Tampilkan postingan dengan label senyum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label senyum. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Maret 2015

Si kesayangan

Sesederhana itulah. Baju yang ia kenakan berwarna abu-abu. Kusam seperti wajahnya. Celananya yang setengah lutut itupun lusuh. Penampilannya acak-acakan. Giginya kuning, matanya merah. Sepertinya tak ada yang menarik darinya untuk dilihat. Namun, apa itu yang merekah di wajahnya? Yang membuatku ikut menarik bibirku ke samping kiri dan kanan? Ah, benar, senyumnya yang lebar dan ketawanya yang lepas ternyata mampu membuang semua 'standarku' yang aku cap menarik. Iya. Sesederhana itu dia.
^^
Hari ini keindahan di senyumnya hilang. Dia menurunkan bibirnya. Dia cemberut. Matanya tetap merah. Tapi, kini air mata pun membanjiri mata itu. Ada apa sayang? Ujarku dalam hati. Kenapa kau menangis? Dimana senyumanmu yang aku rindukan itu? Dan kau berjalan tergesa, hampir tersandung. Lalu, pergi.
^^
Aku keluar dari zona amanku. Tak lagi jadi pengamat pasif. Aku berusaha keluar dari rumahku dan menengok kemana si kesayanganku pergi. Ah, dia mengejar laki-laki yang agaknya menjadi sumber kebahagiannya. Ujarku. Pikirku. Laki-laki itupun tak kalah lusuhnya dengan kesayanganku. Dia mendorong sepeda yang agaknya sudah tua, karena kudengar decit-mendecit di bagian sana sini.
Kesayanganku berteriak parau, "Tolong.....". Seketika laki-laki itu, berbalik, menatap kesayanganku dengan tatapan yang lembut. Dia merogoh saku di belakang celananya yang sudah tak jelas warnanya itu dan mengeluarkan sesuatu yang bulat dan berwarna menarik. Aku jamin pasti rasanya manis. Pikirku.
Seketika itu pula, kesayanganku mengeluarkan keindahan di wajahnya yang aku nanti-nanti. Ia tersenyum lalu berlari mendekati laki-laki itu dan meraih sesuatu yang bulat itu.
^^
Ah, inilah dia. Permen. Barang yang tidak ada seberapanya pikirku. Tapi mampu membuat kesayanganku kembali tersenyum. Aku bertanya-tanya, apakah dia menangis tadi karena permen ini pula?
Inilah dia kesayanganku. Sederhana namun indah. Nyatanya apa yang membuat dia bersedih dan tersenyum adalah hal yang menurutku kecil. Dari sini aku berpikir, apa yang mampu kita beri pada orang lain, walau sekecil apapun itu nyatanya bisa menjadi besar, dan hal yang tak kita duga ternyata juga bisa begitu menyakitkan di hati orang lain.
Kehidupan sosial itu sulit. Tapi, manusia tidak bisa hidup sendiri.
Dan sekali lagi. Bahagia itu sederhana sekali.