Tampilkan postingan dengan label hobby. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hobby. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 April 2015

Aneh

Sepoi-sepoi angin di luar. Di atasku bintang-bintang itu masih bersinar terang. Tapi, sekarang berbeda. Di bawahku ada pula bintang-bintang kecil. Ya, aku ada di ketinggian 1726 mdpl. Cita-cita yang telah lama ku ingini. Sedikit lebih dekat dengan sang langit.

Aku bahagia. Senyum di wajahku belum bisa hilang sedari tadi. Tapi, aku merasa ada yang aneh dengan diriku. Hatiku ku rasa kosong. Entahlah. Apa yang telah terjadi?

Selasa, 17 Maret 2015

Cuma bisa bilang Good Bye





Dalam syair duka, aku bahagia….
Dalam syair bahagia, aku berduka..

Ketika sebuah kata bersambung dengan kata yang lain,
Membentuk sebuah susunan kata yang lembut,
terdapat kata-kata duka…
seolah dunia tak lagi berputar…
dan bunga tak lagi mekar….

Tapi, relung hatiku merasa lega, lagi bahagia…
Ia tersenyum ceria,
Menguratkan cerita suka penyejuk jiwa…
Tanpa terseduh, tanpa terisak….

Tak ada yang memahami..
Ketika persoalan ada di dalam hati,
Yang ditanya ketika apa yang diyakini,
Dan seolah tak ada lagi..

Kisah duka itu,
Hanya ada di matamu,
Bayangmu dan dalam mimpimu…

Di dalam hatiku tak ada,
Bahkan tak tersirat…
Lalu, syair yang lain menuliskan cerita suka,
Seolah ia pembangkit semangat membara…
Sedang  padaku ia terbaca seperti sakit dan juga ‘ketergantungan’
Karena ia tak ada lagi..

Memang begini, ketika sebuah kata tertulis sama tapi berarti beda..

Ketika ia datang, kau sambut ia dengan senyuman…
Namun, ketika ia datang padaku, ku sambut ia dengan tangisan…

Ini fitrahku sebagai seorang perempuan,
Yang hatinya tercipta begitu peka pada apa yang terjadi…
Dan oleh karena itulah, aku memilih jalan ini yang kau anggap kuno lagi ‘berani’…..

Terima kasih atas syairmu yang begitu mesra namun menusuk hatiku..

Ini  jalanku, dan itulah jalanmu………..

Senin, 01 Desember 2014

File X X (3/10/2012)



Mataku bengkak, tubuhku lemas. Sudah satu jam aku menangis. Tapi, sepertinya hatiku masih merasa sakit. Ku tarik nafasku dan akupun mendesah panjang. Ku pandang lantai di depanku. Kosong, hitam, dan kotor. Aku bergidik. Lalu, tiba-tiba ku dengar suara….
“Apa benar aku adalah orang seperti yang dia katakan tadi? Apa benar aku adalah orang yang bermuka ganda dan memakai topeng? Apa benar jika semua yang aku lakukan bukanlah suatu hal yang tulus dan memiliki maksud tertentu? Apa aku…… apa aku benar-benar orang yang munafik?”
Aku bergidik! Itu suaraku sendiri!
Aku mencoba menggerakan bibirku dan berkata, “Aku adalah orang yang aku sendiri tidak mengetahui aku ini siapa. Aku adalah orang yang bermuka dua dan pintar berakting. Kalau begitu, aku pantas menjadi seorang pemain film….. Hahahaha!” Aku tertawa. Aku tertawa. Aku tertawa.
Tapi, hatiku masih sakit. Sekarang aku malah merasa jauh lebih sakit dari yang tadi! Tiba-tiba aku ingin menangis. Aku ingin menangis jauh lebih keras dan lebih dalam dari yang tadi! Dari satu jam sebelum ini!
Dan benar, aku menangis lagi. Dan kali ini aku merasa sangat lelah. Hingga akhirnya aku tertidur…..

