Senin, 01 Desember 2014

Sajak Orang Bingung (12/17/2013)



Seperti ribuan anak panah yang menghujam jantungku. Melesat cepat dan tepat. Aku yang sebuah kapas merasa tak berdaya dan hanya mampu tercabik. Argumen-argumen ini gila. Memenuhi setiap rongga pikiranku hingga kepalaku terasa sakit. Seperti ada tarikan yang sangat kuat yang menyuruhku untuk pergi tapi ragaku tetap ada di sini. Dengan pikiran dan jiwa yang kosong. Yang semakin hitam dan berkarat. Tak berharga.
            Apa ini? Pikiran darimana ini? Keinginan ini datang darimana? Kenapa tiba-tiba aku menjadi seperti ini? Aku tidak kehilangan arah justru aku telah menemukan arah yang harus kutuju. Tapi, aku harus banting setir. Harus berbalik arah. Dan itu adalah hal yang sulit.
            Rasanya seperti ada yang mau keluar dari diriku. Seperti mau meledak. Tapi, aku tahan. Tapi, kurasa semakin lama kekuatannya semakin besar. Kekuatan ini membuatku gila. Aku tak mampu. Aku lemah. Aku yakin suatu saat nanti akan meledak juga dan aku hanya akan menjadi serpihan.
 Saat ini, tak ada yang lain kecuali ‘rasa sakit’ akibat ‘kebingungan’. Tapi, aku akan berdosa jika aku membuat kekacauan pada hatiku. Maka aku biarkan ini semua mengalir bagai air. Padahal bebatuan besar menghambat jalannya. Airnya keruh.
Aku tahu, aku harus terlepas dari jurang ini. Dari tembok-tembok raksasa yang terus menghimpitku. Dari pikiranku sendiri. Ya, aku harus temukan kebebasan. Kebebasan untuk diriku sendiri. Tapi, aku terlalu takut untuk bermain dengan kebebasan.
Rasanya seperti ada dua muka. Bukan satu, tapi dua. Dan itu membuatku bingung. Aku seperti telah memegang sebuah pelana. Tapi, aku tak memiliki kuda untuk menggunakannya. Aku ingin naik dan pergi dengan kuda itu. Tapi, percuma saja aku tetap tak punya kuda. Lalu aku bisa apa?
Aku tahu, aku harus mencarinya. Harus temukannya. Karena aku harus pergi. Ya, aku harus keluar dari sini. Harus bisa menjadikan ‘dua muka’ menjadi ‘satu muka’. Hati ini harus tenang. Tidak. Tak boleh lagi ia tersesat dan gelisah.

Ya Rabb..
Ijinkanlah aku menemukan apa yang aku cari..
Ijinkanlah aku menjadi yang terbaik menurutMu..
Jadikanlah aku ridho atas segala yang Engkau ridhoi…

Aku selalu merasa lebih baik ketika aku sudah menuliskan tinta hitam dalam bebatuan. Ya, ini lumayan. Alhamdulillah…. Tapi, sebuah tulisan tidak akan terhapus kecuali karena datangnya hujan. Siiip lah, aku akan tunggu hujan itu.
Pelana ini harus dipakai dan tidak bisa dibiarkan begitu saja. Ini amanah. Dan aku harus bersikap amanah.


Ini adalah titipan dan Sang Pemilik titipan pasti akan menagihnya..
Aku harus menggunakan ini..
Harus….

Selalu ada sesuatu yang meloncat dan bukannya ‘meledak’ dari pikiranku setelah hujan turun. ‘Pencerahan’, aku menyebutnya demikian. Dan biarlah ini selalu terjadi padaku. Pelana ini kini ada di tanganku dan sang kuda kini ada di depan mataku.
           
