Selasa, 28 Juli 2015

Pejuang yang tak memiliki senjata.

Dia menangis, pertempuran di depannya begitu dahsyat. Dia melihat satu persatu temannya tumbang, pun ada yang melarikan diri.

Dia ingin berteriak memaki pada penyerang. "Mengapa menyerang kami?" Pertanyaan itu yang selalu berputar di kepalanya.

Tapi, yang lebih menyesakkan dadanya adalah kenyataan bahwa dia sama sekali tak berguna di medan perang. Dia hanya berlari kesana kemari, pun tak menumbangkan satupun penyerang.

"Ayo kita lari saja. Sudah jelas kita kalah! Kau bisa lihat sebentar lagi akan datang alteri lainnya!" temannya berteriak disela-sela hujan tembakan yang datang, "Kita tak bisa apa-apa, senjata tak punya, keahlian bertempur pun tak ada. Menyerah pilihan terbaik. Bertahan hidup adalah yang paling utama. Suatu saat nanti kita balas mereka!"

Si pejuang menatap temannya dengan wajah datar, di dalam pikirannya dia bertanya, "Menyerah pilihan terbaik. Mundur dan selamatkan hidupmu! Tapi bagaimana dengan mayat-mayat itu? Sebelumnya mereka adalah teman-teman kita kan? Apakah meninggalkannya tak apa-apa?"

"Ayo pergi sebelum penyerang lain datang!" temannya menarik tangan si pejuang. Pejuang menepisnya, "Aku tetap disini, aku tidak akan pergi. Walau disini aku akan mati aku tetap disini. Bukan untuk siapa-siapa atau untuk apa-apa. Ini untukku sendiri. Aku tidak ingin menyesal. Aku akan berjuang walau tak punya senjata."

"Kamu akan mati sia-sia!" temannya membentaknya.

"Itu lebih baik daripada aku menyerah dan pergi!  Bukan untuk kehormatanku atau apa. Percayalah ini untuk diriku sendiri! Kalau kau mau pergi, pergilah!" Pejuang berkata dengan tegas.

Lalu teman itu pergi, dan alteripun datang, tank-tank itu menyerbu desa kecil itu dan melenyapkannya menjadi lautan api.

Dan apa kabar si pejuang? Tak ada lagi yang mendengar kabarnya.

_---------------------_

Berjuang tak hanya bermodal nekat dan kemauan.
Tapi kau juga harus punya yang lainnya.
Senjata itu, apapun bidangmu adalah yang paling penting.
Bukankah hidup kita adalah pertempuran?
Orang yang hanya memiliki kemauan apakah bisa berhasil?
Atau hanya akan mati sia-sia?

Jumat, 24 Juli 2015

Rumah

Ku ingin mencintai kekasih yang mengingatkanku pada rumah.
Tidak perlu terlalu besar atau megah.
Tapi mampu membuatku nyaman dan merasa aman.
Tempat dimana aku bisa menjadi diriku sendiri.
Menjadi manusia dengan penuh kelemahan tanpa perlu berpura-pura sempurna.
Kekasih yang tidak menyerah pada ketidaksempurnaanku tetapi bersama-sama melengkapi kekurangan.

Dan aku ingin melakukan yang terbaik untuknya seperti rumah pula yang selalu menjadi tempat berpulang.
Rumah yang dirindukan selalu ketika melangkah jauh atau ketika dunia terasa asing.

------------------------

Selasa, 07 Juli 2015

Kedua kalinya ku jatuh cinta

Merapat rapat aku padamu.

Hari pertama kulihat indah pesonamu.
Kau bagai intan berlian yang bersinar terang.
Putih cerah dan mengkilap.
Aku ingin memilikimu. :)

Hari kedua ku melihatmu.
Intan berlian itu tergosok oleh batu lainnya.
Warnanya memudar tak seindah hari kemarin.
Aku menatapmu lekat-lekat.
Aku merasa aku ingin membuangmu.

Hari ketiga ku renungi dirimu.
Intan yang tak seindah kemarin itu berkilau samar-samar.
Aku merasa jijik.
Tapi, kuperhatikan kau lekat-lekat.
Kilauanmu wahai Intan tak seindah hari pertama tapi sekarang kilauanmu yang samar-samar entah mengapa aku menjadi suka.

~~~~~

Jadi ini yang namanya jatuh cinta. Kujatuh pada pesonamu, lalu akhirnya menyadari kekuranganmu dan itu membuatku resah karena kau tak seperti yang aku harapkan. Hingga akhirnya terlintas di pikiranku aku ingin meninggalkanmu.

Tapi, apa yang terjadi padaku? Kenapa hatiku berdegup-degup begini?

Hmmm... Aku malah jatuh cinta lagi untuk yang kedua kalinya padamu karena kekuranganmu itu.

Jadi ini yang namanya jatuh cinta?

~~~~~~

Minggu, 28 Juni 2015

Manis

7 hari yang manis..

Walau hanya 7 hari itu benar-benar terasa manis.

Masih kuingat aku yang gugup sekali menunggu pesanmu. Atau aku yang berjingkrak-jingkrak seperti anak TK saat kau menanyakan kabarku.

Semuanya terasa manis.

Namun, setiap rasa manis memiliki akhir. Entah itu lidah yang tiba-tiba menjadi pahit.  Atau lidah yang malah tercandu oleh manisnya.

Dan bagiku kau adalah manis yang asam.

Dan sudah berakhir. Tepat 7 hari ini. Semuanya sudah berakhir. :')

Rabu, 24 Juni 2015

K

Si Mrs. K!

Tujuannya cuma satu, data! Namun dia harus jatuh bangun untuk mendapatkannya!

Malah dikira dia jatuh cinta!

Si Mrs. K suka menulis! Ditulisnya semua hal yang terlewat dipikirannya, tapi dia lebih suka mengamati kenyataan.

Tentang orang-orang di sekitarnya!

Malangnya si Mrs. K selalu dijuluki penjaja cinta.

Padahal dia hanya mau data!

Pada akhirnya si Mrs. K tidak bisa menulis lagi. Karena sudah habis inspirasinya!

Dan dia lelah dipanggil K! Ah sudahlah.

Sabtu, 20 Juni 2015

Kekasih

Kekasih yang tak pernah mencinta...

Dalam pandangannya, kekasih itu hanya melihat satu wajah.
Meski matanya tertutup ingatannya berputar terus tentangnya.
Jari jemarinya menulis pelan nama yang tak mampu ia ucapkan.
Hatinya bergemuruh meski otaknya terus menghindar.

