Tampilkan postingan dengan label kebidanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kebidanan. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Mei 2013

fisiologi pengaturan suhu tubuh


BAB I
PENDAHULUAN

Memahami konsep pengaturan suhu tubuh penting karena sangat berguna dalam hal penelitian atau persoalan di klinik seperti:
1. Persoalan demam pada penyakit-penyakit
2. Persoalan pemberian hypothermic pada kasus pembedahan(bedah jantung)
3. Terapi pada kasus yang di sebabkan panas berlebihan (heat stroke) atau pada kasus   kedinginan yang ekstrem
4. Masalah-masalah militer (latihan dilapangan panas terbuka),ruang angkasa,atau ditempat-tempat yang memungkinkan mempunyai panas yang ektrem

Manusia dan binatang menyusui mempunyai kemampuan untuk memelihara suhu tubuh relatif konstan dan berlawanan dengan suhu lingkungan.kepentingan dipertahankan suhu tubuh pada manusia adalah berhubungan dengan reaksi kimia didalam tubuh kita.misalnya kenaikan suhu 10 derajat celcius bisa mempercepat proses biologis 2-3 kalinya.
Suhu inti (core temperature) manusia berflikutasi +1 derajat celcius dalam kegiatan sehari-hari. Misalnya paling rendah adalah waktu pagi hari (jam 4-6 subuh) dan mencapai puncaknya pada sore hari jam(2-3 sore).
 Suhu tubuh manusia cenderung berfluktuasi setiap saat. Untuk mempertahankan suhu tubuh manusia dalam keadaan konstan, diperlukan regulasi suhu tubuh. Suhu tubuh manusia diatur dengan mekanisme umpan balik (feed back) yang diperankan oleh pusat pengaturan suhu di hipotalamus.
Definisi
            Termo : Panas
Regulasi : Pengaturan
Jadi, termoregulasi adalah suatu pengaturan  fisiologis tubuh manusia mengenai keseimbangan produksi panas dan kehilangan panas sehingga suhu tubuh dapat dipertahankan secara konstan. Panas adalah energi kinetik pada gerakan molekul.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Prinsip Pengaturan Suhu Tubuh
      Konsep Core temperature yaitu dianggap merupakan dua bagian dalam soal pengaturan suhu yaitu :
a.      Bagian dalam inti suhu tubuh, yang benar- benar mempunyai suhu rata-rata 37 derajat Celcius, yaitu diukur pada daerah (mulut, otot, membrane tympani, vagina, esophagus.(Tr)
b.     Bagian luar adalah temperature kulit + 1/3 massa tubuh yaitu penukaran kulit sampai  + 2 cm kedalam.(Ts)
      Dari dua bagian tersebut dapat disimpulkan bahwa temperature suhu tubuh rata-rata (tmb : Temperatur Mean Body) dengan rumus ; TMB = 0,33 Ts + 0.67 Tr
B.  Organ Pengatur Suhu Tubuh
     Pusat pengatur panas dalam tubuh adalah Hypothalamus, Hipothalamus ini dikenal sebagai thermostat yang berada dibawah otak. Hipothalamus anterior berfungsi mengatur pembuangan panas. Hipothalamus posterior berfungsi mengatur upaya penyimpanan panas.
            Apabila pusat temperatur hipotalamus mendeteksi suhu tubuh yang terlalu panas, tubuh akan melakukan mekanisme umpan balik. Mekanisme umpan balik ini terjadi bila suhu inti tubuh telah melewati batas toleransi tubuh untuk mempertahankan suhu, yang disebut titik tetap (set point).
           Tubuh manusia memiliki seperangkat sistem yang memungkinkan tubuh menghasilkan, mendistribusikan, dan mempertahankan suhu tubuh dalam keadaan konstan.
Mekanisme pengaturan suhu
Kulit –> Reseptor ferifer –> hipotalamus (posterior dan anterior) –> Preoptika hypotalamus –> Nervus eferent –> kehilangan/pembentukan panas
C. Sumber Panas
1.    Kegiatan metabolisme tubuh adalah sumber utama dan pembentukan/pemberian panas tubuh. Pembentukan panas dari metabolisme dalam keadaan basal (BMR) + 70 kcal/jam sedang pada waktu kerja (kegiatan otot) naik sampai 20%.
2.   Bila dalam keadaan dingin seseorang menggigil maka produksi panas akan bertambah 5 kalinya.
3.   Tubuh manusia merupakan organ yang mampu menghasilkan panas secara mandiri dan tidak tergantung pada suhu lingkungan. à makhluk berdarah panas
Suhu tubuh dihasilkan dari :
           a. Laju metabolisme basal (basal metabolisme rate, BMR)
           b. Laju cadangan metabolisme yang disebabkan aktivitas otot (termasuk kontraksi otot akibat menggigil).
           c. Metabolisme tambahan akibat pengaruh hormon tiroksin dan sebagian kecil hormon lain, misalnya hormon pertumbuhan (growth hormone dan testosteron).
           d. Metabolisme tambahan akibat pengaruh epineprine, norepineprine, dan rangsangan simpatis pada sel.
           e. Metabolisme tambahan akibat peningkatan aktivitas kimiawi di dalam sel itu sendiri terutama bila temperatur menurun.

D.    Pelepasan Panas
1.    Penguapan (evaporasi)
         Penguapan dari tubuh merupakan salah satu jalan melepaskan panas. Walau tidak berkeringat, melalui kulit selalu ada air berdifusi sehingga penguapan dari permukaan tubuh kita selalu terjadi disebut inspiration perspiration (berkeringat tidak terasa) atau biasa disebut IWL (insensible water loss).
Inspiration perspiration melepaskan panas + 10 kcal/jam dari permukaan panas dari metabolisme dikeluarkan
àkulit. Dari jalan pernafasan + 7 kcal/jam dengan cara evaporasi 20 - 25%.
2.    Radiasi
            Permukaan tubuh
àBila suhu disekitar lebih panas dari badan akan menerima panas, bila disekitar dingin akan melepaskan panas. Proses ini àterjadi dalam bentuk gelombang elektromagnetik dengan kecepatan seperti cahaya radiasi.
3.    Konduksi
            Perpindahan panas dari atom ke atom/ molekul ke molekul dengan jalan pemindahan berturut turut dari energi kinetic. Pertukaran panas dari jalan ini dari tubuh terjadi sedikit sekali (kecuali menyiram dengan air)
4.    Konveksi
            Perpindahan panas dengan perantaraan gerakan molekul, gas atau cairan. Misalnya pada waktu dingin udara yang diikat/dilekat menjadi
àpada tubuh akan dipanaskan (dengan melalui konduksi dan radiasi) kurang padat, naik dan diganti udara yang lebih dingin. Biasanya ini kurang berperan dalam pertukaran panas.

