Sebenarnya banyak hal yang bisa kita bicarakan, tapi toh kamu memilih untuk diam dan tidak peduli lagi :')
Ya sudah.
Sudah ya.
Aku berhenti sampai di sini.
Terima kasih untuk selama ini. 😊
The dream is just ahead of the tears, A flower from the smile after the tears stop, The bud that did its best will bloom before long... The dream is amidst the sweat, I'm always waiting for it to spout out, Until one day, for sure, The wish comes true ^_^
Sebenarnya banyak hal yang bisa kita bicarakan, tapi toh kamu memilih untuk diam dan tidak peduli lagi :')
Ya sudah.
Sudah ya.
Aku berhenti sampai di sini.
Terima kasih untuk selama ini. 😊
Saat kamu menghabiskan waktumu berjam-jam untuk menangis bahkan tertidur karenanya, dan saat kamu bangun anehnya hatimu terasa perih, dan kosong, saat itulah kamu tau kalau hatimu benar-benar sudah patah.
Dan hai hatiku, kamu kuat :)
Lain kali, jangan sembarangan membuka hati lagi :)
Sudah berkali-kali begini kan?
Bunga tanpa rumput
Atau wajah tanpa cacat
Sama dengan hidup tanpa tangisan
Dan kesempurnaan
Hanyalah memberi arti tanpa makna
Begitupun air mata
Dan harga dari tawa
Yang datang karenamu
Ingin melihat indahnya mutiara?
Tentu saja harus menyelam di laut yang dalam
Mencintaimu dengan sekedarnya, membencimu dengan sekedarnya
Kuharap nanti kita bisa hidup berdampingan selamanya :)
Jika tidak
Kau harus selalu bahagia
Di hatimu
Bukan hanya di wajah
Dan ingat,
Aku selalu memikirkanmu
Jikalau kau merasa sepi,
Ingatlah aku yang selalu bersamamu
Dalam doa
Hi mimpi-mimpi di masa depan dan kebahagiaan di masa lalu dan hari ini
Untuk inilah aku harus bersyukur dengan segalanya
Tidak ada yang pantas untuk ditangisi atau disesali :)
Apakah bijak untuk menjatuhkan hati padamu?
Apakah bijak untuk membuatku membutuhkanmu?
Kurasa tidak akan pernah ada jawaban yang tepat
Hanya dalam doa kita bisa sedekat yang aku inginkan
Aku tidak tahu dan hanya terlalu takut untuk berharap
Air mataku sudah kering dulu
Dan sekarang kau mulai menjatuhkan nya lagi :)
Apakah bijak untuk memikirkannya sekarang ini?
Tak perlu tertawa bersama untuk membuatku sadar betapa aku peduli padamu. Karena ternyata, hanya dengan memandang tawamu dari kejauhan, aku sudah merasa cukup adil dan bahagia.
Ra la la bagaimana kalau semua yang kamu inginkan cuma ada di kepalamu?
Untuk orang sepertiku, bermimpi tentang mu sudah lebih dari cukup. Aku tak pernah berharap lebih. Aku tak pernah punya keberanian untuk jujur.
Seakan aku selalu merasa ingin ditelan bumi. Apa pun yang kulakukan selalu salah. Berujung pada penyesalan.
Aku sudah dewasa. Tapi aku juga masih terlalu kecil. Aku belum pernah merasa apa yang orang lain rasa. Memiliki orang yang dicintai dan mencintai.
Aku hanyalah aku sang pemimpi.
Apa aku sebegitu inginnya? Ah, berbicara saja aku tak akan sanggup. Seakan tak akan pernah mungkin untukku.