Selasa, 17 Maret 2015

Cuma bisa bilang Good Bye





Dalam syair duka, aku bahagia….
Dalam syair bahagia, aku berduka..

Ketika sebuah kata bersambung dengan kata yang lain,
Membentuk sebuah susunan kata yang lembut,
terdapat kata-kata duka…
seolah dunia tak lagi berputar…
dan bunga tak lagi mekar….

Tapi, relung hatiku merasa lega, lagi bahagia…
Ia tersenyum ceria,
Menguratkan cerita suka penyejuk jiwa…
Tanpa terseduh, tanpa terisak….

Tak ada yang memahami..
Ketika persoalan ada di dalam hati,
Yang ditanya ketika apa yang diyakini,
Dan seolah tak ada lagi..

Kisah duka itu,
Hanya ada di matamu,
Bayangmu dan dalam mimpimu…

Di dalam hatiku tak ada,
Bahkan tak tersirat…
Lalu, syair yang lain menuliskan cerita suka,
Seolah ia pembangkit semangat membara…
Sedang  padaku ia terbaca seperti sakit dan juga ‘ketergantungan’
Karena ia tak ada lagi..

Memang begini, ketika sebuah kata tertulis sama tapi berarti beda..

Ketika ia datang, kau sambut ia dengan senyuman…
Namun, ketika ia datang padaku, ku sambut ia dengan tangisan…

Ini fitrahku sebagai seorang perempuan,
Yang hatinya tercipta begitu peka pada apa yang terjadi…
Dan oleh karena itulah, aku memilih jalan ini yang kau anggap kuno lagi ‘berani’…..

Terima kasih atas syairmu yang begitu mesra namun menusuk hatiku..

Ini  jalanku, dan itulah jalanmu………..

Hati-hati

Wahai hatiku yang mulai kosong..
Apa kabarmu?
Apa kau sedang menangis?
Ataukah kau bahagia?
Akhir-akhir ini aku bahkan tak mampu jujur padamu,
Aku terlalu takut,
Pada semua hal,
Hingga mulutku terkunci rapat
Ketika aku ingat hari-hari lalu,
Aku menyesal,
Andai aku punya keberanian sedikit,
Bukan..
Bukan untuk siapa-siapa,
Atau untuk apa-apa,
Tapi, untukmu sendiri...
Untuk hatiku sendiri..
Jika pada diri sendiri aku tak bisa jujur, maka apa yang aku punyai?
Aku akan menjadi tak bernilai..
Aku akan hilang...
Bisakah aku menjadi orang yang berani?
Wahai hatiku,
Pinjamilah aku kekuatanmu...
Basahilah mata ini lagi..
Buatlah nafasku sesak lagi..
Getarkanlah badan ini lagi..
Aku ingin merasa kau tidak meninggalkanku..
Aku ingin merasa aku masih punya hati..
Aku ingin merasa cinta..
Tapi ketakutan menaungiku..
Ada yang bilang takut akan menyelamatkanmu...
Yang aku rasa ketakutanku tak menaungiku..
Ia menguasaiku..
Hingga aku tak bisa merasa selainnya..
Wahai hatiku,
Jadilah berani..
Bukakanlah pintumu..
Kau adalah tempat untuk merasa..
Takut, sakit, putus asa, bahagia, haru, dan cinta..
Semua adalah bagianmu..
Nikmatilah..
Janganlah merasa ragu pada dirimu sendiri..
Berdirilah..
Ambilah resiko itu sebanyak mungkin..
Nikmatilah segala rasa yang memang fitrahmu untuk kau rasai..
Dan tetaplah menjadi hati yang jujur..
***********