E.     Pengaturan Suhu Tubuh Pada Keadaan Dingin
Ada dua mekanisme tubuh untuk keadaan dingin yaitu :
1.    Secara fisik (prinsif-prinsif ilmu alam) Yaitu pengaturan atau reaksi yang terdiri dari perubahan sirkulasi dan tegaknya bulu-bulu badan (piloerektion) –> erector villi
      Pengaturan secara fisik Dilakukan dengan dua cara :
a.       Vasokontriksi pembuluh darah (cutaneus vasokontriksi)
       Pada reaksi dingin aliran darah pada jari-jari ini bias berkurang + 1% dari pada dalam keadaan panas. Sehingga dengan mekanisme vasokontriksi maka panas yang keluar dikurangi atau penambahan isolator yang sama dengan memakai 1 rangkap pakaian lagi.
b.      Limit blood flow slufts (Perubahan aliran darah)
       Pada prinsifnya yaitu panas/temperature inti tubuh terutama akan lebih dihemat (dipertahankan) bila seluruh anggota badan didinginkan
2.     Secara kimia yaitu terdiri dari penambahan panas metabolisme.
            Pada keadaan dingin, penambahan panas dengan metabolisme akan terjadi baik secara sengaja dengan melakukan kegiatan otot-otot ataupun dengan cara menggigil. Menggigil adalah kontraksi otot secara kuat dan lalu lemah bergantian, secara synkron terjadi kontraksi pada group-group kecil motor unit alau seluruh otot. Pada menggigil kadang terjadi kontraksi secara simultan sehingga seluruh badan kaku dan terjadi spasme. Menggigil efektif untuk pembentukan panas, dengan menggigil pada suhu 5 derajat Celcius selama 60 menit produksi panas meningkat 2 kali dari basal, dengan batas maximal 5 kali.

F.     Pengaturan Suhu Tubuh dalam Keadaan Panas
1.    Fisik
• Penambahan aliran darah permukaan tubuh
• Terjadi aliran darah maximum pada anggota badan
• Perubahan (shift) dari venus return ke vena permukaan
            Proses ini terutama efektif pada keadaan temperature kurang/dibawah 34 derajat Celcius. penambahan penambahan konduktivitas panas (thermal
àaliran darah konduktivity).

2.    Keringat
a.       Pada temperature diatas 340 C, pengaturan sirkulasi panas tidak cukup dengan radiasi, dimana pada kondisi ini tubuh mendapat panas dari radiasi. mekanisme panas yang dipakai dalam keadaan ini dengan cara penguapanà (evaporasi).
b.     Gerakan kontraksi pada kelenjar keringat, berfungsi secara keringatàperiodic memompa tetesan cairan keringat dari lumen permukaan kulit merupakan mekanisme pendingin yang paling efektif.

G.    Mekanisme Demam
     Demam adalah peningkatan titik patokan (set-point) suhu di hipotalamus. Dengan meningkatkan titik patokan tersebut, maka hipotalamus mengirim sinyal untuk mningkatkan suhu tubuh. Tubuh berespons dengan menggigil dan meningkatkan metabolisme basal.
1.   Demam timbul sebagai respons terhadap pembentukan interleukin-1, yang disebut pirogen endogen.
2.    Interleukin-1 dibebaskan oleh neutrofil aktif, makrofag, dan sel-sel yang mengalami cedera.
3.    Interlekin-1 tampaknya menyebabkan panas dengan menghasilkan prostaglandin yang merangsang hipotalamus.
BAB III
PENUTUP
           
            Tubuh dapat dianggap sebagai inti penghasil panas (organ internal, SSP, dan otot rangka) yang dikelilingi oleh suatu lapisan pelindung yang kapasitasnya insulatifnya berubah-ubah. Kulit mempertukaran energi panas dengan lingkungan eksternal, dengan arah dan jumlah perpindahan panas bergantung pada suhu lingkungan dan kapasitas insulatif dengan pelindung tersebut. Empat cara fisik untuk mempertukaran panas antara tubuh dan lingkungan eksternal adalah radiasi, konduksi, konveksi, dan evaporasi. Karena energy panas berpindah dari benda yang lebih panas ke benda yang lebih dingin, radiasi, konduksi, konveksi dapat disalurkan untuk menyebabkan penambahan atau pengurangan panas.
            Untuk mencegah malfugsi sel yang serius, suhu inti harus dipertahankan konstan sekitar 37C dengan secara terus menerus menyeimbangkan penambahan dan pengurangan panas walaupun suhu lingkungan dan produksi panas internal berubah-ubah.
            Keseimbangan termogulatorik diatur oleh hipotalamus . Penambahan panas terjadi karena produksi panas oleh aktivitas metabolik (yang paling berperan kontraksi otot rangka). Pengurangan panas terjadi melalui proses berkeringat.  
          Vasokonstriksi pembuluh kulit mengurangi aliran darah hangat ke kulit, sehingga suhu kulit turun. Sebaliknya, vasodilatasi kulit mengantarkan darah hangat ke kulit sehingga suhu kulit medekati suhu inti.
 Mekanisme tubuh ketika suhu tubuh meningkat :
a.  Vasodilatasi à disebabkan oleh hambatan dari pusat simpatis pada hipotalamus posterior (penyebab vasokontriksi) sehingga terjadi vasodilatasi yang kuat pada kulit, yang memungkinkan percepatan pemindahan panas dari tubuh ke kulit hingga delapan kali lipat lebih banyak.
b. Berkeringat à pengeluaran keringat menyebabkan peningkatan pengeluaran panas  melalui evaporasi.
c. Penurunan pembentukan panas à Beberapa mekanisme pembentukan panas, seperti  termogenesis kimia dan menggigil dihambat dengan kuat.