☻☻☺
            Selalu saja. Dan selalu. Penyakit yang sama dan aku tidak yakin apa aku bisa sembuh darinya. Penyakit itu selalu menggerogoti aku. Merebut waktu siang dan malamku. Menyalakan api yang selalu membakar otakku. Hingga otakku buntu, aku buntu, dan jiwakupun ikut buntu. Penyakit itu bernama ‘kebingungan’.
            Aku bertanya pada seseorang yang ada di dalam cermin ketika aku sedang melihat ke dalamnya. “Seharusnya kamu tahu apa yang harus kamu lakukan! Masalahnya adalah, kamu itu terlalu takut untuk melakukan yang “harus” dan kamu malah melakukan yang kamu ‘nggak diharuskan’!”
            “Aku butuh duit.” katamu datar, “Naif kalau bilang nggak butuh duit!” katamu lagi.
            Perutku geli. Duit? Menggelikan! Akupun bertanya lagi pada yang ada di dalam pantulan air yang jernih ketika aku menatapnya, “Kamu butuh duit? Kenapa nggak minta sama yang menggagas dan menakdirkan bahwa duit adalah alat tukar menukar jaman sekarang?”

☻☻☺
“Kamu sudah tahu kan kamu mau jadi apa?” suara itu menggema lagi. Suara yang muncul entah dari sudut mana dalam diriku, “Sekarang tinggal kamu berani atau tidak untuk mengambil itu. Kamu sudah tahu kan apa yang harus kamu kejar? Tidak usah melirik sana-sini! Nanti matamu kecetit! Teruslah menatap ke arah yang sama! Fokus itu penting!”
“Yah, kalau akhirnya apa yang aku pandang salah gimana?”
“Ini namanya kamu mengambil resiko! Ini hidup kamu! Hak kamu! Jadi, ya terserah kamu sajalah kamu mau mengejar apa! Pesan saya sih, kejar yang ‘selamanya’ jangan yang ‘fana’!”
“Baiklah, InsyaAllah! Doakan saya saja ya!”
Pilihan yang akan aku ambil ini sungguh akan sangat mengejutkan banyak orang. Tapi, ya mau bagaimana lagi? Aku kan memang harus banting setir! Lagipula, memang ini kan yang aku hasratkan sejak lama?
Ketika aku telah mengenal cinta yang sejati…
Ingin aku rengkuh cinta ini selamanya…
Ingin ku buktikan cinta ini sejujurnya…
Ingin ku kembangkan cinta ini setulusnya…
Ingin ku rangkai cinta ini agar Kau mau menerimanya…

☻☻☺
            Ini adalah realitas dan setiap orang wajib mengenggamnya erat-erat! Bukannya menjadi ‘sok tak membutuhkannya’! Tapi, mau bagaimanapun inilah realitas!
            Tak usah kau bingung-bingung dan menghitung ribuan bintang di atas sana! Percuma saja! Karena kaupun tak akan pernah selesai untuk melakukannya. Hanya sia-sia berbalut kekecewaan.

☻☻☺
            Nafas ini semakin kutarik panjang dan kulepaskan semakin terasa ringan beban di pundakku. Tapi, cuma sedetik saja ini semua terasa ringan. Setelah itu, beratnya lebih berat.
            Mauku apa sih?
Menuntut ilmu!
Menuntut ilmu!
Menuntut ilmu!
           
            Menuntut ilmu apa?
            Buat apa?

Buat kamu!
Buat kamu!
Buat kamuuuuuuuu!

☻☻☺
            Kembali terbentur oleh pertanyaan dan penyakit yang sama yaitu ‘bingung’. Penyakit ini bisa menggerogoti diriku dan aku yakin aku tak akan memiliki kekuasaan untuk mengalahkannya. Gila! Otakku rasanya mau pecah karena ‘kebingungan’ ini.
            Kembali melihat secercah cahaya yang bersinar terang di ujung mataku, berharap bisa memilikinya sementara aku masih harus menunggu. Ini sebuah ‘sistem’ dan kita selalu dan harus mengikuti ‘sistem’. Tanpa ‘sistem’ kita tak memiliki arti. Makna yang hampa.
            Kembali tersungkur atas kenyataan diri yang begitu menggelikan sekaligus menjijikan. Berharap semua berubah layaknya mentari di ujung sana yang selalu merekah tatkala datangnya senja. Tapi, aku justru kosong dan hanya bisa mlompong (bengong).
Kembali dan kembali. Seolah tak pernah ada kata sesudah. Apa aku waras?
             