Minggu, 08 Maret 2015

Si daun yang membuat takjub

Aku memandang daun yang jatuh itu. Ingin kuambil lalu kubuang. Tapi, apa ini? Daunnya berakar. Ah, inilah dia, daun cocor bebek. Tanaman yang mampu bertunas dengan daunnya. Meskipun daunnya terlihat biasa tapi dia adalah tunas yang akan mengembangkan hidupnya sendiri saat sudah terjatuh. Mandiri ya?
*****************
Indah sekali. Dia berwarna-warni. Dia gugur pada saat musim gugur. Dia hidup di daerah subtropis. Aku rasa dia akan mampu membuat orang jatuh cinta saat pertama kali melihatnya. Meskipun begitu, dia terkadang memenuhi jalan-jalan sehingga susah untuk dilalui. Tapi, tak ada seorang manusia pun yang marah akan hal itu. Karena dia indah sekali. Ah, mari kuperkenalkan, inilah dia pohon mapple. Dengan daun yang berwarna-warni dia mempesona musim gugur.
*****************
Aku ingin jadi seindah daun mapple dan semandiri daun cocor bebek bisa nggak ya? Kamu ingin juga nggak?
Hehehee :)
**********
Add caption

Sabtu, 07 Maret 2015

Rumah yang tak bernama

Wajah Fitri seperti ketakutan. Matanya merah dan berair. Bibirnya bergetar. "Aku tahu maksudnya!" katanya kelewat keras. Aku menatap Putri yang memboncengku. Ekspresi wajahnya sama dengan Fitri. Ketakutan. Putri mengangguk padaku dan berkata, "Aku juga tahu maksudnya!". Seketika kami bertujuh bergerak sesuai insting kami. Berlari. Menjauh dari tempat itu.

Sekelebat bayangan sosok itu muncul. Bajunya panjang, berwana putih kusam dan lusuh. Menatap kami dari belakang dengan tatapan sedih dan marah. Seolah berkata jangan ganggu rumahku.

***********

Kami mengikuti bapak yang memakai motor itu pelan-pelan. "Nggak jauh kok mbak", begitu katanya meyakinkan.
Aku memandang Mula yang naik motor di belakangku. Alis matanya dinaikan seakan mengatakan udah ikutin aja. Aku mengangguk menurut pada Mula.

Tapi, ini agak aneh. Ini lumayan jauh lho dari kampus baru kita, begitu pikirku. Ah, segera kubuang pikiran itu. Aku mencoba menikmati jalanan yang kami lewati. Jalanan ini jalanan pedesaan dengan hamparan sawah yang berada di kiri dan kanannya. Tanaman padi di sawah-sawah itu sedang hijau-hijaunya yang menyiratkan bahwa baru saja habis di tanam. "Bagus ya, Nit. Jadi sejuk gitu ngeliat yang ijo-ijo." Rini yang memboncengku bicara agak berteriak. "Iya, Rin. Tapi, le ngomong ra sah seru-seru!" kataku sambil memukul helmnya.
Dia kaget, "Aduh, Nita ki!" katanya sambil mengelus helmnya. "Tapi, aku jadi inget lho, dulu pas aku dateng dari Jambi terus ke Tempel ya sawah yang ijo kayak ginilah yang bikin aku seneng!" sambungnya. Aku mengangguk-angguk saja mendengar Rini bercerita. Iya, sawah yang hijau memang pemandangan yang indah.

Tak beberapa lama daerah yang kami lewati berubah menjadi pemukiman warga. Pemukiman ini sepi, tapi mungkin itu karena sekarang sedang siang hari jadi banyak warga yang masih pergi bekerja. Aku melihat bapak pemilik rumah kontrakan yang terus mengendarai motor di depan kami. "Rin, dimana sih rumah kontrakannya? Kok jauh banget? Ini sepi lho jalanan sama pemukimannya." aku bertanya pada Rini sambil memperhatikan sekelilingku. "Sabar to, Nit." Dia menjawab sambil mengaca di kaca Spion motor. "Rin, spion buat ngeliat belakang. Bukan buat ngaca!" kataku sedikit kesal. Dia hanya tersenyum dan biasanya setelah ditegur gini dia malah jadi semakin sering ngaca. Ngeselin. Tapi itulah Rini, temanku yang memiliki tingkat narsis yang tinggi. Jangankan spion yang dipake buat ngaca, di kamar kosnya pun, kalau ngga ada yang memperhatikan, dia sering ngobrol sendiri di depan kaca sambil mengagumi kecantikannya sendiri. Wkwkwkwk. Aku cuma bisa tepok jidat.