Mekanisme tubuh ketika suhu tubuh menurun :
a. Vasokontriksi kulit di seluruh tubuh à karena rangsangan pada pusat simpatis hipotalamus posterior.
b. Piloereksi à Rangsangan simpatis menyebabkan otot erektor pili yang melekat pada folikel rambut berdiri.
c. Peningkatan pembentukan panas à sistem metabolisme meningkat melalui mekanisme menggigil, pembentukan panas akibat rangsangan simpatis, serta peningkatan sekresi tiroksin.
DAFTAR PUSTAKA



Anderson, P.D. (1999), Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia, Jones and Barret Publisher   Boston, Edisi Bahasa Indonesia, EGC, Jakarta (BU 2)
Pearce, EC. (1999). Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis, Gramedia, Jakarta (BA1)
Price, Sylvia Anderson, Lorraine McCarty Wilson. 1994. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta: EGC.
http: www.google.co.id

Kamis, 09 Mei 2013

fisiologi masa nifas

BAB I

PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama 6 - 8 minggu. Periode nifas merupakan masa kritis bagi ibu, diperkirakan bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan, yang mana 50% dari kematian ibu tersebut terjadi dalam 24 jam pertama setelah persalinan. Selain itu, masa nifas ini juga merupakan masa kritis bagi bayi , sebab dua pertiga kematian bayi terjadi dalam 4 minggu setelah persalinan dan 60% kematian bayi baru lahir terjadi dalam waktu 7 hari setelah lahir (Saifuddin et al, 2002). Untuk itu perawatan selama masa nifas merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan.
Perawatan masa nifas mencakup berbagai aspek mulai dari pengaturan dalam mobilisasi, anjuran untuk kebersihan diri , pengaturan diet, pengaturan miksi dan defekasi, perawatan payudara (mammae) yang ditujukan terutama untuk kelancaran pemberian air susu ibu guna pemenuhan nutrisi bayi, dan lain-lain (Rustam Mochtar, 1998 dan Saifuddin et al, 2002).
Selain perawatan nifas dengan memanfaatkan sistem pelayanan biomedical, ada juga ditemukan sejumlah pengetahuan dan perilaku budaya dalam perawatan masa nifas. Para ahli antropologi melihat bahwa pembentukan janin, kelahiran, dan masa pasca kelahiran pada umumnya dianggap oleh berbagai masyarakat di berbagai penjuru dunia sebagai peristiwa-peristiwa yang wajar dalam kehidupan manusia. Namun respon masyarakat terhadap berbagai peristiwa kehidupan ini bersifat budaya, yang tidak selalu sama pada berbagai kelompok masyarakat (Swasono, 1998).
Pada masyarakat Bandanaera, Kabupaten Maluku Tengah, perawatan postpartum dilakukan dengan memberikan minuman yang salah satu bahannya dari jeruk nipis, pemberian makanan berupa rujak dalam beberapa jam setelah persalinan selesai, penyembuhan luka jalan lahir dengan menggunakan pasir panas, perawatan dengan pengurutan, penguapan badan, konsumsi jamu-jamuan dan aneka perlakuan lainnya yang bertujuan untuk kesejahteraan ibu dan bayinya (Swasono, 1998).
Pada masyarakat Bajo di Saloso, Kabupaten Kendari, untuk keselamatan ibu dan bayinya dilakukan upacara adat dengan berbagai syarat dan aturan yang harus dipenuhi selama proses maupun sebelum proses upacara tersebut terlaksana. Begitu juga pada masyarakat Aceh yang memiliki aturan berupa pantangan meninggalkan rumah selama 44 hari bagi wanita yang baru melahirkan. Anjuran untuk berbaring selama masa nifas, perawatan nifas dengan pengurutan, penghangatan badan, konsumsi minuman berupa jamu-jamuan dan pantangan makan-makanan tertentu (Swasono, 1998).
Berbeda dengan etnis Tionghoa, yang merupakan salah satu etnis pendatang di Indonesia yang jumlahnya cukup besar dibandingkan masyarakat pendatang lainnya, yang memiliki aturan bagi perempuan selama masa nifas meliputi pantangan bagi wanita nifas untuk keluar rumah selama satu bulan, tidak boleh mandi dan keramas selama satu bulan dengan alasan kondisi ibu yang dianggap dingin setelah melahirkan sehingga bila terpapar sesuatu yang dingin lagi akan menyebabkan masuk angin. Pantangan makan makanan yang bersifat dingin, kekhususan dalam mengolah makanan, juga penyajian makanan yang juga dilakukan secara khusus (Mahriani, 2008). Berdasarkan fakta yang terjadi pada masyarakat di atas, dapatlah dikatakan bahwa memang benar ada beberapa nilai kepercayaaan masyarakat yang berhubungan dengan perawatan postpartum. Mengingat bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang multikultural, maka fenomena tersebut sangat wajar terjadi. Pengetahuan tentang aspek budaya merupakan hal penting diketahui oleh pelayan kesehatan untuk memudahkan dalam melakukan pendekatan dan pelayanan kesehatan. Sebab, tidak semua perawatan yang dilakukan dengan berpedoman pada warisan leluhur tersebut bisa diterima sepenuhnya, bisa saja perawatan-perawatan yang dilakukan tersebut memberikan dampak kesehatan yang kurang menguntungkan bagi ibu dan bayinya. Hal ini tentu saja memerlukan perhatian khusus untuk mengatasinya (Swasono, 1998).
B.    Tujuan
1.     Tujuan umum
Ø  Membantu ibu dan pasangannya selama masa transisi awal mengasuh anak.
2.     Tujuan khusus
Ø  Menjaga kesehatan ibu dan bayi baik fisik maupun psikologisnya.
Ø  Melaksanakan skrining yang komprehensif, Mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu dan bayinya.
Ø  Memberikan pendidikan kesehatan, tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, KB, menyusui, pemberian imunisasi dan perawatan bayi sehat.
Ø  Memberikan pelayanan keluarga berencana.
C.    Manfaat
1.     Bagi institusi pendidikan
Sebagai salah satu bahan kepustakaan penananan kasus pada klien 2 jam post partum.
2.     Bagi lahan praktek
Dapat memberikan suatu masukan dalam upaya peningkatan mutu dan pelayanan pada klien post partum hari ke 1 fisiologis.
3.     Bagi penulis
Mampu melaksanakandan menerapkan asuhan kebidanan pada klien post partum hari 1 fisiologi sesuai dengan kriteria dan teori yang didapat dan mendokumentasikan dalam bentuk tulisan.
BAB II