•••

Aku melihat sebuah pisau di samping kiriku. Aku menatapnya tajam.
“Pisau, jika tanganku menyentuhmu pasti tanganku akan terluka bukan? Dan tanganku akan mengeluarkan darah. Apa jika hatiku menyentuhmu hatiku akan terluka juga dan akan mengeluarkan darah juga seperti tanganku ini?”
Iya, aku tidak akan tahu. Aku tidak akan tahu apa yang akan terjadi sebelum aku mencobanya. Aku menarik nafas dan berkata,
“Kau akan menyentuh hatiku sekarang wahai kau pisau yang tajam. Sentuhlah ia dengan setajam-tajamnya dirimu hingga ia mengeluarkan darah yang banyak. Kau tahu, aku sudah bosan punya hati……”
Dan aku menusukkan pisau itu tepat di hatiku….

•••

Tubuhku sakit, lemas, mataku berkunang-kunang. Ku lihat perutku. Aku merabanya. Tidak, tidak ada pisau. Tidak ada darah. Apa itu cuma mimpi? Aku melihat sekelilingku. Tempat ini kotor sekali, sunyi sekali, aku bahkan bisa mendengar suara hatiku sendiri. Aku di mana?
Aku berjalan, berjalan beberapa langkah, ku lihat sebuah kaca yang bening di depanku. Aku mendekat. Tapi, semakin aku mendekat semakin hitam kaca yang bening tadi.
“Hai, kaca… Apa yang terjadi padamu? Mengapa kau semakin hitam jika aku semakin mendekat padamu? Apa kau? Apa kau marah padaku?”
Aku masih berjalan mendekat. Aku mencoba meraba kaca itu. Debu. Banyak sekali debu di kaca ini. Apa aku bisa membersihkannya? Aku ingin sekali melihat kaca ini bersih dan bening lagi. Apa aku bisa melakukannya? Tapi, apa yang akan aku pakai untuk membersihkannya?
Ku lihat sekelilingku. Kotor. Tidak ada benda yang bisa aku gunakan untuk membersihkan kaca ini. Aku menarik nafas. Apa ini berarti selamanya aku tidak akan pernah bisa membersihkan kaca ini? Tapi, aku ingin sekali melihat kaca ini bersih. Aku ingin melihat bagaimana rupaku di dalamnya.
“Kaca, katakan sesuatu padaku. Katakan apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu. Aku tahu, kau tersiksa karena kau kotor sekali. Apa kau? Apa kau mengijinkanku?”
Aku tersenyum. Ku coba menyentuh lagi kaca itu. Dan tiba-tiba…. Kaca itu… Pecah… Sebelum aku sempat menyentuhnya, kaca itu…. Pecah….

•••

Di depanku ada jurang. Gelap, hitam, dan yang pasti, menakutkan. Aku mencoba melihat ke dalamnya.
“Kau tidak terlalu menakutkan jika aku mendekat. Kau juga tidak terlalu gelap jika aku mencoba benar-benar menatapmu dengan seksama. Kau ini, mau menipuku ya?”
Aku tersenyum. Aku berlari-lari di pinggir jurang itu.
“Ini menyenangkan! Sungguh! Ini membuatku bahagia dan tersenyum! Terima kasih karena telah membuatku merasa bahagia wahai jurang……”
Tiba-tiba angin dingin berhembus. Angin yang membuat aku menggigil. Tubuhku bergetar, gigiku bergemeretak, kakiku tidak sanggup lagi untuk berdiri.
“Angin, mengapa kau jahat sekali? Kau buat tubuhku bergetar. Mengapa kau jahat padaku?”

