tapi mampu membuatku nyaman dan merasa aman.
Tempat dimana aku bisa menjadi diriku sendiri.
Menjadi manusia dengan penuh kelemahan tanpa perlu berpura-pura sempurna.
Kekasih yang tidak menyerah pada ketidaksempurnaanku tetapi bersama-sama melengkapi kekurangan.

Dan aku ingin melakukan yang terbaik untuknya seperti rumah pula yang selalu menjadi tempat berpulang.
Rumah yang dirindukan selalu ketika melangkah jauh atau ketika dunia terasa asing.

------------------------

Selasa, 07 Juli 2015

Kedua kalinya ku jatuh cinta

Merapat rapat aku padamu.

Hari pertama kulihat indah pesonamu.
Kau bagai intan berlian yang bersinar terang.
Putih cerah dan mengkilap.
Aku ingin memilikimu. :)

Hari kedua ku melihatmu.
Intan berlian itu tergosok oleh batu lainnya.
Warnanya memudar tak seindah hari kemarin.
Aku menatapmu lekat-lekat.
Aku merasa aku ingin membuangmu.

Hari ketiga ku renungi dirimu.
Intan yang tak seindah kemarin itu berkilau samar-samar.
Aku merasa jijik.
Tapi, kuperhatikan kau lekat-lekat.
Kilauanmu wahai Intan tak seindah hari pertama tapi sekarang kilauanmu yang samar-samar entah mengapa aku menjadi suka.

~~~~~

Jadi ini yang namanya jatuh cinta. Kujatuh pada pesonamu, lalu akhirnya menyadari kekuranganmu dan itu membuatku resah karena kau tak seperti yang aku harapkan. Hingga akhirnya terlintas di pikiranku aku ingin meninggalkanmu.

Tapi, apa yang terjadi padaku? Kenapa hatiku berdegup-degup begini?

Hmmm... Aku malah jatuh cinta lagi untuk yang kedua kalinya padamu karena kekuranganmu itu.

Jadi ini yang namanya jatuh cinta?

~~~~~~