Di ujung jalan desa, bapak pemilik rumah kontrakan belok ke kiri dan berhenti tepat setelah rumah ketiga dari jalan utama desa. Eh, udah sampe?, pikirku. Rini menghentikan motornya sambil berkata ,"Rumahnya bagus, Nit." Aku memperhatikan rumah itu. Rumah ini bertingkat dua. Catnya berwarna pink pudar. Keramiknya berwarna putih seharusnya, tapi karena kotor jadi terlihat cokelat. Ada sebuah bangku bambu di teras rumah. Bangku bambu itu diletakan miring menghadap ke pojok. Kesan pertamaku tentang rumah ini adalah rumah yang sudah lama tidak ditinggali, rumah yang terlantar. "Sebentar ya mbak. Tak ambil kunci." kata bapak itu. Rini mengangguk.

"Rumahnya bagus ya." kata Mula yang baru saja memakirkan motornya. "Tapi, agak jauh dari kampus ya. Kalo harganya cocok, oke aja gimana?" katanya lagi. Rini memakirkan motornya di dekat motor Mula dan berjalan mendekat ke rumah itu. Aku memperhatikan sekeliling rumah itu. Di depan rumah ini ada sebuah jalan kecil yang kami lewati tadi, lalu lebih jauh lagi ada ladang jagung yang luas. Rumah di sebelah kiri dan kanan rumah ini berjarak agak jauh. Khas rumah di pedesaan. "Lihat dalamnya dulu." kata Mula lagi. Bapak pemilik rumah kontrakan berjalan mendekati kami sambil membawa kunci, di belakangnya ada ibu-ibu yang tersenyum pada kami, "Cari rumah kontrakan ya mba? Di sini aja kan ngga begitu jauh dari kampus," katanya. Kami hanya tersenyum menanggapi ibu itu. Tidak begitu jauh dari kampus? Menurutku ini lumayan jauh lho, Bu! Bapak pemilik rumah kontrakan membuka pintu dan mempersilakan kami masuk, "Ada tujuh kamar mba. Di bawah tiga, di lantai dua ada empat kamar." katanya. Aku, Rini dan Mula masuk. Bau apek langsung menyerang kami. Ruangan yang pertama kami masuki adalah ruang tamu. Ada perabotan dan kursi di ruangan ini. Semuanya tidak ditutup kain putih jadi banyak sekali debu di kursi dan perabotan itu. "Gelap ya pak" kata Mula lagi. Bapak itu langsung menyalakan senter yang dibawanya, "Iya, Mbak. Listriknya mati." katanya.

Aku dan Rini berjalan ke pintu di samping kiri ruang tamu dan mencoba membuka pintu kamarnya. "Nggak di kunci kok, Mbak," Bapak itu mengagetkan kami. Kami masuk ke kamar itu. Kamar ini penuh debu, kotor, dan kosong. "Besar ya kamarnya," kata Rini sambil mengangguk-angguk sedikit mirip orang India. "Iya" aku menanggapi sambil berjalan ke luar kamar. Di luar, Mula sedang berada di ruang tengah. Di ujung kanan ruang tengah, ada sebuah tangga yang menghubungkan lantai satu dan dua, di bawah tangga itu ada sebuah lemari besar. Tepat di dekat anak tangga terbawah ada sebuah kamar lagi. Mula mendekatinya dan mau membuka pintunya. "Kamar yang itu dikunci, Mba. Kalau mau lihat, lihat kamar ini aja ya." kata Bapak itu sambil mengarahkan senternya menuju kamar di sebelah kamar yang aku dan Rini masuki tadi. "Kok dikunci?" aku berbisik pada Mula, "Yang lain kan nggak dikunci.". Mula hanya menatapku tajam.