Kekasih ini mulai merasa rindu....
Akan suara merdu itu yang bagai bertautan dengan detak jantungnya,

Tapi kekasih ini merasa ragu pada apa yang ada di depannya, pada perasaannya sendiri.

Ah apalah yang aku tahu tentang kekasih ini?

Kekasih ini menyela padaku dan mengatakan jangan ikut campur,

Dan aku hanya berkata pelan, "Akulah kekasihmu tapi kau tak pernah mencintaiku."

Lalu sang kekasih menjawab, "Aku mencintaimu bukan sebagai kekasih tapi kau mencintaiku sebagai kekasih."

Apa yang aku pikirkan? Aku tersenyum pada diriku sendiri.

Iya kaulah kekasih yang tak pernah mencinta, itu yang sudah lama aku sadari.

"Taukah kamu mengapa aku tak pernah mencintaimu?" katanya pelan, "Karena bagiku dengan segenap perasaan ini, kata cinta terlalu kecil untuk melukiskan rasanya padamu."

Entahlah. Aku pun tak mengerti. Kekasih si kekasih itupun pergi.

Senin, 15 Juni 2015

Curhatan di kala senja 2011 :)

Apa yang kupunya?
Ternyata memang aku tidak punya apa-apa, bahkan kepercayaan diripun tidak.
Tapi, aku punya semangat juang. Setidaknya itu yang bisa aku banggakan kan? :)

Dalam duniaku, untuk orang seperti diriku itu sama sekali tidak cocok. Aku bukan orang yang cekatan bahkan aku terlalu gugup untuk bicara banyak.

Berulangkali aku ingin menyerah karena aku merasa tidak pernah melakukan hal yang benar. Aku takut mencelakakan orang dan bukan menolongnya. :'(

Tapi, entah kenapa aku sadar bahwa aku suka dengan pekerjaanku. Aku suka menggendong bayi yang masih berbau ketuban itu.

Aku menjadi tambah bodoh :')

Kenapa aku jadi jatuh cinta pada pekerjaan ini?
Kenapa meski aku harus jatuh bangun, berlari-lari dan menahan tekanan aku malah tambah suka?

Aku harus banyak belajar dan berlatih. Bukan untuk siapa-siapa atau untuk apa-apa. Tapi, untuk diriku sendiri. :) Aku ingin membuktikan kepada diriku sendiri bahwa aku bisa bermanfaat untuk orang lain. Dan aku bukan pengecut. Akan aku tahan semua masa-masa sulit ini :) Walau harus dimarahi bahkan diinjak-injak aku tak masalah. Aku suka pekerjaanku. Aku bangga menjadi seorang bidan :)

Rabu, 20 Mei 2015

Pesona Bebek Kuning 2

Bebek kuning yang berada di pinggir danau menatap sedih. Air matanya mengalir pelan. Dia menangis. Tanpa diketahuinya, seekor angsa putih datang mendekat. Angsa putih itu melihatnya lekat-lekat. Dia terheran-heran untuk apa bebek kuning menangis.

"Kenapa kau menangis?" Angsa putih bertanya merdu.

"Kau indah sekali," jawab bebek kuning.

"Kau juga indah," angsa putih menjawab lagi, "Ohh.. sebentar! Apakah kau si bebek kuning yang mempesona yang namanya selalu diagung-agungkan oleh bebek lainnya?"

Bebek kuning tersenyum malu-malu, "Apa benar begitu?"

Angsa mengangguk pelan. Lehernya yang panjang membuatnya terlihat semakin menawan. Bebek kuning menunduk sedih.

"Kenapa kau selalu menunduk sedih seperti itu?" angsa bertanya pelan.

"Setiap sore aku kemari, menatap kalian para angsa yang berdua-dua. Saat aku melihat kalian entah mengapa hatiku menjadi sedih.", bebek kuning mulai terisak, "Akhir-akhir ini aku baru tersadar bahwa rupanya aku mulai jatuh cinta pada angsa. Tapi, aku tak berani mendekat. Saat kalian pergi, aku berjalan mendekati danau dan melihat ke airnya. Saat ku lihat diriku sendiri di atas air, entah mengapa hatiku hancur."

Angsa berpikir sejenak kemudian bertanya, "Mengapa kau jatuh cinta pada angsa? Tidak adakah bebek yang menarik perhatianmu?"

Bebek kuning tersenyum pilu, "Saat melihat bebek, aku seperti melihat diriku sendiri. Lemah dan tak menarik. Berbeda saat aku melihat kalian."

Angsa tersenyum, lalu mendorong kepalanya ke badan bebek kuning hingga bebek kuning terpaksa berjalan menuju danau. Saat bebek kuning sudah dekat sekali dengan danau, semua angsa menatapnya. Bebek kuning merasa seperti ingin ditelan bumi. Dia sangat malu.

"Itu si bebek kuning...." sahut angsa yang berada di tengah danau. Angsa lainnya pun menimpali. Beramai-ramai angsa itu memanggil bebek kuning. Bebek kuning terkejut karena semua angsa mengenalnya. Dia menatap heran angsa yang mendorongnya tadi.

"Kami semua mengenalmu karena kau adalah bebek kuning. Bebek yang selalu menjadi bahan pembicaraan bebek lainnya. Jangan merasa rendah diri, jika kau bukan bebek kuning dan kau adalah angsa maka kami semua tidak akan mengenalmu. Bersyukurlah dengan dirimu sendiri."

Selasa, 19 Mei 2015

Laki-laki ini

Laki-laki ini jatuh hati padamu,
Beberapa hari ini dia selalu memikirkanmu,
Tapi, kakinya melangkah malu-malu.

Laki-laki ini benar-benar mencintaimu,
Usahanya benar-benar dilakukannya untukmu,
Senyum kagumnya akan parasmu terlihat jelas.

Laki-laki ini menahan perasaannya untukmu,
Dikatakannya kau adalah rasanya yang sementara,
Meski pikirnya tak henti-henti membayangkan dirimu.

Laki-laki ini pada akhirnya menyadari sesuatu,
seorang perempuan mengusiknya, dan perempuan itu tertawa,
Pada kenyataan bahwa sang laki-laki telah jatuh hati padamu.
Bertanyalah laki-laki ini akan hatimu. Ah, si perempuan tidak bisa diandalkan untuk mencapai hatimu.

Laki-laki ini masih mengharapkanmu, meski dia tahu kau terlalu jauh untuk diraih. Tapi, siapa yang tahu masa depan? Mungkin saja di hari besok pintu hatimu terbuka untuknya.