PEMBAHASAN


A.    Pengertian masa nifas
Masa nifas  (puerperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas atau puerperium dimulai sejak 2 jam setelah lahirnya plasenta sampai dengan 6 minggu (42 hari) setelah itu. Dalam bahasa latin, waktu mulai tertentu setelah bayi ini disebut puerperium yaitu dari kata puer yang artinya bayi dan parous melahirkan. Jadi, puerperium berarti masa setelah melahirkan bayi.
Puerperium adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan  kambali seperti pra hamil. Sekitar 50% kematian ibu terjadi dalam 24 jam pertama postpartum sehingga pelayanan pasca-persalinan yang berkualitas harus terselenggara pada masa itu untuk memenuhi kebutuhan ibu dan bayi.

B.     Tujuan Masa Nifas
Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologik. Mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat. Memberikan pelayanan keluarga berencana.

C.    Periode Masa Nifas
Masa nifas ini di bagi menjadi dalam 3 periode antara lain :
1.     Puerperium dini yaitu kepulihan ketika ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan.
2.     Puerperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genital.
3.     Remote puerperium yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna, terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna mungkin beberapa minggu, bulan atau tahun.
D.    Perubahan Terjadi Pada Masa Nifas
Selama hamil, terjadi perubahan pada sistem tubuh wanita, diantaranya terjadi perubahan pada sistem reproduksi, sistem pencernaan, sistem perkemihan, sistem musculoskeletal, sistem endokrin, sistem kardiovaskuler, sistem hematologi, dan perubahan pada tanda-tanda vital. Pada masa postpartum perubahan-perubahan tersebut akan kembali menjadi seperti saat sebelum hamil. Adapun perubahannya adalah sebagai berikut :
1.     Autolysis
Merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi di dalam otot uterine. Enzim proteolitik akan memendekkan jaringan otot yang telah mengendur hingga panjangnya 10 kali panjang sebelum hamil dan lebarnya 5 kali lebar sebelum hamil yang terjadi selama kehamilan.
2.     Terdapat polymorph phagolitik dan macrophages di dalam system vascular dan system limphatik.
3.     Efek oksitosin (cara bekerjanya oksitosin)
Oksitosin menyebabkan terjadinya kontraksi dan retraksi otot uterin sehingga akan menekan pembuluh darah yang mengakibatkan berkurangnya suplai darah ke uterus. Proses ini membantu untuk mengurangi situs atau tempat implantasi plasenta serta mengurangi perdarahan.

E.     Perubahan Fisiologis Masa Nifas
Waktu
Bobot Uterus
Diameter Uterus
Palpasi Serviks
Pada akhir persalinan
900 gram
12,5 cm
Lembut/lunak
Akhir minggu ke-1
450 gram
7,5 cm
2 cm
Akhir minggu ke-2
200 gram
5,0 cm
1 cm
Akhir minggu ke-6
60 gram
2,5 cm
Menyempit
1.     Perubahan pada uterus

a.        Passaa.            Perubahan pada pembuluh darah uterus
Kehamilan yang sukses membutuhkan peningkatan aliran darahnuterus yang cukup besar. Untuk menyuplainya, arteri dan vena di dalam uterus (terutama di plasenta) menjadi luar biasa membesar, begitu juga pembuluh darah dari dan ke uterus. Di dalam uterus, pembentukan pembuluh-pembuluh darah baru juga menyebabkan peningkatan aliran darah yang bermakna. Setelah pelahiran, caliber pembuluh darah ekstrauterin berkurang sampai, atau paling tidak, mendekati keadaan sebelum hamil.
Di dalam uterus nifas, pembuluh darah mengalami obliterasi akibat perubahan hialin, dan pembuluh-pembuluh yang lebih kecil menggantikannya. Resorpsi residu hialin dilakukan melalui suatu proses yang menyerupai proses pada ovarium setelah ovulasi dan pembentukan korpus luteum. Namun, sisa-sisa dalam jumlah kecil dapat bertahan selama bertahun-tahun.
b.     Perubahan pada serviks dan segmen bawah uterus
Tepi luar serviks, yang berhubungan dengan os eksternum, biasanya mengalami laserasi terutama di bagian lateral. Ostium serviks berkontraksi perlahan, dan beberapa hari setelah bersalin ostium serviks hanya dapat ditembus oleh dua jari. Pada akhir minggu pertama, ostium tersebut telah menyempit. Karena ostium menyempit, serviks menebal dan kanal kembali terbentuk. Meskipun involusi telah selesai, os eksternum tidak dapat sepenuhnya kembali ke penemapakannya sebelum hamil. Os ini tetap agak melebar, dan depresi bilateral pada lokasi laserasi menetap sebagai perubahan yang permanen dan menjadi cirri khas serviks para. Harus diingat juga bahwa epitel serviks menjalani pembentukan kembali dalam jumlag yang cukup banyak sebagai akibat pelahiran bayi.
Segmen bawah uterus yang mengalami penipisan cukup bermakna akan berkontraksi dan tertarik kembali, tapi tidak sekuat pada korpus uteri. Dalam waktu beberapa minggu, segmen bawah telah mengalami perubahan dari sebuah struktur yang tampak jelas dan cukup besar untuk menampung hampir sebagian besar kepala janin, menjadi isthmus uteri yang hampir tak terlihat dan terletak di antara korpus uteri di atasnya dan os internum serviks di bawahnya.
c.      Involusi korpus uterus
Involusi uterius adalah perubahan yang merupakan proses kembalinya alat kandungan atau uterius dan jalan lahir setelah bayi lahir hingga mencapai keadaan sebelum hamil. Proses involusi terjadi karena adanya proses autolisis aktifitas otot-otot dan iskhemia dimana protein dinding rahim dipecah, diaborsi dan kemudian dibuang melalui urine.
1)  Bekas implantasi plasenta segera setelah plasenta lahir seluas 12x5 cm, permukaan kasar dimana pembuluh darah besar bermuara.
2)  Pada pembuluh darah terjadi pembentukan trombosis disamping pembuluh darah tertutup karena kontraksi otot rahim.
3)  Bekas luka implantasi dengan cepat mengecil pada minggu ke 2 sebesar 6-8 cm dan pada akhir masa nifas sebesar 2 cm.
4)  Lapisan endometrium dilepaskan dalam bentuk jaringan nekrosis bersama dengan lochea. Luka bekas implantasi plasenta akan sembuh karena pertumbuhan endometrium yang berasal dari tepi luka dan lapisan basalis endometrium.
5)  Luka bekas implantasi plasenta akan sembuh karena pertumbuhan endometrium yang berasal dari tepi luka dan lapisan basalis endometrium.
6)  Luka sembuh sempurna pada 6-8 minggu post partum.
d.     Lokhea
Involusi uteri menyebabkan lapisan luar desidua yang mengelilingi situs plasenta menjadi nekrotik.  Desidua yang mati akan keluar bersama dengan sisa cairan. Percampuran antara darah dan desidua inilah yang dinamakan lokia. Lochea merupakan ekskresi cairan rahim selama masa nifas. Lochea mengandung darah dan sisa jaringan desidua yang nekrotik dari dalam uterus.
1)  Proses keluarnya lochea terdiri atas 4 tahapan
a)   Lochea rubra/merah (kruenta): muncul hari 1 sampai hari ke 4.
b)  Lochea sanguinolenta: berlangsung hari ke 4 sampai hari ke 7 post partum.
c)   Lochea serosa: muncul hari ke 7 sampai hari ke 14 post partum.
d)  Lochea alba/putih: berlangsung selama 2 minggu sampai 6 minggu post partum.
e)   Lokhea  purulenta: keluarnya cairan seperti nanah,berbau busuk,dan telah terjadi infeksi.
f)   Lochiotosis: jika lochea tidak lancar keluarnya.