Mula berjalan mengikuti bapak itu. Aku dan Rini berjalan menuju ruangan lain di belakang ruang tengah. Ruangan ini kecil tapi panjang. Di sebelah kanan ruangan ini ada sebuah meja. Di atas meja ada banyak piring, gelas, dan sendok yang berantakan, seolah ditinggal begitu saja oleh pemiliknya. Aku merasa ada yang aneh. Kenapa semuanya seolah tidak sengaja ditinggalkan? Sepertinya penghuni sebelumnya begitu terburu-buru meninggalkan rumah ini sampai tidak sempat dirapikan, pikirku. Di ujung lain ruangan ini, ada sebuah kamar mandi. Kamar mandi ini kecil dan sangat bau. Rini menutup hidungnya sampai hidungnya berwarna merah.

"Ayo lihat lantai dua, Mbak." bapak itu berkata sambil menaiki anak tangga. Mula, Rini, dan aku mengikutinya dari belakang. Saat menaiki tangga, entah kenapa kulitku terasa menegang. Bulu kudukku berdiri. Aku merinding.

Lantai dua ini agak terang karena bagian belakangnya terbuka sehingga sinar matahari bisa masuk walau sedikit. Meskipun begitu, ruangan di depannya tetap gelap. Aku menerka-nerka apa yang ada di ruangan itu. "Nanti bagian belakang ini akan ditutup, Mbak. Kita akan bangun tembok," kata bapak itu sambil berjalan, "Sekarang kita lihat kamar lain...." perkataan bapak itu terpotong karena ada suara seperti kepakan sayap di atas kami. Kami kaget dan menatap ke atas. Aneh. Tidak ada apa-apa, pikirku. Aku menatap Mula dan Rini. Ekspresi mereka berdua sama. Heran. "Oh iya, Pak. Ayo lihat kamar lainnya" kata Mula mengembalikan suasana yang aneh tadi. "I..ya..." kata Rini terbata. Belum ada dua langkah kami berjalan, suara kepakan sayap itu muncul lagi. Bapak itu langsung mengarahkan senternya ke atas. Sebelum kami sadar apa yang terjadi, puluhan makhluk seperti burung terbang ke arah kami. Mata mereka merah. Mereka terbang ke luar rumah. Beberapa terbang terlalu rendah hingga terlihat hampir menabrak kepala Mula dan Rini. Aku kaget dan hampir berteriak. Tapi, segera kututup mulutku. Ini kelelawar! Mereka banyak sekali. Aku merinding.

"Ada yang menabrak kepalaku!" Rini berteriak. Aneh. Tidak mungkin kelelawar menabrak sesuatu! Yang menabrak kepala Rini pasti bukan kelelawar! Tapi, apa? Aku menatap Rini heran. "Sakit, Nit." katanya sambil memegang kepalanya.

"Maaf ya, Mbak. Rumah ini sudah lama ditinggalkan. Jadi, nggak keurus. Eh, malah jadi sarang kelelawar juga. Besok saya janji saya bersihkan, Mbak." bapak itu menggelengkan kepalanya. Sepertinya dia juga tidak menduga akan terjadi hal seperti ini. Mula, Rini, dan aku tidak menanggapi. Kami diam. Aku merasa perlu mengendalikan tubuhku. Nafasku terengah-engah. Lututku gemetaran. Perasaanku berdesir aneh. Ada sesuatu yang lain. Tapi apa?

"Besok kami datang lagi ya, Pak. Kami besok bawa teman kami yang lain yang mau ngontrak juga." Mula berkata sesaat setelah kami berada di luar rumah. Bapak itu mengangguk. Rini dan aku berjalan menuju motor kami. "Kami pamit dulu ya, Pak. Terima kasih sebelumnya." kata Rini sambil menyalakan motornya.