Pesona Bebek Kuning

Bebek hijau datang, lehernya yang panjang membuatnya terlihat dari kejauhan. Bebek kuning tersenyum malu-malu. Matanya berbinar riang. Bebek hijau menyapanya dengan cinta. "kwek..kwek.." Bebek kuning membalikan badannya dan meninggalkan bebek hijau.

Bebek biru bersembunyi di balik ilalang. Dia melihat bebek kuning pergi meninggalkan bebek hijau. Karena senang dengan apa yang dilihatnya, berlarilah dia menghampiri bebek kuning. Tidak lupa dia mengambil cacing malang yang sedang menggeliat di depannya. Diserahkannya cacing itu pada bebek kuning. Bebek kuning mengambilnya dan menelannya. Suaranya lembut mengucapkan terima kasih pada bebek biru. Ah, si bebek biru tenggelam dalam bahagia.

Bebek merah dengan badannya yang besar dan paruhnya yang hitam menari di pinggir sungai. Dia menari indah sekali. Bebek kuning tersadar akan hal itu dan menghampirinya. Ditinggalkanlah dia, si bebek biru yang menatapnya penuh harap. 

Sadar dia mampu menarik perhatian bebek kuning, bebek merah menari dengan penuh semangat, kaki-kakinya yang bersirip melangkah bersilang-silang. Suara kweknya terdengar gahar. Namun, bebek kuning menghentikan langkahnya dan berbalik berjalan menghadap danau.

Di danau di depan sana, ada sekumpulan angsa putih sedang terbang. Lalu, hinggap di airnya dan mereka berdua-dua membentuk tanda cinta. Bebek kuning menatap dengan wajah sedih. Dilihatnya angsa putih di depan sedang mengaitkan hati. Ah, andai aku angsa putih. Begitu pikirnya.

Jam 3 di masa lalu

Bunga yang kau beri masih berwarna merah, wanginya masih bisa kucium. Tepat jam 3 sore kala itu kau memberikannya padaku,
"Bunga ini akan mudah layu, wanginya akan segera pergi dan aku tidak bisa berbuat apa-apa karena hal itu.", katamu, "Tapi, setidaknya kau bisa mengingatnya di dalam kenanganmu dan aku akan merasa sangat bahagia bila kau menjadikannya kenangan yang berharga."

Aku menatapmu. Wajahmu yang tersenyum penuh ketulusan membuat hatiku gemetar.

Tepat jam 3 di pagi buta itu, teleponku berdering.
"Sayang, sudahkah kau mencinta dengan Sang Maha Mencinta? Sudahkah kau mengucap ayat-ayat rindumu padaNya?" suaramu yang lembut bagai menari di telingaku.

Aku tersenyum. Hatiku kurasa luruh kembali.

Tepat jam 3 di kala sore yang lain, kau berbicara, "Aku akan pergi darimu meski hatiku tidak." Wajahmu sayu dan senyum indah itu hilang.

Aku menangis. Hatiku hancur.

Tepat jam 3 di pagi buta yang lain, aku merasa sangat sepi. Tangkai bunga yang sudah layu dan kering itu masih kusimpan.

Tepat jam 3 di sore yang cerah itu, aku sadar bahwa hatiku benar-benar telah kosong olehmu. Kau dimana? Apa kau bahagia di sana?

Jam 10 yang tak kusangka-sangka, ku terima surat itu, goresan tangan yang aku rindukan,
" Maafkan aku yang harus pergi. Maafkan aku yang meninggalkanmu. Kaulah yang paling mengerti perasaanku padamu. Jangan kau ragukan karena itulah yang sebenarnya sayang. Aku pergi karena duniaku sedang runtuh dan aku tak bisa lagi menatap matamu karena luka ini. Maafkan keegoisanku sayang. Maaf. Kau boleh percaya atau tidak. Tapi kaulah kenanganku yang paling berharga."

Aku menutup surat itu dengan perasaan kosong. Aku kenangan. Aku adalah kenangannya. Itu artinya, aku tidak akan pernah menjadi masa depannya.

Tepat jam 3 di tahun yang lain, seseorang mengatakan padaku, "Dia mencintaimu. Jangan kau ragukan itu. Tapi, bisakah kau percaya saja atas apa keputusannya?"

Aku percaya padamu. Tapi, hatiku tidak.

Kau menjadikanku kenanganmu. Maka itulah pula yang akan aku lakukan.

Senin, 18 Mei 2015

Suara

Suara yang indah itu muncul
Tatkala pagi, siang ataupun malam

Suara yang indah itu disertai
senyum lega dari calon bapak dan ibumu

Suara yang indah itu menghapuskan
keringat dan lelah kami

Suara yang indah itu mengingatkan
bahwa kau telah lahir, sebagai individu baru
Harapan baru

Suara yang indah itu, lengkungan tinggimu, membuat aku merasa lega dan bangga

Tangisanmu wahai adik bayi

Membuat aku bersyukur atas hidup ini

Rindu

Saat kami tertawa dunia serasa milik kami.

Tugas kami berat, tuntutan pekerjaan kami juga bukan main-main. Tapi, aku heran kenapa kami bisa tidak depresi walaupun kami setiap hari berhadapan dengan maut.

Jihadnya seorang wanita. Sakit yang 1000 kali lebih sakit.

Aku tersenyum. Bila kesabaran ada habisnya untuk manusia, maka kami harus melepas kemanusiaan kami demi nama pelayanan.

Ah, tugas yang berat ini. Aku menikmatinya. Pun denganmu. Kita bercanda tentang hal-hal yang aneh. Dan aku lupa akan segala tuntutan yang berat di depan kita. Kitalah bidan. Sang penerima kehidupan. Begitu katamu.

Aku merindukanmu sahabatku

Langit

Dalam dunia bisnis tidak ada yang lain selain untung dan rugi
Ketulusan yang dulu kupercayai, perlahan mulai hilang

Hujan yang jatuh dari langit itu mengenaimu. Kamu melihat ke atas dan malah tersenyum. Langit menyapa. Begitu pikirmu.
Di depanmu ada banyak orang. Tapi kau tetap merasa kesepian. Ada apa sayang?

Seorang teman datang dan memberikan bahunya untukmu bersandar. Kau hanya tersenyum, malah kau berbaring di rerumputan. Langit. Itulah yang kau pandangi.

Kau pikir semua ini tentang satu. Ternyata tentang banyak hal. Kau menertawai dirimu sendiri karena kau rasa kau bodoh. Bagaimana kau percaya hal-hal itu? Ah, rumput bergoyang yang mulai berisik.