Lokia
Waktu
Warna
Ciri-ciri
Rubra
1-4 hari
Merah kehitaman
Terdiri dari sel desidua, verniks caseosa, rambut lanugo, sisa mekoneum dan sisa darah
Sanguilenta
4-7 hari
Putih bercampur merah
Sisa darah bercampur lendir
Serosa
7-14 hari
Kekuningan/ kecoklatan
Lebih sedikit darah dan lebih banyak serum, juga terdiri dari leukosit dan robekan laserasi plasenta
Alba
>14 hari
Putih
Mengandung leukosit, selaput lendir serviks dan serabut jaringan yang mati.

e.      Regenerasi Endometrium
Proses regenerasi endometrium berlangsung cepat, kecuali pada tempat melekatnya plasenta. Dalam satu minggu atau lebih, permukaan bebas menjadi tertutup oleh epitel dan seluruh endometrium pulih kembali dalam minggu ketiga.
Subinvolusi yaitu keadaan menetapnya atau terjadinya retardasi involusi, proses yang normalnya menyebabkan uterus nifas kembali ke bentuk semula. Pross ini disertai pemanjangan masa pengeluaran lokhea dan perdarahan uterus yang berlebihan atau ireguler dan terkadang juga disertai perdarahan hebat. Pada pemeriksaan bimanual, uterus teraba lebih besar dan lebih lunak dibanding normal untuk periode nifas tertentu. Penyebab subinvolusi yang telah diketahui antara lain retensi potongan plasenta dan infeksi.
2.     Perubahan pada serviks, vulva dan vagina
Setelah persalinan bentuk serviks agak menganga seperti corong berwarna merah kehitaman. Konsistensinya lunak, kadang-kadang terdapat perlukaan-perlukaan kecil. Setelah bayi lahir tangan masih bisa masuk rongga rahim, setelah 2 jam dapat dilalui 2-3 jari dan setelah 7 hari hanya dapat dilalui 1 jari.
Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang sangat besar selama proses melahirkan bayi, dan dalam beberapa hari pertama sesudah proses tersebut, kedua organ ini tetap berada dalam keadaan kendur. Setelah 3 minggu vulva dan vagina kembali kepada keadaan tidak hamil dan rugae dalam vagina secara berangsur-angsur akan muncul kembali sementara labia manjadi lebih menonjol. Vagina dan lubang vagina pada awal nifas merupakan suatu saluran yang luas berdinding tipis. Lama kelamaan luasnya berkurang tetapi jarang sekali kembali ke ukuran semula (nulipara). Rugae timbul kembali pada minggu ke-3, hymen berubah menjadi karun kulae mitiformis yang merupakan ciri khas dari wanita multipara.
3.     Payudara
Payudara menjadi besar, keras dan menghitam di sekitar puting susu, ini menandakan dimulainya proses menyusui. Segera menyusui bayi sesaat setelah lahir (walaupun ASI belum keluar). Pada hari ke 2 hingga ke 3 akan diproduksi kolostrum atau susu jolong yaitu ASI berwarna kuning keruh yang kaya akan anti body, dan protein.
4.     Perubahan Sistem perkemihan
a.      Sistem Urinarius
Perubahan hormonal pada masa hamil (kadar steroid yang tinggi) turut menyebabkan peningkatan fungsi ginjal, sedangkan penurunan kadar steroid setelah wanita melahirkan sebagian menjelaskan penyebab penurunan fungsi ginjal selama masa postpartum.
b.     Komponen Urine
Glikosuria ginjal diinduksikan oleh kehamilan menghilang. Laktosuria positif pada ibu menyusui merupakan hal yang normal. Blood Urea Nitrogen(BUN) yang meningkat selama pascapartum, merupakan akibat autolysis uterus yang berinvolusi. Pemecahan kelebihan protein dalam sel otot uterus juga menyebabkan proteinuria ringan (+1) selama satu sampai dua hari setelah wanita melahirkan.
c.      Diuresis Postpartum
Dalam 12 jam pasca melahirkan, ibu mulai membuang kelebihan cairan yang tertimbun di jaringan selama ia hamil. Salah satu mekanisme untuk mengurangi cairan yang teretensi selama masa hamil ialah diaphoresis luas, terutama pada malam hari selama 2-3 hari pertama setelah melahirkan. Diuresis pascapartum, yang disebabkan oleh penurunan kadar estrogen, hilangnya peningkatan tekanan vena pada tingkat bawah, dan hilangnya peningkatan volume darah akibat kehamilan merupakan mekanisme tubuh untuk mengatasi kelebihan cairan.
d.   Uretra dan Kandung Kemih
Distensi kandung kemih yang muncul segera setelah wanita melahirkan dapat menyebabkan perdarahan berlebih karena keadaan ini bisa menghambat uterus berkontraksi dengan baik. Pada masa pascapartum tahap lanjut, distensi yang berlebihan ini dapat menyebabkan kandung kemih lebih peka terhadap infeksi sehingga mengganggu proses berkemih normal. Apabila terjadi distensi berlebih pada kandung kemih dapat mengalami kerusakan lebih lanjut(atoni). Dengan mengosongkan  kandung kemih secara adekuat, tonus kandung kemih biasanya akan pulih kembali dalam 5-7 hari setelah bayi lahir.
5.     Perubahan endokrin
Hormon-hormon yang berperan pada proses tersebut, antara lain:
a.      Hormon Plasenta
      Pengeluaran plasenta menyebabkan penurunan hormon yang diproduksi oleh plasenta. Hormon plasenta menurun dengan cepat pasca persalinan. Penurunan hormon plasenta (human placental lactogen) menyebabkan kadar gula darah menurun pada masa nifas. Human Chorionic Gonadotropin (HCG) menurun dengan cepat dan menetap sampai 10% dalam 3 jam hingga hari ke-7 post partum dan sebagai onset pemenuhan mamae pada hari ke-3 post partum.
b.     Hormon pituitary.