*************

Jam sudah menunjukan pukul lima sore. Kami bertujuh menyalakan motor kami. Ada empat motor. Aku boncengan dengan Putri, Mula dengan Mona, Tyas dengan Mbak Titik, dan Fitri berkendara sendiri. "Ayo, jangan lama-lama. Udah sore ini." Fitri berkata sambil menatap Mula. "Rini ndi?" kata Tyas medhok. "Nggak ikut, ada tugas." aku menanggapi santai.
"Tyas, kakimu nggak apa-apa? Kamu kan kemarin baru aja jatuh dari motor?" kata Mona sambil menunjuk kaki Tyas. "Halah, wes rapopo." Mbak Titik menimpali Mona dengan gaya khasnya. Cuek. Tyas hanya tersenyum dan menggeleng.
Lalu, kami berkendara menuju rumah itu dan sekali lagi. Perasaanku berdesir aneh.

**************

"Jauh amat Mul!" Fitri mendekati motor Mula. "Alamak kalau jauh kayak gini aku nggak mau deh!" katanya lagi ketus. Mula hanya menatapnya sambil tersenyum. Matahari sudah hampir tenggelam di ufuk barat, suasana mulai gelap. Jalanan dan pemukiman yang kami lewati kemarin terasa lebih sepi. Perasaanku berdesir aneh lagi.

Tak beberapa lama, kami sampai di rumah itu. Wajah Fitri terlihat kaget, "Ini rumahnya???!" katanya hampir seperti membentak. Aku mengangguk. Rumah itu masih sama seperti kemarin. Tapi, entah kenapa auranya terasa berbeda. Terasa lebih menakutkan.

"Kok serem?" tanya Tyas.

Aku hanya diam dan menatap Mula, "Inikan mau Magrib. Suasananya pas buat yang serem-serem." katanya sambil memainkan HPnya, "Nggak serem kok."

Putri berbisik kepadaku, "Tante Ita..... Rumahnya serem lho! Kalian yakin mau ngontrak di sini?". Aku memandang Putri ragu, "Nggak tahu, Put. Kalo yang lain setuju, aku ikut aja.".

"Itu orang yang punya rumah??" Mona menunjuk seorang ibu-ibu yang berjalan mendekati kami. Aku menggeleng. Bukan. Itu bukan ibu-ibu yang kemarin. Tapi, siapa dia? Ibu-ibu itu berjalan seperti tergesa-gesa dan dia mengeluarkan suara yang aneh. Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Suaranya terdengar seperti "e..gi..." katanya berulang sambil mengibaskan tangan kanannya, seperti menyuruh kami pergi.

"Ibu, kami mau lihat sebentar. Kami yang mau ngontrak rumah." kataku pelan. Tapi, ibu itu terus mengibaskan tangannya dan berkata "e..gi...". Dia terus melakukan itu. Membuat kami bingung. Pergi? Kami diusir? Belakangan kami paham kalau ibu itu tunawicara.
Mata ibu itu berubah jadi merah, mungkin dia frustasi karena kami tidak paham apa maksud perkataannya. Lalu dia, menyilangkan tangan kanannya di pergelangan tangan kirinya. Dia juga menunjuk-nunjuk rumah itu. Kami jadi makin bingung. Dia mengulanginya lagi, menyilangkan tangan kanannya di pergelangan kirinya. Menunjuk-nunjuk rumah itu. Lalu, dia menggerakan tangan kanannya dari arah atas ke bawah. Kami masih tidak paham.

Tiba-tiba Fitri menengok menatapku dan Putri yang dibelakangnya. "Aku tahu maksudnya!" katanya. Aku mengangguk pada Fitri. Putri juga mengangguk, "Aku juga tahu!"
Seketika dengan gerakan sangat cepat Fitri membelokkan motornya, Putri juga melakukannya. Aku yang dibonceng Putri hampir jatuh saking kagetnya. Fitri dan Putri menyalakan motornya dan segera pergi dari situ. Aku melihat Mula yang masih main HP sementara Mona menarik-narik lengan Mula menyuruh cepat pergi dari rumah itu. Sementara itu, Mbak Titik berlari meninggalkan motornya dan mengejar kami. Tyas dengan kakinya yang terluka tertatih-tatih menuntun motor yang ditinggalkan Mbak Titik. "Mbak, iki motore piye?" Tyas berteriak. Aku tidak bisa menahan ketawa melihat refleks Mbak Titik yang aneh.