Kau mulai bertanya-tanya apa kau benar keras kepala atau hanya mempertahankan ego?

Pada akhirnya kau menatap ke atas. Lagi. Langit itu luas. Begitu pula dengan dunia. Hukum ketetapan yang dulu kau ragukan. Sekarang mulai kau pelajari lagi. Alkimia.

kenyataan yang membuat aku tertawa

saat aku melihatnya aku teringat akan diriku dulu
ketika aku masih hijau
ketika kau bisa aku perjuangkan
ketika aku menangis karena hatiku telah tercuri olehmu
dan ketika aku bingung karena aku kehilangan separuh hati

Aku agak sedikit kesal, padanya karena seolah tidak mau memperjuangkan bunganya
tapi aku juga mengerti bahwa bunga yang tumbuh di tanah yang tidak tepat tidak bisa dipelihara

Dia bilang itu belum bunga, masih benih yang ia simpan, dan dia menyerahkannya pada sang waktu,
akankah benih itu mekar ataukah layu?

Ah ini yang tidak aku mengerti

Sabtu, 16 Mei 2015

Rupa malam

Dalam rupa malam aku bicara
tentang langit, pohon, dan air

Apa yang bisa digapai oleh tangan kecil ini?
Ketika langit terlalu tinggi,
Pohon terlalu besar,
Dan air terlalu jernih

Namun ketika aku menutup mata
Langit tak terlalu tinggi, dan seakan aku menjadi satu dengan bintang

Bila benar aku kecil karena aku yang menginginkannya
Bolehkah kubuang diriku?
Karena aku ingin menyelam di air yang jernih itu

Dia

Semua tentangmu membuatku berpikir tentang masa lalu. Tentang cerita yang agaknya milik kita. Atau hanya sekadar milikku sendiri.

Aku bahagia saat kau bahagia. Kata-kata itu yang terus kukatakan pada diriku sendiri. Tapi, ternyata aku sadar. Aku tidak tulus mengatakannya. Kata-kata itu adalah kata-kata yang menghiburku, membuatku merasa yakin bahwa aku tidak terluka karena mencintaimu. Kata-kata itu adalah keegoisanku yang paling nyata.

Dan barangkali sekarang saat melihatmu bahagia, aku tersenyum meski hatiku masih menangis. Aku merindukanmu.

Jumat, 15 Mei 2015

Angin dingin

Angin dingin di pegunungan, membisikan suara-suara

Bagi dia yg hatinya lemah, menciutkan nyali untuk terus melangkah
Bagi dia yg menghela rindu, membakar semangat untuk bisa bertemu

Dan bagiku adalah pengalaman yg baru

Angin dingin di pegunungan, seakan mengusikku

Untuk apa aku berada di sini? jauh dari rumah dan keluargaku

Angin dingin di pegunungan, benar-benar menggodaku

Saat kulihat kawan yang berlarian kesana kemari bagai ingin memeluknya namun malah menepisnya

Angin dingin di pegunungan, membuatku merasa malu
Akan keberaniannya menari dan menghampiri si gunung yang gagah

Pada akhirnya, angin dingin di pegunungan membuatku ingat
Akan malam-malam itu
Malam dikala aku menjadi orang yang baru

Senin, 27 April 2015

Tak beralasan

Aku menentukan nilai untuk diriku sendiri. Terlepas dari nilai orang lain. Ketika aku dicerca, disindir, atau diremehkan bohong kalau bilang tidak sakit hati.

Aku temukan kebahagiaan itu di hatiku. Terlepas dari tekanan dan pandangan orang lain. Pernah sekali aku berpikir mengapa jalan pikiranku berbeda? Apa aku memang telah menyerah dari nilai yang telah ditentukan orang lain?

Aku masih muda, tidak perlu merisaukan banyak hal. Hanya terus berusaha meski terus gagal. Berjalan dengan kecepatanku sendiri. Menuju tujuanku sendiri.

Mimpiku tidak besar menurut orang lain. Bukan karena aku takut bermimpi. Hanya saja aku tidak ingin direpotkan banyak hal.

Saat menulis ini aku bertanya-tanya apakah aku sepengecut itu? Mau jadi apa aku nanti?

Kamis, 23 April 2015

Aneh

Sepoi-sepoi angin di luar. Di atasku bintang-bintang itu masih bersinar terang. Tapi, sekarang berbeda. Di bawahku ada pula bintang-bintang kecil. Ya, aku ada di ketinggian 1726 mdpl. Cita-cita yang telah lama ku ingini. Sedikit lebih dekat dengan sang langit.

Aku bahagia. Senyum di wajahku belum bisa hilang sedari tadi. Tapi, aku merasa ada yang aneh dengan diriku. Hatiku ku rasa kosong. Entahlah. Apa yang telah terjadi?

Selasa, 17 Maret 2015

Cuma bisa bilang Good Bye





Dalam syair duka, aku bahagia….
Dalam syair bahagia, aku berduka..

Ketika sebuah kata bersambung dengan kata yang lain,
Membentuk sebuah susunan kata yang lembut,
terdapat kata-kata duka…
seolah dunia tak lagi berputar…
dan bunga tak lagi mekar….

Tapi, relung hatiku merasa lega, lagi bahagia…
Ia tersenyum ceria,
Menguratkan cerita suka penyejuk jiwa…
Tanpa terseduh, tanpa terisak….

Tak ada yang memahami..
Ketika persoalan ada di dalam hati,
Yang ditanya ketika apa yang diyakini,
Dan seolah tak ada lagi..

Kisah duka itu,
Hanya ada di matamu,
Bayangmu dan dalam mimpimu…

Di dalam hatiku tak ada,
Bahkan tak tersirat…
Lalu, syair yang lain menuliskan cerita suka,
Seolah ia pembangkit semangat membara…
Sedang  padaku ia terbaca seperti sakit dan juga ‘ketergantungan’
Karena ia tak ada lagi..

Memang begini, ketika sebuah kata tertulis sama tapi berarti beda..

Ketika ia datang, kau sambut ia dengan senyuman…
Namun, ketika ia datang padaku, ku sambut ia dengan tangisan…

Ini fitrahku sebagai seorang perempuan,
Yang hatinya tercipta begitu peka pada apa yang terjadi…
Dan oleh karena itulah, aku memilih jalan ini yang kau anggap kuno lagi ‘berani’…..

Terima kasih atas syairmu yang begitu mesra namun menusuk hatiku..

Ini  jalanku, dan itulah jalanmu………..