            Hormon pituitary antara lain: hormon prolaktin, FSH dan LH. Hormon prolaktin darah meningkat dengan cepat, pada wanita tidak menyusui menurun dalam waktu 2 minggu. Hormon prolaktin berperan dalam pembesaran payudara untuk merangsang produksi susu. FSH dan LH meningkat pada fase konsentrasi folikuler pada minggu ke-3, dan LH tetap rendah hingga ovulasi terjadi.
c.      Hipotalamik pituitary ovarium.
            Hipotalamik pituitary ovarium akan mempengaruhi lamanya mendapatkan menstruasi pada wanita yang menyusui maupun yang tidak menyusui. Pada wanita manyusui mendapatkan menstruasi pada 6 minggu pasca melahirkan berkisar 16% dan 45% setelah 12 minggu pasca melahirkan. Sedangkan pada wanita yang tidak menyusui, akan mendapatkan menstruasi berkisar 40% setelah 6 minggu pasca melahirkan dan 90% setelah 24 minggu.
d.   Hormon oksitosin.
            Hormon oksitosin disekresikan dari kelenjar otak bagian belakang, bekerja terhadap otot uterus dan jaringan payudara. Selama tahap ketiga persalinan, hormon oksitosin berperan dalam pelepasan plasenta dan mempertahankan kontraksi, sehingga mencegah perdarahan. Isapan bayi dapat merangsang produksi ASI dan sekresi oksitosin, sehingga dapat membantu involusi uteri.
e.      Hormon estrogen dan progesteron
            Volume darah normal selama kehamilan, akan meningkat. Hormon estrogen yang tinggi memperbesar hormon anti diuretik yang dapat meningkatkan volume darah.Sedangkan hormon progesteron mempengaruhi otot halus yang mengurangi perangsangan dan peningkatan pembuluh darah. Hal ini mempengaruhi saluran kemih,ginjal, usus, dinding vena, dasar panggul, perineum dan vulva serta vagina.
6.     Perubahan sistem pencernaan
a.      Nafsu Makan
Ibu biasanya merasa lapar segera setelah melahirkan sehingga ia boleh mengonsumsi makanan ringan. Ibu sering kali cepat lapar setelah melahirkan dan siap makan pada 1-2jam post-primordial, dan dapat ditoleransi dengan diet yang ringan.setelah benar-benar pulih dari efek analgesia, anestesia, dan keletihan, kebanyakan ibu merasa sangat lapar.
b.     Motilitas
Secara khas, penurunan tonus dan motilitas otot traktus cerna menetap selama waktu yang singkat setelah bayi lahir. Kelebihan analgesia dan anastesia bisa memperlambat pengembalian tonus dan motilitas ke keadaan normal.
c.      Pengosongan Usus
Secara spontan BAB bisa tertunda selama 2-3 hari setelah ibu melahirkan karena tonus otot usus menurun selama proses persalinan dan pada awal masa pascapartum, diare sebelum persalinan, enema sebelum melahirkan, kurang makan, atau dehidrasi. Sistem pencernaan pada masa nifas membutuhkan waktu yang berangsur-angsur untuk kembali normal. Pola makan ibu nifas tidak akan  seperti biasa dalam beberapa hari dan perineum ibu akan terasa sakit untuk defekasi. Faktor-faktor tersebut mendukung konstipasi pada ibu nifas dalam minggu pertama. Akan tetapi, terjadinya konstipasi juga dapat dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan ibu dan kekhawatiran lukanya akan terbuka bila ibu BAB.
7.     Perubahan Sistem Hematologi
Selama minggu-minggu kehamilan, kadar fibrinogen dan plasma, serta faktor-faktor pembekuan darah meningkat. Pada hari pertama postpartum, kadar fibrinogen dan plasma akan sedikit menurun, tetapi darah lebih mengental dengan peningkatan viskositas sehingga meningkatkan faktor pembekuan darah.
Jumlah hemoglobin, hematokrit, dan eritrosit akan sangat bervariasi pada awal-awal masa postpartum sebagai akibat volume darah.Volume plasenta dan tingkat volume darah yang berubah-ubah akan dipengaruhi oleh status gizi wanita tersebut. Kira-kira selama kelahiran dan masa post partum terjadi kehilangan darah 200-500 ml. Penurunan volume dan peningkatan sel darah pada kehamilan diasosiasikan dengan peningkatan hematokrit dan hemoglobin pada hari ke 3-7 postpartum dan akan kembali normal dalam 4-5 minggu postpartum.
8.     Penurunan berat badan
Setelah melahirkan ibu akan kehilangan 5-6 kg berat badannya yang berasal dari bayi, ari-ari, air ketuban dan perdarahan persalinan, 2-3 kg lagi melalui air kencing sebagai usaha tubuh untuk mengeluarkan timbunan cairan waktu hamil.
9.     Perubahan sistem kardiovaskuler
a.      Volume Darah
Perubahan volume darah bergantung pada beberapa factor,misalnya kehilangan darah selama melahirkan dan mobilisasi,serta pengeluaran cairan ekstravaskular ( edema fisiologis). Kehilangan darah merupakan akibat penurunan volume darah total yang cepat,tetapi terbatas.setelah itu terjadi perpindahan normal cairan tubuh yang menyebabkan volume darah menurun dengan lambat.Bila kelahiran melalui SC,maka kehilangan darah dapat dua kali lipat.Pada persalinan pervaginam,hematokrit akan naik,sedangkan pada SC,hematokrit cenderung stabil dan kembali normal setelah 4-6 minggu.
Tiga perubahan fisiologi pasca partum yang terjadi pada wanita antara lain sebagai berikut:
1)  Hilangnya sirkulasi Uteroplasenta yang mengurangi ukuran pembuluh darah maternal 10-15%.
2)  Hilangnya fungsi endokrin plasenta yang menghilangkan stimulus vasodilatasi.