******************

"Bunuh dirikan……?" kata Putri pelan setelah kami sampai di kos kami. Aku mengangguk, "Kalo dari isyarat ibu yang tadi sih iya."

Fitri masih shock. Dia marah-marah pada Mula, "Jangan rumah itu! Kalau mau ngontrak di sana, aku nggak ikut!"

Mula menatap Fitri dengan tatapan kosong. Dia masih loading dengan apa yang terjadi, "Emang ada apa sih?" tanyanya datar.
Mona saking gemesnya mencubit lengan Mula, "Makanya jangan main HP terus! Tadi kamu ngga lihat ibu itu ngapain? Dia itu ngisyaratin ada yang pernah bunuh diri di rumah itu."

"Terus..?" tanya Mula lagi.

"Mula!" kata Fitri hampir membentak, "Rumah bekas orang bunuh diri dan ngga keurus kayak gitu. Kamu mau tinggal disana?"

Mula menggeleng. Dan kami pun akhirnya harus mencari rumah baru lagi untuk dikontrak.

**************

Selesai.

*************

Hahahahaha.. Akhir ceritanya aneh ya? Agak maksa nggak? Tapi, sebenernya ini kisah nyata lho! Ini aku alamin sendiri sama temen-temen. Emang bener kok rumah itu keliatan serem banget. Ditambah ibu-ibu yang tunawicara itu. Isyarat ibu itu yang nyuruh kita pergi dan nggak tinggal di situ itu W.O.W banget. Walaupun kami ngga tahu kebenaran cerita ibu itu yang bilang ada yang pernah bunuh diri di sana, tetep aja kami nggak jadi ngontrak di sana. Soalnya udah takut duluan. Hehehehe
Padahal bapak pemilik rumah itu telpon kami dan ngerayu-rayu lho, tapi berhubung kami sok tahu dan sok ngerasa kalau rumah itu berhantu tetep aja kami ogah. Hehehehe

Dari cerita ini sebenernya aku mikir, betapa hebatnya sugesti itu. Sugesti ternyata mampu mengontrol sikap dan tindakan kita pada sesuatu. Sugesti yang negatif pada sesuatu membuat kita cenderung bersikap dan bertindak negatif pula. Padahal kan ngga semuanya sugesti atau -hal yang kita dengar- benar. :)

*************

Selasa, 03 Maret 2015

Si kesayangan

Sesederhana itulah. Baju yang ia kenakan berwarna abu-abu. Kusam seperti wajahnya. Celananya yang setengah lutut itupun lusuh. Penampilannya acak-acakan. Giginya kuning, matanya merah. Sepertinya tak ada yang menarik darinya untuk dilihat. Namun, apa itu yang merekah di wajahnya? Yang membuatku ikut menarik bibirku ke samping kiri dan kanan? Ah, benar, senyumnya yang lebar dan ketawanya yang lepas ternyata mampu membuang semua 'standarku' yang aku cap menarik. Iya. Sesederhana itu dia.
^^
Hari ini keindahan di senyumnya hilang. Dia menurunkan bibirnya. Dia cemberut. Matanya tetap merah. Tapi, kini air mata pun membanjiri mata itu. Ada apa sayang? Ujarku dalam hati. Kenapa kau menangis? Dimana senyumanmu yang aku rindukan itu? Dan kau berjalan tergesa, hampir tersandung. Lalu, pergi.
^^
Aku keluar dari zona amanku. Tak lagi jadi pengamat pasif. Aku berusaha keluar dari rumahku dan menengok kemana si kesayanganku pergi. Ah, dia mengejar laki-laki yang agaknya menjadi sumber kebahagiannya. Ujarku. Pikirku. Laki-laki itupun tak kalah lusuhnya dengan kesayanganku. Dia mendorong sepeda yang agaknya sudah tua, karena kudengar decit-mendecit di bagian sana sini.
Kesayanganku berteriak parau, "Tolong.....". Seketika laki-laki itu, berbalik, menatap kesayanganku dengan tatapan yang lembut. Dia merogoh saku di belakang celananya yang sudah tak jelas warnanya itu dan mengeluarkan sesuatu yang bulat dan berwarna menarik. Aku jamin pasti rasanya manis. Pikirku.
Seketika itu pula, kesayanganku mengeluarkan keindahan di wajahnya yang aku nanti-nanti. Ia tersenyum lalu berlari mendekati laki-laki itu dan meraih sesuatu yang bulat itu.
^^
Ah, inilah dia. Permen. Barang yang tidak ada seberapanya pikirku. Tapi mampu membuat kesayanganku kembali tersenyum. Aku bertanya-tanya, apakah dia menangis tadi karena permen ini pula?
Inilah dia kesayanganku. Sederhana namun indah. Nyatanya apa yang membuat dia bersedih dan tersenyum adalah hal yang menurutku kecil. Dari sini aku berpikir, apa yang mampu kita beri pada orang lain, walau sekecil apapun itu nyatanya bisa menjadi besar, dan hal yang tak kita duga ternyata juga bisa begitu menyakitkan di hati orang lain.
Kehidupan sosial itu sulit. Tapi, manusia tidak bisa hidup sendiri.
Dan sekali lagi. Bahagia itu sederhana sekali.