Hati-hati

Wahai hatiku yang mulai kosong..
Apa kabarmu?
Apa kau sedang menangis?
Ataukah kau bahagia?
Akhir-akhir ini aku bahkan tak mampu jujur padamu,
Aku terlalu takut,
Pada semua hal,
Hingga mulutku terkunci rapat
Ketika aku ingat hari-hari lalu,
Aku menyesal,
Andai aku punya keberanian sedikit,
Bukan..
Bukan untuk siapa-siapa,
Atau untuk apa-apa,
Tapi, untukmu sendiri...
Untuk hatiku sendiri..
Jika pada diri sendiri aku tak bisa jujur, maka apa yang aku punyai?
Aku akan menjadi tak bernilai..
Aku akan hilang...
Bisakah aku menjadi orang yang berani?
Wahai hatiku,
Pinjamilah aku kekuatanmu...
Basahilah mata ini lagi..
Buatlah nafasku sesak lagi..
Getarkanlah badan ini lagi..
Aku ingin merasa kau tidak meninggalkanku..
Aku ingin merasa aku masih punya hati..
Aku ingin merasa cinta..
Tapi ketakutan menaungiku..
Ada yang bilang takut akan menyelamatkanmu...
Yang aku rasa ketakutanku tak menaungiku..
Ia menguasaiku..
Hingga aku tak bisa merasa selainnya..
Wahai hatiku,
Jadilah berani..
Bukakanlah pintumu..
Kau adalah tempat untuk merasa..
Takut, sakit, putus asa, bahagia, haru, dan cinta..
Semua adalah bagianmu..
Nikmatilah..
Janganlah merasa ragu pada dirimu sendiri..
Berdirilah..
Ambilah resiko itu sebanyak mungkin..
Nikmatilah segala rasa yang memang fitrahmu untuk kau rasai..
Dan tetaplah menjadi hati yang jujur..
***********

Minggu, 08 Maret 2015

Si daun yang membuat takjub

Aku memandang daun yang jatuh itu. Ingin kuambil lalu kubuang. Tapi, apa ini? Daunnya berakar. Ah, inilah dia, daun cocor bebek. Tanaman yang mampu bertunas dengan daunnya. Meskipun daunnya terlihat biasa tapi dia adalah tunas yang akan mengembangkan hidupnya sendiri saat sudah terjatuh. Mandiri ya?
*****************
Indah sekali. Dia berwarna-warni. Dia gugur pada saat musim gugur. Dia hidup di daerah subtropis. Aku rasa dia akan mampu membuat orang jatuh cinta saat pertama kali melihatnya. Meskipun begitu, dia terkadang memenuhi jalan-jalan sehingga susah untuk dilalui. Tapi, tak ada seorang manusia pun yang marah akan hal itu. Karena dia indah sekali. Ah, mari kuperkenalkan, inilah dia pohon mapple. Dengan daun yang berwarna-warni dia mempesona musim gugur.
*****************
Aku ingin jadi seindah daun mapple dan semandiri daun cocor bebek bisa nggak ya? Kamu ingin juga nggak?
Hehehee :)
**********
Add caption

Sabtu, 07 Maret 2015

Rumah yang tak bernama

Wajah Fitri seperti ketakutan. Matanya merah dan berair. Bibirnya bergetar. "Aku tahu maksudnya!" katanya kelewat keras. Aku menatap Putri yang memboncengku. Ekspresi wajahnya sama dengan Fitri. Ketakutan. Putri mengangguk padaku dan berkata, "Aku juga tahu maksudnya!". Seketika kami bertujuh bergerak sesuai insting kami. Berlari. Menjauh dari tempat itu.

Sekelebat bayangan sosok itu muncul. Bajunya panjang, berwana putih kusam dan lusuh. Menatap kami dari belakang dengan tatapan sedih dan marah. Seolah berkata jangan ganggu rumahku.

***********

Kami mengikuti bapak yang memakai motor itu pelan-pelan. "Nggak jauh kok mbak", begitu katanya meyakinkan.
Aku memandang Mula yang naik motor di belakangku. Alis matanya dinaikan seakan mengatakan udah ikutin aja. Aku mengangguk menurut pada Mula.

Tapi, ini agak aneh. Ini lumayan jauh lho dari kampus baru kita, begitu pikirku. Ah, segera kubuang pikiran itu. Aku mencoba menikmati jalanan yang kami lewati. Jalanan ini jalanan pedesaan dengan hamparan sawah yang berada di kiri dan kanannya. Tanaman padi di sawah-sawah itu sedang hijau-hijaunya yang menyiratkan bahwa baru saja habis di tanam. "Bagus ya, Nit. Jadi sejuk gitu ngeliat yang ijo-ijo." Rini yang memboncengku bicara agak berteriak. "Iya, Rin. Tapi, le ngomong ra sah seru-seru!" kataku sambil memukul helmnya.
Dia kaget, "Aduh, Nita ki!" katanya sambil mengelus helmnya. "Tapi, aku jadi inget lho, dulu pas aku dateng dari Jambi terus ke Tempel ya sawah yang ijo kayak ginilah yang bikin aku seneng!" sambungnya. Aku mengangguk-angguk saja mendengar Rini bercerita. Iya, sawah yang hijau memang pemandangan yang indah.

Tak beberapa lama daerah yang kami lewati berubah menjadi pemukiman warga. Pemukiman ini sepi, tapi mungkin itu karena sekarang sedang siang hari jadi banyak warga yang masih pergi bekerja. Aku melihat bapak pemilik rumah kontrakan yang terus mengendarai motor di depan kami. "Rin, dimana sih rumah kontrakannya? Kok jauh banget? Ini sepi lho jalanan sama pemukimannya." aku bertanya pada Rini sambil memperhatikan sekelilingku. "Sabar to, Nit." Dia menjawab sambil mengaca di kaca Spion motor. "Rin, spion buat ngeliat belakang. Bukan buat ngaca!" kataku sedikit kesal. Dia hanya tersenyum dan biasanya setelah ditegur gini dia malah jadi semakin sering ngaca. Ngeselin. Tapi itulah Rini, temanku yang memiliki tingkat narsis yang tinggi. Jangankan spion yang dipake buat ngaca, di kamar kosnya pun, kalau ngga ada yang memperhatikan, dia sering ngobrol sendiri di depan kaca sambil mengagumi kecantikannya sendiri. Wkwkwkwk. Aku cuma bisa tepok jidat.