☻☻☺
            Dentuman jam ini membuat hatiku terpojok. Aku menggigil.
“‘Bingung’ itu salah loh dek!” katamu lembut tapi tegas.
Aku cuma bisa menatapmu sebentar lalu memalingkan mukaku lagi, “Lalu, mesti gimana mbak?” kataku acuh.
“Dasar anak kecil manja! Kamu kan punya sesuatu yang ada di kepalamu itu buat berpikir! Mbok ya dipakai! Berkarat loh nanti! Kamu sendiri yang rugi!” katamu lagi sambil tersenyum mengejek.
“Nggak bisa pakai itu mbak! Nggak tahu caranya!” kataku datar.
“Dasar kamu ini! Kepalamu itu isinya apa to? Apa otakmu itu malah udah keinstall virus tingkat tinggi jadi semuanya udah ke program menjadi program bingung semua?” kamu menatapku penasaran.
Aku nyengir, sebisa mungkin mirip kuda, “Isinya cuma khayalan kelas lele dumbo mbak!”
“Oh… Pantes!” katamu lagi sambil melirikku.
Aku manggut-manggut sok ya kalau aku setuju dan paham. Padahal sih, sama sekali nggak.
Aku buntu dan bingung karena aku terlalu takut melakukan semuanya. Karena aku masih sering tergeser oleh argumen orang lain sehingga anggota badanku tak bisa kukendalikan. Karena aku itu masih dungu, culun.

☻☻☺
Hari ini perayaan karena aku bisa memecahkan selusin gelas yang ada di dalam pikiranku. Akupun mengambil batu dan mencoba merangkai pecahan itu menjadi pecahan yang lebih kecil lagi. Maunya sih sampai sebesar atom!
Kalau apa yang ada nanti gelap gimana ya? Kalau nggak putih? Aku mau pegang batu ini aja terus ah! Biar gampang mecahin gelas lagi!
“Pengangguran lagi? Atau lagi mengkhayal lagi? Pengkhayal kelas lele dumbo!” katamu sinis.
Aku tersenyum, lingkaran hitam di dalam mataku kutarik ke samping, melirikmu tajam, “Sekarang udah nggak mbak! Aku pemimpi kelas hiu!”
“Wow… baru berapa detik anda bisa ganti spesies gitu?”
“Seperlima detik mbak!”

☻☻☺
Semuanya merah jambu. Dinding-dinding di depan dan di belakangku merah jambu. Tembok-tembok di kanan dan di kiriku merah jambu. Semua merah jambu. Kecuali satu, gigiku yang putih karena aku baru selesai makan pasta gigi rasa mint.
“Mbak, aku sudah menentukan sikap! InsyaAllah, semoga jalan terbaik mbak!” aku menatapmu optimis.
“Apa?” tanyamu tak percaya.
“Udah lama kayaknya hati ini meronta-ronta! Mau pilih apa yang sesuai hati ini aja! Terserah deh, angin mau ngabarin aku berita apa!”
“Yakin? Itu pilihan cerdas atau ceroboh ya?” tanyamu lagi.
“Cerdas dan ceroboh sulit dibedakan mbak! Hasil juga bukan harga yang mutlak. Nilai juga bukan. Yang penting penyusunan hati dan otak dengan cara yang benar meski terkadang kasar! Realitas yang berkualitas to?”
Kamu terheran-heran, “Diinstall pake apa sih?” tanyamu memperhatikan kepalaku.
“Pake hati juga pengambilan resiko mbak!”
“Nggak paham!”
“Sama mbak! Saya juga!”

☻☻

Tidak ada komentar:

Posting Komentar