•••

            Ini taman bunga. Tapi, aku tidak suka bunga. Tapi, aku ada di taman bunga. Bukankah itu berarti aku harus menikmatinya? Bukankah itu berarti aku harus berusaha untuk menyukainya?
            “Bunga, kau tahu, aku tidak terlalu menyukaimu. Tapi, sekarang aku ada di rumahmu. Jadi, karena aku adalah tamu, aku akan berlaku baik padamu. Aku berjanji.”
            Angin sejuk berhembus. Bunga-bunga bergoyang. Wangi bunga menyergap masuk ke hidungku.
            “Hai, ini tidak terlalu buruk. Ku rasa aku bisa menyukaimu bunga.” Aku tersenyum.
            Aku menatap depanku. Aku melihat langit, matahari, dan pepohonan. Aku ingin berbalik dan melihat apa yang ada di belakangku. Tapi, tiba-tiba aku mendengar suara burung berkicau. Merdu, indah sekali.
            “Burung, kau sedang berbicara dengan siapa? Apa kau punya teman? Aku tidak punya teman. Apa kau mau menjadi temanku?”
            Burung itu terbang. Ku kira dia akan terbang menjauh. Tapi, dia malah mendekat dan hinggap di bahuku.
            “Apa ini artinya kau mau menjadi temanku? Baiklah, kita berteman.” Aku tersenyum dan burung itu terbang. Aku berlari mengejarnya. Tapi, sebelumnya, aku membalikkan tubuhku dan melihat belakang.
            Aku terkejut. Aku melihat bukit hitam yang gelap. Mataku berkunang-kunang. Aku ingin pingsan!
            Tapi, tiba-tiba ku dengar suara kicau burung itu lagi. Aku berbalik ke arah depan dan tersenyum, lalu berkata, “Aku. Aku tidak akan berbalik ke belakang dan melihat bukit itu lagi. Apa pun yang terjadi. Burung, karena kau adalah temanku, aku akan selalu ada di sampingmu. Aku berjanji.”
*********

Bisakah kau melihatnya? Ini bukan sekadar tulisan lhoooo

*********



Aku…
Tidak akan pernah bisa mengenal diriku sendiri,
Karena aku bukanlah yang menciptakan diriku sendiri,
Aku hanyalah manusia, yang selalu berbuat salah,
Bahkan ketika aku berusaha mengenal
siapa aku?

Semangat…
Yang kian patah dan tak tahu arah,
Membuat mata buta hingga salah melangkah,
Tapi, aku tidak akan mencoba,
Untuk menusukkan semangat patah ke dalam tubuhku,
Karena, semangat itu,
Ada di dalam diriku sendiri..

Hati…
Awal ku lihat dirimu,
Ku kira kau putih bersih, tapi, ternyata
Kau lebih kotor dari apapun,
Ijinkan aku untuk membersihkanmu, meski
aku terseok-seok untuk membersihkanmu,
Asal kau tidak hancur, dan meninggalkanku hingga aku tidak punya hati..

Kesenangan…
Aku tidak membutuhkanmu jika kau datang hanya sementara,
Lalu kau tiupkan malapetaka yang menakutkan untukku,
Ku katakan,
Aku benar-benar tidak membutuhkanmu…

Masa lalu …
Dirimu akan selalu ada,
Temaniku sampai aku tiada,
Tapi, kau tidak akan membuatku menghentikan langkah,
Karena kau adalah masa laluku,
Dan selamanya adalah masa laluku,

Apapun itu,
Yang ada di depanku,
Aku akan berusaha menyukainya, meski awalnya menakutkan untukku…
Aku akan berusaha!
Dan tidak berhenti sebelum aku benar-benar telah berusaha!

:)

Kamis, 09 Mei 2013

2/19/2010






Seperti waktu  yang tak mampu kuhentikan dan terus berjalan,
Seperti langkah kaki tanpa jejak,
Dan seperti mimpi,
Seolah seperti bukan apa-apa,
Tapi, nyatanya, hati terus bergerak dan meratap,

Sesuatu telah dicuri, oleh seseorang yang bahkan enggan atau malah tak pernah tau kalau dia telah mengambilnya..

