Mataku bengkak, tubuhku lemas. Sudah satu jam aku menangis. Tapi,
sepertinya hatiku masih merasa sakit. Ku tarik nafasku dan akupun mendesah
panjang. Ku pandang lantai di depanku. Kosong, hitam, dan kotor. Aku bergidik.
Lalu, tiba-tiba ku dengar suara….
“Apa benar aku adalah orang seperti yang dia katakan tadi? Apa benar aku adalah orang yang bermuka ganda
dan memakai topeng? Apa benar jika semua yang aku lakukan bukanlah suatu hal
yang tulus dan memiliki maksud tertentu? Apa aku…… apa aku benar-benar orang
yang munafik?”
Aku bergidik! Itu suaraku sendiri!
Aku mencoba menggerakan bibirku dan berkata, “Aku adalah orang yang aku
sendiri tidak mengetahui aku ini siapa. Aku adalah orang yang bermuka dua dan
pintar berakting. Kalau begitu, aku pantas menjadi seorang pemain film…..
Hahahaha!” Aku tertawa. Aku tertawa. Aku tertawa.
Tapi, hatiku masih sakit. Sekarang aku malah merasa jauh lebih sakit dari
yang tadi! Tiba-tiba aku ingin menangis. Aku ingin menangis jauh lebih keras
dan lebih dalam dari yang tadi! Dari satu jam sebelum ini!
Dan benar, aku menangis lagi. Dan kali ini aku merasa sangat lelah.
Hingga akhirnya aku tertidur…..
•••
Aku melihat sebuah pisau di samping kiriku. Aku menatapnya tajam.
“Pisau, jika tanganku menyentuhmu pasti tanganku akan terluka bukan? Dan
tanganku akan mengeluarkan darah. Apa jika hatiku menyentuhmu hatiku akan
terluka juga dan akan mengeluarkan darah juga seperti tanganku ini?”
Iya, aku tidak akan tahu. Aku tidak akan tahu apa yang akan terjadi
sebelum aku mencobanya. Aku menarik nafas dan berkata,
“Kau akan menyentuh hatiku sekarang wahai kau pisau yang tajam. Sentuhlah
ia dengan setajam-tajamnya dirimu hingga ia mengeluarkan darah yang banyak. Kau
tahu, aku sudah bosan punya hati……”
Dan aku menusukkan pisau itu tepat di hatiku….
•••
Tubuhku sakit, lemas, mataku berkunang-kunang. Ku lihat perutku. Aku
merabanya. Tidak, tidak ada pisau. Tidak ada darah. Apa itu cuma mimpi? Aku
melihat sekelilingku. Tempat ini kotor sekali, sunyi sekali, aku bahkan bisa
mendengar suara hatiku sendiri. Aku di mana?
Aku berjalan, berjalan beberapa langkah, ku lihat sebuah kaca yang bening
di depanku. Aku mendekat. Tapi, semakin aku mendekat semakin hitam kaca yang
bening tadi.
“Hai, kaca… Apa yang terjadi padamu? Mengapa kau semakin hitam jika aku
semakin mendekat padamu? Apa kau? Apa kau marah padaku?”
Aku masih berjalan mendekat. Aku mencoba meraba kaca itu. Debu. Banyak
sekali debu di kaca ini. Apa aku bisa membersihkannya? Aku ingin sekali melihat
kaca ini bersih dan bening lagi. Apa aku bisa melakukannya? Tapi, apa yang akan
aku pakai untuk membersihkannya?
Ku lihat sekelilingku. Kotor. Tidak ada benda yang bisa aku gunakan untuk
membersihkan kaca ini. Aku menarik nafas. Apa ini berarti selamanya aku tidak
akan pernah bisa membersihkan kaca ini? Tapi, aku ingin sekali melihat kaca ini
bersih. Aku ingin melihat bagaimana rupaku di dalamnya.
“Kaca, katakan sesuatu padaku. Katakan apa yang bisa aku lakukan untuk
membantumu. Aku tahu, kau tersiksa karena kau kotor sekali. Apa kau? Apa kau
mengijinkanku?”
Aku tersenyum. Ku coba menyentuh lagi kaca itu. Dan tiba-tiba…. Kaca itu…
Pecah… Sebelum aku sempat menyentuhnya, kaca itu…. Pecah….
•••
Di depanku ada jurang. Gelap, hitam, dan yang pasti, menakutkan. Aku
mencoba melihat ke dalamnya.
