Dalam syair duka, aku bahagia….
Dalam syair bahagia, aku berduka..
Ketika sebuah kata bersambung dengan kata yang lain,
Membentuk sebuah susunan kata yang lembut,
terdapat kata-kata duka…
seolah dunia tak lagi berputar…
dan bunga tak lagi mekar….
Tapi, relung hatiku merasa lega, lagi bahagia…
Ia tersenyum ceria,
Menguratkan cerita suka penyejuk jiwa…
Tanpa terseduh, tanpa terisak….
Tak ada yang memahami..
Ketika persoalan ada di dalam hati,
Yang ditanya ketika apa yang diyakini,
Dan seolah tak ada lagi..
Kisah duka itu,
Hanya ada di matamu,
Bayangmu dan dalam mimpimu…
Di dalam hatiku tak ada,
Bahkan tak tersirat…
Lalu, syair yang lain menuliskan cerita suka,
Seolah ia pembangkit semangat membara…
Sedang padaku ia
terbaca seperti sakit dan juga ‘ketergantungan’
Karena ia tak ada lagi..
Memang begini, ketika sebuah kata tertulis sama tapi berarti
beda..
Ketika ia datang, kau sambut ia dengan senyuman…
Namun, ketika ia datang padaku, ku sambut ia dengan
tangisan…
Ini fitrahku sebagai seorang perempuan,
Yang hatinya tercipta begitu peka pada apa yang terjadi…
Dan oleh karena itulah, aku memilih jalan ini yang kau
anggap kuno lagi ‘berani’…..
Terima kasih atas syairmu yang begitu mesra namun menusuk
hatiku..
Ini jalanku, dan
itulah jalanmu………..