Darimana aku belajar semua ini? Yang bahkan dulu aku tak pernah tahu bahkan tak mau tahu.

Benar,
Ternyata benar bahwa semua yang terjadi tak pernah terduga,
Mengetuk hatiku lembut, ketika aku membukanya, ia menghilang, dan meninggalkanku dalam keadaan bertanya-tanya apa yang telah terjadi.

Aku merasa konyol pada diriku sendiri dan apa yang hatiku cari,
Tapi, aku terus menghindar, seolah itu adalah keahlianku.

Bukankah harusnya aku bahagia?
Orang bilang jika sesuatu datang pada hatimu dan kau mulai merasa rindu maka kau akan merasa seperti memiliki dunia, seolah semua hal mampu membuatmu bahagia.
Tapi, lihatlah diriku, aku tak bahagia, bahkan sekarang aku menangis.
Apa itu artinya aku tak merasakan hal yang orang-orang bilang?

Sesaat, seperti aku ingin bahwa kau selalu ada,
Tapi, lebih lama lagi aku ingin kau pergi dan tak meninggalkan apapun untukku.
Apa ini nyata?
Merasakan dua hal dalam satu keadaan?

Kemudian aku tertawa, sekali lagi merasa bahwa ini sangat lucu.
Benar, ini bukan diriku,
Maka akan kutinggalkan dan serpihan itu akan kubiarkan terbang terbawa angin,

Untuk orang sepertiku, yang bahkan merasa tak pantas membiarkanmu mengetuk meski sangat pelan, ini sudah terlalu mampu membuatku bingung.

Haaa… katakan apa yang sedang terjadi dan pasti aku tertawa,

Aku jatuh cinta!

Katakan sekali lagi dan pasti aku akan tertawa sangat keras.

Aku jatuh cinta!

Hahahahaha……

Baby, I’m in love with you..

Hahahaha…
Hiks, hiks, hiks…

Ini salah,
awalnya aku merasa sedih, lalu, sekarang bahagia, dan kemudian sedih lagi.

Apa benar aku mampu merasakan hal-hal seperti itu?
Ah, andaipun iya, tak ada yang bisa aku lakukan,
Hanya bisa menghindar dan berharap ini semua tidak nyata,
Lari dan terus berlari…
Meski sesuatu yang telah dicuri terus meminta untuk dikembalikan,
Sesuatu yang ada di hati ini, sesuatu yang tak pernah aku rasakan sebelumnya, sesuatu yang membuatku bahagia dan juga hancur berkeping-keping.

Ahhh, aku pasti sudah gila!















untuk  dirimu,
seseorang yang telah mencoba mengetuk pintu hatiku,
kemudian pergi dengan tiba-tiba,
seperti mobil yang hanya ‘numpang lewat’ dalam kehidupanku,
sesuatu seperti dirimu…
yang meyakinkan dan menyadarkanku bahwa hatiku begitu rapuh olehmu,
bahwa setiap waktu teringat dengan namamu..
yang membuatku menganga tanpa berkata apa-apa,
aku berterima kasih,
dengan kau yang mencuri sesuatu yang berharga untukku,
yaitu hati dan perasaanku,

terima kasih, atas perasaan yang mampu aku rasakan dengan mengingatmu,
perasaan seperti ‘risih’ ketika aku mendengar nama bahkan melihatmu,
perasaan seperti ingin bertemu tapi selalu kututupi dengan tingkahku yang aneh..

terima kasih atas perasaan-perasaan yang tak pernah aku rasakan sebelumnya,
perasaan akan kenangan indah yang terasa,
meski cuma sesaat, tapi, akan aku simpan sedemikian rapi, hingga tidak ada satu orangpun yang mengetahuinya..

aku janji padamu takkan pernah ada yang mengetahuinya sampai takdir menuntunku dan berkata “ini yang terjadi”
karena aku..
wanita yang sedang jatuh cinta padamu…