Bintang itu



Di langit di atas sana ada ribuan bintang yang memancarkan cahayanya. Meski serupa tapi tak sama. Tidak mau kalah, di bawah sinipun ada seseorang yang terus melihat ke atas. Mengamati dan menebak-nebak bintang mana yang paling indah.

 ~~~~````~~~~````~~~~


Bintang yang bersinar di dekat bulan itu terlihat kecil. Namun ia terlihat cantik. Dibandingkan bulan ia tidak ada apa-apanya. Tapi, melihat dia yang memancarkan cahaya dengan caranya sendiri pun terlihat indah dan elegan. Iya. Inilah dia bintang yang selalu berada di dekat sang bulan. Tanpa takut terkalahkan dengan keanggunan sang bulan, ia memancarkan cahayanya sendiri.
Di ujung langit malam itupun, di ujung penglihatanku, ada bintang yang bersinar redup-redup. Seakan tidak yakin apakah akan ada seseorang yang melihatnya dari bawah sini. Namun, hei, lihatlah lebih jauh lagi, bintang itu dengan keberaniannya sendiri, meski jauh, meski terpisah dengan teman-temannya tetap memancarkan cahaya yang indah. Berbeda tapi cantik.

~~~~````~~~~````~~~~

         
 Malam ini aku berpikir, seandainya bintang-bintang itu memiliki rasa. Dan bagi mereka ada persaingan untuk selalu menjadi bintang yang terindah di langit malam. Apakah yang akan terjadi? Aku bertanya-tanya, apakah yang akan mereka lakukan? Apakah bintang yang di ujung langit malam, yang bersinar redup-redup itu, akan memiliki keberanian untuk menantang bintang yang bersinar terang di dekat sang rembulan? Aahhh... Dalam hidup manusia pun akan seperti ini. Semua orang berlomba-lomba untuk berlari paling cepat, dan siapapun yang terlebih dahulu sampai di garis finish dialah yang dikatakan 'menang'. Aku tidak benci persaingan, karena sebenarnya persaingan yang sehat itu baik, yang aku tidak suka adalah pelabelan bahwa dia yang menang, dia yang terlebih dahulu mencapai garis finish adalah dia yang segala-galanya. Tidak begitu, menurutku. Bahkan di langit malampun, kau bisa berkaca, lihatlah bintang-bintang itu, meski dia memancarkan sinar yang berbeda, tapi mereka bersama-sama membuat keindahan di langit malam yang sering membuat takjub. Yah, percayalah pada dirimu sendiri. Meski kau gagal kali ini, percayalah suatu saat akan tiba waktunya kau akan tersenyum. Bahagia itu sederhana kawan. Jangan paksakan dirimu untuk tidak menjadi dirimu sendiri. Bahagia itu kau yang menentukan. Sama dengan bintang itu yang memancarkan cahaya dengan caranya sendiri. Dan mereka yang membuat indah sang malam. :)