3)  Terjadinya mobilisasi air ekstravaskuler yang disimpan selama wanita hamil.
b.     Curah Jantung
  Denyut jantung, volume sekuncup, dan curah jantung meningkat sepanjang masa hamil. Segera setelah wanita melahirkan keadaan ini meningkat bahkan lebih tinggi selama 30-60 menit karena darah yang biasanya melintasi sirkulasi uteroplasenta tiba-tiba kembali ke sirkulasi umum. Nilai ini meningkat pada semua jenis kelahiran.
10.  Perubahan tanda-tanda vital
a.      Suhu badan, setelah melahirkan biasanya agak meningkat sebagai akibat kerja keras waktu melahirkan, kehilangan cairan, kelelahan dan setelah 12 jam akan kembali normal. Waspadai jika sampai terjadi panas tinggi, karena dikhawatirkan sebagai salah satu tanda infeksi atau tanda bahaya lain.
b.     Nadi, denyut nadi normal pada orang deawasa 60 – 80 x /menit. Setelah melahirkan biasanya denyut nadi itu akan lebih cepat.
c.      Tekanan Darah, biasanya tidak berubah, kemungkinan tekanan darah akan rendah setelah melahirkan karena ada pendarahan.Tekanan darah tinggi pada postpartum dapat menandakan terjadinya preeklamsia postpartum.
d.     Pernapasan, keadaan pernapasan selalu berhubungan dengan keaaan suhu dan denyut nadi. Bila suhu nadi tidak normal, pernapasan juga akan mengikutiya, kecuali apabila ada gangguan khusus pada saluran napas.
11.  Perubahan emosi
Emosi yang berubah-ubah (mudah sedih, khawatir, tiba-tiba bahagia) disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain adanya perubahan hormon, keletihan ibu, kurangnya perhatian keluarga, kurangnya pengetahuan akan cara merawat bayi serta konflik dalam rumah tangga. Perubahan ini memiliki berbagai bentuk dan variasi dan akan berangsur-angsur normal sampai pada pekan ke 12 setelah melahirkan.
F.     Adaptasi Psikologi Masa Nifas
Pengalaman menjadi orang tua khususnya menjadi seorang ibu tidaklah selalu merupakan suatu hal yang menyenangkan bagi setiap wanita atau pasangan suami istri. Realisasi tanggung jawab sebagai seorang ibu setelah melahirkan bayi sering kali menimbulkan konflik dalam diri seorang wanita dan merupakan faktor pemicu munculnya gangguan emosi, intelektual dan tingkah laku pada seorang wanita. Beberapa penyesuaian dibutuhkan oleh wanita dalam menghadapi aktivitas dan peran barunya sebagai seorang ibu. Sebagian wanita berhasil menyesuaikan diri dan mengalami gangguan-gangguan psikologis dengan berbagai gejala atau sindrom yang oleh para peneliti dan klinisi disebut posartum blues.
Proses adaptasi psikologi sudah terjadi selama kehamilan, menjelang proses kelahiran maupun setelah persalinan. Pada periode tersebut, kecemasan seorang wanita dapat bertambah. Pengalaman yang unik dialami oleh ibu setelah persalinan. Masa nifas merupakan masa yang rentan dan terbuka untuk bimbingan dan pembelajaran. Perubahan peran seorang ibu memerlukan adaptasi. Tanggung jawab ibu mulai bertambah.
Hal-hal yang dapat membantu ibu dalam beradaptasi pada masa nifas adalah sebagai berikut:
  1. Fungsi menjadi orang tua
  2. Respon dan dukungan dari keluarga
  3. Riwayat dan pengalaman kehamilan serta persalinan
  4. Harapan, keinginan dan aspirasi saat hamil dan melahirkan
Fase-fase yang akan dialami oleh ibu pada masa nifas antara lain:
  1. Fase taking in
Fase ini merupakan periode ketergantungan, yang berlangsung dari hari pertama sampai hari ke dua setelah melahirkan. Ibu terfokus pada dirinya sendiri, sehingga cenderung pasif terhadap lingkungannya. Ketidaknyamanan yang dialami antara lain rasa mules, nyeri pada luka jahitan, kurang tidur, kelelahan. Hal yang perlu diperhatikan pada fase ini adalah istirahat cukup, komunikasi yang baik dan asupan nutrisi.
Gangguan psikologis yang dapat dialami oleh ibu pada fase ini adalah:
a.      Kekecewaan pada bayinya.
b.     Ketidaknyamanan sebagai akibat perubahan fisik yang dialami.
c.      Rasa bersalah karena belum bisa menyusui bayinya.
d.     Kritikan suami atau keluarga tentang perawatan bayinya.
  1. Fase taking hold
Fase ini berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan. Ibu merasa khawatir akan ketidakmampuan dan rasa tanggung jawab dalam perawatan bayinya. Perasaan ibu lebih sensitif sehingga mudah tersinggung. Hal yang perlu diperhatikan adalah komunikasi yang baik, dukungan dan pemberian penyuluhan/pendidikan kesehatan tentang perawatan diri dan bayinya. Tugas bidan antara lain: mengajarkan cara perawatan bayi, cara menyusui yang benar, cara perawatan luka jahitan, senam nifas, pendidikan kesehatan gizi, istirahat, kebersihan diri dan lain-lain.
  1. Fase letting go
Fase ini merupakan fase menerima tanggungjawab akan peran barunya. Fase ini berlangsung 10 hari setelah melahirkan. Ibu sudah mulai dapat menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayinya. Terjadi peningkatan akan perawatan diri dan bayinya. Ibu merasa percaya diri akan peran barunya, lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan dirinya dan bayinya. Dukungan suami dan keluarga dapat membantu merawat bayi. Kebutuhan akan istirahat masih diperlukan ibu untuk menjaga kondisi fisiknya