Di ujung jalan desa, bapak pemilik rumah kontrakan belok ke kiri dan berhenti tepat setelah rumah ketiga dari jalan utama desa. Eh, udah sampe?, pikirku. Rini menghentikan motornya sambil berkata ,"Rumahnya bagus, Nit." Aku memperhatikan rumah itu. Rumah ini bertingkat dua. Catnya berwarna pink pudar. Keramiknya berwarna putih seharusnya, tapi karena kotor jadi terlihat cokelat. Ada sebuah bangku bambu di teras rumah. Bangku bambu itu diletakan miring menghadap ke pojok. Kesan pertamaku tentang rumah ini adalah rumah yang sudah lama tidak ditinggali, rumah yang terlantar. "Sebentar ya mbak. Tak ambil kunci." kata bapak itu. Rini mengangguk.

"Rumahnya bagus ya." kata Mula yang baru saja memakirkan motornya. "Tapi, agak jauh dari kampus ya. Kalo harganya cocok, oke aja gimana?" katanya lagi. Rini memakirkan motornya di dekat motor Mula dan berjalan mendekat ke rumah itu. Aku memperhatikan sekeliling rumah itu. Di depan rumah ini ada sebuah jalan kecil yang kami lewati tadi, lalu lebih jauh lagi ada ladang jagung yang luas. Rumah di sebelah kiri dan kanan rumah ini berjarak agak jauh. Khas rumah di pedesaan. "Lihat dalamnya dulu." kata Mula lagi. Bapak pemilik rumah kontrakan berjalan mendekati kami sambil membawa kunci, di belakangnya ada ibu-ibu yang tersenyum pada kami, "Cari rumah kontrakan ya mba? Di sini aja kan ngga begitu jauh dari kampus," katanya. Kami hanya tersenyum menanggapi ibu itu. Tidak begitu jauh dari kampus? Menurutku ini lumayan jauh lho, Bu! Bapak pemilik rumah kontrakan membuka pintu dan mempersilakan kami masuk, "Ada tujuh kamar mba. Di bawah tiga, di lantai dua ada empat kamar." katanya. Aku, Rini dan Mula masuk. Bau apek langsung menyerang kami. Ruangan yang pertama kami masuki adalah ruang tamu. Ada perabotan dan kursi di ruangan ini. Semuanya tidak ditutup kain putih jadi banyak sekali debu di kursi dan perabotan itu. "Gelap ya pak" kata Mula lagi. Bapak itu langsung menyalakan senter yang dibawanya, "Iya, Mbak. Listriknya mati." katanya.

Aku dan Rini berjalan ke pintu di samping kiri ruang tamu dan mencoba membuka pintu kamarnya. "Nggak di kunci kok, Mbak," Bapak itu mengagetkan kami. Kami masuk ke kamar itu. Kamar ini penuh debu, kotor, dan kosong. "Besar ya kamarnya," kata Rini sambil mengangguk-angguk sedikit mirip orang India. "Iya" aku menanggapi sambil berjalan ke luar kamar. Di luar, Mula sedang berada di ruang tengah. Di ujung kanan ruang tengah, ada sebuah tangga yang menghubungkan lantai satu dan dua, di bawah tangga itu ada sebuah lemari besar. Tepat di dekat anak tangga terbawah ada sebuah kamar lagi. Mula mendekatinya dan mau membuka pintunya. "Kamar yang itu dikunci, Mba. Kalau mau lihat, lihat kamar ini aja ya." kata Bapak itu sambil mengarahkan senternya menuju kamar di sebelah kamar yang aku dan Rini masuki tadi. "Kok dikunci?" aku berbisik pada Mula, "Yang lain kan nggak dikunci.". Mula hanya menatapku tajam.

Mula berjalan mengikuti bapak itu. Aku dan Rini berjalan menuju ruangan lain di belakang ruang tengah. Ruangan ini kecil tapi panjang. Di sebelah kanan ruangan ini ada sebuah meja. Di atas meja ada banyak piring, gelas, dan sendok yang berantakan, seolah ditinggal begitu saja oleh pemiliknya. Aku merasa ada yang aneh. Kenapa semuanya seolah tidak sengaja ditinggalkan? Sepertinya penghuni sebelumnya begitu terburu-buru meninggalkan rumah ini sampai tidak sempat dirapikan, pikirku. Di ujung lain ruangan ini, ada sebuah kamar mandi. Kamar mandi ini kecil dan sangat bau. Rini menutup hidungnya sampai hidungnya berwarna merah.

"Ayo lihat lantai dua, Mbak." bapak itu berkata sambil menaiki anak tangga. Mula, Rini, dan aku mengikutinya dari belakang. Saat menaiki tangga, entah kenapa kulitku terasa menegang. Bulu kudukku berdiri. Aku merinding.

Lantai dua ini agak terang karena bagian belakangnya terbuka sehingga sinar matahari bisa masuk walau sedikit. Meskipun begitu, ruangan di depannya tetap gelap. Aku menerka-nerka apa yang ada di ruangan itu. "Nanti bagian belakang ini akan ditutup, Mbak. Kita akan bangun tembok," kata bapak itu sambil berjalan, "Sekarang kita lihat kamar lain...." perkataan bapak itu terpotong karena ada suara seperti kepakan sayap di atas kami. Kami kaget dan menatap ke atas. Aneh. Tidak ada apa-apa, pikirku. Aku menatap Mula dan Rini. Ekspresi mereka berdua sama. Heran. "Oh iya, Pak. Ayo lihat kamar lainnya" kata Mula mengembalikan suasana yang aneh tadi. "I..ya..." kata Rini terbata. Belum ada dua langkah kami berjalan, suara kepakan sayap itu muncul lagi. Bapak itu langsung mengarahkan senternya ke atas. Sebelum kami sadar apa yang terjadi, puluhan makhluk seperti burung terbang ke arah kami. Mata mereka merah. Mereka terbang ke luar rumah. Beberapa terbang terlalu rendah hingga terlihat hampir menabrak kepala Mula dan Rini. Aku kaget dan hampir berteriak. Tapi, segera kututup mulutku. Ini kelelawar! Mereka banyak sekali. Aku merinding.

"Ada yang menabrak kepalaku!" Rini berteriak. Aneh. Tidak mungkin kelelawar menabrak sesuatu! Yang menabrak kepala Rini pasti bukan kelelawar! Tapi, apa? Aku menatap Rini heran. "Sakit, Nit." katanya sambil memegang kepalanya.

"Maaf ya, Mbak. Rumah ini sudah lama ditinggalkan. Jadi, nggak keurus. Eh, malah jadi sarang kelelawar juga. Besok saya janji saya bersihkan, Mbak." bapak itu menggelengkan kepalanya. Sepertinya dia juga tidak menduga akan terjadi hal seperti ini. Mula, Rini, dan aku tidak menanggapi. Kami diam. Aku merasa perlu mengendalikan tubuhku. Nafasku terengah-engah. Lututku gemetaran. Perasaanku berdesir aneh. Ada sesuatu yang lain. Tapi apa?