“Kau tidak terlalu menakutkan jika aku mendekat. Kau juga tidak terlalu
gelap jika aku mencoba benar-benar menatapmu dengan seksama. Kau ini, mau
menipuku ya?”
Aku tersenyum. Aku berlari-lari di pinggir jurang itu.
“Ini menyenangkan! Sungguh! Ini membuatku bahagia dan tersenyum! Terima
kasih karena telah membuatku merasa bahagia wahai jurang……”
Tiba-tiba angin dingin berhembus. Angin yang membuat aku menggigil.
Tubuhku bergetar, gigiku bergemeretak, kakiku tidak sanggup lagi untuk berdiri.
“Angin, mengapa kau jahat sekali? Kau buat tubuhku bergetar. Mengapa kau
jahat padaku?”
•••
Ini taman bunga. Tapi, aku tidak
suka bunga. Tapi, aku ada di taman bunga. Bukankah itu berarti aku harus
menikmatinya? Bukankah itu berarti aku harus berusaha untuk menyukainya?
“Bunga, kau tahu, aku tidak terlalu
menyukaimu. Tapi, sekarang aku ada di rumahmu. Jadi, karena aku adalah tamu,
aku akan berlaku baik padamu. Aku berjanji.”
Angin sejuk berhembus. Bunga-bunga
bergoyang. Wangi bunga menyergap masuk ke hidungku.
“Hai, ini tidak terlalu buruk. Ku
rasa aku bisa menyukaimu bunga.” Aku tersenyum.
Aku menatap depanku. Aku melihat
langit, matahari, dan pepohonan. Aku ingin berbalik dan melihat apa yang ada di
belakangku. Tapi, tiba-tiba aku mendengar suara burung berkicau. Merdu, indah
sekali.
“Burung, kau sedang berbicara dengan
siapa? Apa kau punya teman? Aku tidak punya teman. Apa kau mau menjadi
temanku?”
Burung itu terbang. Ku kira dia akan
terbang menjauh. Tapi, dia malah mendekat dan hinggap di bahuku.
“Apa ini artinya kau mau menjadi
temanku? Baiklah, kita berteman.” Aku tersenyum dan burung itu terbang. Aku
berlari mengejarnya. Tapi, sebelumnya, aku membalikkan tubuhku dan melihat
belakang.
Aku terkejut. Aku melihat bukit
hitam yang gelap. Mataku berkunang-kunang. Aku ingin pingsan!
Tapi, tiba-tiba ku dengar suara
kicau burung itu lagi. Aku berbalik ke arah depan dan tersenyum, lalu berkata,
“Aku. Aku tidak akan berbalik ke belakang dan melihat bukit itu lagi. Apa pun
yang terjadi. Burung, karena kau adalah temanku, aku akan selalu ada di
sampingmu. Aku berjanji.”
*********
Bisakah kau melihatnya? Ini bukan sekadar tulisan lhoooo
*********
:)
*********
Aku…
Tidak
akan pernah bisa mengenal diriku sendiri,
Karena
aku bukanlah yang menciptakan diriku sendiri,
Aku
hanyalah manusia, yang selalu berbuat salah,
Bahkan
ketika aku berusaha mengenal
siapa
aku?
Semangat…
Yang
kian patah dan tak tahu arah,
Membuat
mata buta hingga salah melangkah,
Tapi,
aku tidak akan mencoba,
Untuk
menusukkan semangat patah ke dalam tubuhku,
Karena,
semangat itu,
Ada di dalam diriku sendiri..
Hati…
Awal
ku lihat dirimu,
Ku
kira kau putih bersih, tapi, ternyata
Kau
lebih kotor dari apapun,
Ijinkan
aku untuk membersihkanmu, meski
aku
terseok-seok untuk membersihkanmu,
Asal
kau tidak hancur, dan meninggalkanku hingga aku tidak punya hati..
Kesenangan…
Aku
tidak membutuhkanmu jika kau datang hanya sementara,
Lalu
kau tiupkan malapetaka yang menakutkan untukku,
Ku
katakan,
Aku
benar-benar tidak membutuhkanmu…
Masa
lalu …
Dirimu
akan selalu ada,
Temaniku
sampai aku tiada,
Tapi,
kau tidak akan membuatku menghentikan langkah,
Karena
kau adalah masa laluku,
Dan
selamanya adalah masa laluku,
Apapun
itu,
Yang
ada di depanku,
Aku
akan berusaha menyukainya, meski awalnya menakutkan untukku…
Aku
akan berusaha!
Dan
tidak berhenti sebelum aku benar-benar telah berusaha!
:)