POSTPARTUM BLUES
 Postpartum blues atau sering juga disebut maternity blues atau sindrom ibu baru, dimengerti  sebagai suatu sindrom gangguan efek ringan pada minggu pertama setelah persalinan dengan ditandai gejala-gejala berikut ini:
1.     Reaksi depresi/ sedih/disforia.
2.     Sering menangis.
3.     Mudah tersinggung.
4.     Cemas.
5.     Labilitas perasaan.
6.     Cenderung menyalahkan diri sendiri.
7.     Gangguan tidur dan gangguan nafsu makan.
8.     Kelelahan.
9.     Mudah sedih.
10.  Cepat marah.
11.  Mood mudah berubah, cepat menjadi sedih dan cepat menjadi gembira.
12.  Perasaan terjebak dan juga marah terhadap pasangannya,serta bayinya.
13.  Perasaan bersalah.
14.  Pelupa.
Puncak dari postpartum blues ini 3-5 hari setelah melahirkan dan berlangsung dari beberapa hari sampai 2 minggu.postpartum blues tidak mengganggu kemampuan seorang wanita untuk merawat bayinya sehingga ibu dengan postpartum blues masih bisa merawat bayinya.
Faktor-faktor penyebab timbulnya postpartum blues :
1.     Faktor hormonal berupa perubahan kadar estrogen, progesteron, prolaktin dan estriol yg terlalu rendah
  1. Ketidaknyamanan fisik menimbulkan gangguan emosional, mis payudara bengkak, nyeri jahitan, mules
  2. Ketidakmampuan beradaptasi terhadap perubahan fisik dan emosional yg kompleks
  3. Faktor umur dan paritas (jml anak)
  4. Pengalaman dlmproses kehamilan dan persalinan
  5. Latar belakan psikososial, mis tkt pendidikan, status perkawinan, ktd, riwayat gangguan kejiwaan, sosial ekonomi
  6. Kecukupan dukungan dr lingkungan (suami, keluarga, teman)
  7. Stres dlm keluarga, mis faktor ekonomi memburuk, persoalan dg suami, mertua, orang tua
  8. Stres yg dialami wanita itu sendiri, mis ASI tdk keluar, bayi tdk mau tidur, nangis dan gumoh, stres melihat bayi sakit, rasa bosan dg hidup yg dijalani
  9. Kelelahan pasca melahirkan
  10. Perubahan peran yg dialami ibu
  11. Rasa memiliki bayi yg terlalu dalam sehingga timbul rasa takut kehilangan anaknya
  12. Problem anak. Timbul rasa cemburu dari anak sebelumnya sehingga mengganggu emosi ibu
Cara mengatasi post portum blues:
1.     Komunikasikan sgl permasalahan yang ingin diungkapkan.
  1. Bicarakan rasa cemas yg dialami.
  2. Bersikap ikhlas menerima aktifitas dan peran baru.
  3. Bersikap fleksibel dan tdk terlalu perfeksionis dlm merawat bayi dan rumah tangga.
  4. Belajar tenang dg menarik nafas panjang dan meditasi.
  5. Berolahraga ringan.
  6. Bergabung dengan kelompok ibu-ibu baru.
  7. Dukungan tenaga kesehatan.
  8. Dukungan suami, keluarga, teman.
  9. Konsultasikan pada dokter atau profesional agar dapat meminimalisir faktor resiko lainnya.
Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) yaitu alat untuk melakukan skrening, berupa kuesioner dengan validitas yang teruji yang mengukur intensitas perubahan suasana depresi selama 7 hair pascasalin.
1.     Pertanyaan berhubungan dengan labilitas perasaan, kecemasan, perasaan bersalah, hal lain yang terdapat pada postpartum blues.
  1. Kuesioner terdiri dari 10 pertanyaan dengan 4 pilihan jawaban yang mempunyai nilai skor dan harus dipilih sesuai dengan gradasi perasaan ibu.
  2. Harus dijawab sendiri oleh ibu dalam waktu 5 menit. Alat ini telah teruji validitasnya di Belanda, Swedia, Australia, Italia, dan Indonesia
Kiat mengurangi resiko terjadinya depresi post partum :
1.      Persiapan diri yang baik.
2.     Olahraga dan nutrisi yang cukup.
3.     Support mental dari lingkungan sekitar.
4.     Ungkapkan apa yang dirasakan.
5.     Mencari informasi tentang depresi postpartum.
6.     Menghindari perubahan hidup yang drastic.
7.     Melakukan pekerjaan rumah tangga.
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil yang berlangsung kira-kira 6 minggu. (Abdul Bari, 2000:122).
Selama masa nifas, ada beberapa perubahan yang terjadi pada ibu, yaitu perubahan fisiologis dan psikologis ibu. Perubahan fisiologis yang terjadi pada ibu di antaranya yaitu perubahan uterus, perubahan pada serviks, vulva, dan vagina, perubahan pada sistem perkemihan, dll.
Sementara itu, adaptasi psikologis pada ibu nifas juga diperlukan. Masa nifas merupakan masa yang rentan dan terbuka untuk bimbingan dan pembelajaran. Perubahan peran seorang ibu memerlukan adaptasi.
DAFTAR PUSTAKA

Dewi,Vivian, Nanny Lia Sunarsih. 2011. Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas. Jakarta : Salemba  Medika.
Cunningham, F. Carry, dkk. 2005. Obstetric Williams Edisi 21. Jakarta: EGC.


by: bidan respati