"Besok kami datang lagi ya, Pak. Kami besok bawa teman kami yang lain yang mau ngontrak juga." Mula berkata sesaat setelah kami berada di luar rumah. Bapak itu mengangguk. Rini dan aku berjalan menuju motor kami. "Kami pamit dulu ya, Pak. Terima kasih sebelumnya." kata Rini sambil menyalakan motornya.

*************

Jam sudah menunjukan pukul lima sore. Kami bertujuh menyalakan motor kami. Ada empat motor. Aku boncengan dengan Putri, Mula dengan Mona, Tyas dengan Mbak Titik, dan Fitri berkendara sendiri. "Ayo, jangan lama-lama. Udah sore ini." Fitri berkata sambil menatap Mula. "Rini ndi?" kata Tyas medhok. "Nggak ikut, ada tugas." aku menanggapi santai.
"Tyas, kakimu nggak apa-apa? Kamu kan kemarin baru aja jatuh dari motor?" kata Mona sambil menunjuk kaki Tyas. "Halah, wes rapopo." Mbak Titik menimpali Mona dengan gaya khasnya. Cuek. Tyas hanya tersenyum dan menggeleng.
Lalu, kami berkendara menuju rumah itu dan sekali lagi. Perasaanku berdesir aneh.

**************

"Jauh amat Mul!" Fitri mendekati motor Mula. "Alamak kalau jauh kayak gini aku nggak mau deh!" katanya lagi ketus. Mula hanya menatapnya sambil tersenyum. Matahari sudah hampir tenggelam di ufuk barat, suasana mulai gelap. Jalanan dan pemukiman yang kami lewati kemarin terasa lebih sepi. Perasaanku berdesir aneh lagi.

Tak beberapa lama, kami sampai di rumah itu. Wajah Fitri terlihat kaget, "Ini rumahnya???!" katanya hampir seperti membentak. Aku mengangguk. Rumah itu masih sama seperti kemarin. Tapi, entah kenapa auranya terasa berbeda. Terasa lebih menakutkan.

"Kok serem?" tanya Tyas.

Aku hanya diam dan menatap Mula, "Inikan mau Magrib. Suasananya pas buat yang serem-serem." katanya sambil memainkan HPnya, "Nggak serem kok."

Putri berbisik kepadaku, "Tante Ita..... Rumahnya serem lho! Kalian yakin mau ngontrak di sini?". Aku memandang Putri ragu, "Nggak tahu, Put. Kalo yang lain setuju, aku ikut aja.".

"Itu orang yang punya rumah??" Mona menunjuk seorang ibu-ibu yang berjalan mendekati kami. Aku menggeleng. Bukan. Itu bukan ibu-ibu yang kemarin. Tapi, siapa dia? Ibu-ibu itu berjalan seperti tergesa-gesa dan dia mengeluarkan suara yang aneh. Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Suaranya terdengar seperti "e..gi..." katanya berulang sambil mengibaskan tangan kanannya, seperti menyuruh kami pergi.

"Ibu, kami mau lihat sebentar. Kami yang mau ngontrak rumah." kataku pelan. Tapi, ibu itu terus mengibaskan tangannya dan berkata "e..gi...". Dia terus melakukan itu. Membuat kami bingung. Pergi? Kami diusir? Belakangan kami paham kalau ibu itu tunawicara.
Mata ibu itu berubah jadi merah, mungkin dia frustasi karena kami tidak paham apa maksud perkataannya. Lalu dia, menyilangkan tangan kanannya di pergelangan tangan kirinya. Dia juga menunjuk-nunjuk rumah itu. Kami jadi makin bingung. Dia mengulanginya lagi, menyilangkan tangan kanannya di pergelangan kirinya. Menunjuk-nunjuk rumah itu. Lalu, dia menggerakan tangan kanannya dari arah atas ke bawah. Kami masih tidak paham.

Tiba-tiba Fitri menengok menatapku dan Putri yang dibelakangnya. "Aku tahu maksudnya!" katanya. Aku mengangguk pada Fitri. Putri juga mengangguk, "Aku juga tahu!"
Seketika dengan gerakan sangat cepat Fitri membelokkan motornya, Putri juga melakukannya. Aku yang dibonceng Putri hampir jatuh saking kagetnya. Fitri dan Putri menyalakan motornya dan segera pergi dari situ. Aku melihat Mula yang masih main HP sementara Mona menarik-narik lengan Mula menyuruh cepat pergi dari rumah itu. Sementara itu, Mbak Titik berlari meninggalkan motornya dan mengejar kami. Tyas dengan kakinya yang terluka tertatih-tatih menuntun motor yang ditinggalkan Mbak Titik. "Mbak, iki motore piye?" Tyas berteriak. Aku tidak bisa menahan ketawa melihat refleks Mbak Titik yang aneh.

******************

"Bunuh dirikan……?" kata Putri pelan setelah kami sampai di kos kami. Aku mengangguk, "Kalo dari isyarat ibu yang tadi sih iya."

Fitri masih shock. Dia marah-marah pada Mula, "Jangan rumah itu! Kalau mau ngontrak di sana, aku nggak ikut!"

Mula menatap Fitri dengan tatapan kosong. Dia masih loading dengan apa yang terjadi, "Emang ada apa sih?" tanyanya datar.
Mona saking gemesnya mencubit lengan Mula, "Makanya jangan main HP terus! Tadi kamu ngga lihat ibu itu ngapain? Dia itu ngisyaratin ada yang pernah bunuh diri di rumah itu."

"Terus..?" tanya Mula lagi.

"Mula!" kata Fitri hampir membentak, "Rumah bekas orang bunuh diri dan ngga keurus kayak gitu. Kamu mau tinggal disana?"

Mula menggeleng. Dan kami pun akhirnya harus mencari rumah baru lagi untuk dikontrak.

**************

Selesai.

*************

Hahahahaha.. Akhir ceritanya aneh ya? Agak maksa nggak? Tapi, sebenernya ini kisah nyata lho! Ini aku alamin sendiri sama temen-temen. Emang bener kok rumah itu keliatan serem banget. Ditambah ibu-ibu yang tunawicara itu. Isyarat ibu itu yang nyuruh kita pergi dan nggak tinggal di situ itu W.O.W banget. Walaupun kami ngga tahu kebenaran cerita ibu itu yang bilang ada yang pernah bunuh diri di sana, tetep aja kami nggak jadi ngontrak di sana. Soalnya udah takut duluan. Hehehehe
Padahal bapak pemilik rumah itu telpon kami dan ngerayu-rayu lho, tapi berhubung kami sok tahu dan sok ngerasa kalau rumah itu berhantu tetep aja kami ogah. Hehehehe

Dari cerita ini sebenernya aku mikir, betapa hebatnya sugesti itu. Sugesti ternyata mampu mengontrol sikap dan tindakan kita pada sesuatu. Sugesti yang negatif pada sesuatu membuat kita cenderung bersikap dan bertindak negatif pula. Padahal kan ngga semuanya sugesti atau -hal yang kita dengar- benar. :)

*************

Selasa, 03 Maret 2015

Si kesayangan

Sesederhana itulah. Baju yang ia kenakan berwarna abu-abu. Kusam seperti wajahnya. Celananya yang setengah lutut itupun lusuh. Penampilannya acak-acakan. Giginya kuning, matanya merah. Sepertinya tak ada yang menarik darinya untuk dilihat. Namun, apa itu yang merekah di wajahnya? Yang membuatku ikut menarik bibirku ke samping kiri dan kanan? Ah, benar, senyumnya yang lebar dan ketawanya yang lepas ternyata mampu membuang semua 'standarku' yang aku cap menarik. Iya. Sesederhana itu dia.
^^
Hari ini keindahan di senyumnya hilang. Dia menurunkan bibirnya. Dia cemberut. Matanya tetap merah. Tapi, kini air mata pun membanjiri mata itu. Ada apa sayang? Ujarku dalam hati. Kenapa kau menangis? Dimana senyumanmu yang aku rindukan itu? Dan kau berjalan tergesa, hampir tersandung. Lalu, pergi.
^^
Aku keluar dari zona amanku. Tak lagi jadi pengamat pasif. Aku berusaha keluar dari rumahku dan menengok kemana si kesayanganku pergi. Ah, dia mengejar laki-laki yang agaknya menjadi sumber kebahagiannya. Ujarku. Pikirku. Laki-laki itupun tak kalah lusuhnya dengan kesayanganku. Dia mendorong sepeda yang agaknya sudah tua, karena kudengar decit-mendecit di bagian sana sini.
Kesayanganku berteriak parau, "Tolong.....". Seketika laki-laki itu, berbalik, menatap kesayanganku dengan tatapan yang lembut. Dia merogoh saku di belakang celananya yang sudah tak jelas warnanya itu dan mengeluarkan sesuatu yang bulat dan berwarna menarik. Aku jamin pasti rasanya manis. Pikirku.
Seketika itu pula, kesayanganku mengeluarkan keindahan di wajahnya yang aku nanti-nanti. Ia tersenyum lalu berlari mendekati laki-laki itu dan meraih sesuatu yang bulat itu.
^^
Ah, inilah dia. Permen. Barang yang tidak ada seberapanya pikirku. Tapi mampu membuat kesayanganku kembali tersenyum. Aku bertanya-tanya, apakah dia menangis tadi karena permen ini pula?
Inilah dia kesayanganku. Sederhana namun indah. Nyatanya apa yang membuat dia bersedih dan tersenyum adalah hal yang menurutku kecil. Dari sini aku berpikir, apa yang mampu kita beri pada orang lain, walau sekecil apapun itu nyatanya bisa menjadi besar, dan hal yang tak kita duga ternyata juga bisa begitu menyakitkan di hati orang lain.
Kehidupan sosial itu sulit. Tapi, manusia tidak bisa hidup sendiri.
Dan sekali lagi. Bahagia itu sederhana sekali.

Bintang itu



Di langit di atas sana ada ribuan bintang yang memancarkan cahayanya. Meski serupa tapi tak sama. Tidak mau kalah, di bawah sinipun ada seseorang yang terus melihat ke atas. Mengamati dan menebak-nebak bintang mana yang paling indah.

 ~~~~````~~~~````~~~~


Bintang yang bersinar di dekat bulan itu terlihat kecil. Namun ia terlihat cantik. Dibandingkan bulan ia tidak ada apa-apanya. Tapi, melihat dia yang memancarkan cahaya dengan caranya sendiri pun terlihat indah dan elegan. Iya. Inilah dia bintang yang selalu berada di dekat sang bulan. Tanpa takut terkalahkan dengan keanggunan sang bulan, ia memancarkan cahayanya sendiri.
Di ujung langit malam itupun, di ujung penglihatanku, ada bintang yang bersinar redup-redup. Seakan tidak yakin apakah akan ada seseorang yang melihatnya dari bawah sini. Namun, hei, lihatlah lebih jauh lagi, bintang itu dengan keberaniannya sendiri, meski jauh, meski terpisah dengan teman-temannya tetap memancarkan cahaya yang indah. Berbeda tapi cantik.

~~~~````~~~~````~~~~

         
 Malam ini aku berpikir, seandainya bintang-bintang itu memiliki rasa. Dan bagi mereka ada persaingan untuk selalu menjadi bintang yang terindah di langit malam. Apakah yang akan terjadi? Aku bertanya-tanya, apakah yang akan mereka lakukan? Apakah bintang yang di ujung langit malam, yang bersinar redup-redup itu, akan memiliki keberanian untuk menantang bintang yang bersinar terang di dekat sang rembulan? Aahhh... Dalam hidup manusia pun akan seperti ini. Semua orang berlomba-lomba untuk berlari paling cepat, dan siapapun yang terlebih dahulu sampai di garis finish dialah yang dikatakan 'menang'. Aku tidak benci persaingan, karena sebenarnya persaingan yang sehat itu baik, yang aku tidak suka adalah pelabelan bahwa dia yang menang, dia yang terlebih dahulu mencapai garis finish adalah dia yang segala-galanya. Tidak begitu, menurutku. Bahkan di langit malampun, kau bisa berkaca, lihatlah bintang-bintang itu, meski dia memancarkan sinar yang berbeda, tapi mereka bersama-sama membuat keindahan di langit malam yang sering membuat takjub. Yah, percayalah pada dirimu sendiri. Meski kau gagal kali ini, percayalah suatu saat akan tiba waktunya kau akan tersenyum. Bahagia itu sederhana kawan. Jangan paksakan dirimu untuk tidak menjadi dirimu sendiri. Bahagia itu kau yang menentukan. Sama dengan bintang itu yang memancarkan cahaya dengan caranya sendiri. Dan mereka yang membuat indah sang malam. :)