Senin, 18 Mei 2015

Suara

Suara yang indah itu muncul
Tatkala pagi, siang ataupun malam

Suara yang indah itu disertai
senyum lega dari calon bapak dan ibumu

Suara yang indah itu menghapuskan
keringat dan lelah kami

Suara yang indah itu mengingatkan
bahwa kau telah lahir, sebagai individu baru
Harapan baru

Suara yang indah itu, lengkungan tinggimu, membuat aku merasa lega dan bangga

Tangisanmu wahai adik bayi

Membuat aku bersyukur atas hidup ini

Rindu

Saat kami tertawa dunia serasa milik kami.

Tugas kami berat, tuntutan pekerjaan kami juga bukan main-main. Tapi, aku heran kenapa kami bisa tidak depresi walaupun kami setiap hari berhadapan dengan maut.

Jihadnya seorang wanita. Sakit yang 1000 kali lebih sakit.

Aku tersenyum. Bila kesabaran ada habisnya untuk manusia, maka kami harus melepas kemanusiaan kami demi nama pelayanan.

Ah, tugas yang berat ini. Aku menikmatinya. Pun denganmu. Kita bercanda tentang hal-hal yang aneh. Dan aku lupa akan segala tuntutan yang berat di depan kita. Kitalah bidan. Sang penerima kehidupan. Begitu katamu.

Aku merindukanmu sahabatku

Langit

Dalam dunia bisnis tidak ada yang lain selain untung dan rugi
Ketulusan yang dulu kupercayai, perlahan mulai hilang

Hujan yang jatuh dari langit itu mengenaimu. Kamu melihat ke atas dan malah tersenyum. Langit menyapa. Begitu pikirmu.
Di depanmu ada banyak orang. Tapi kau tetap merasa kesepian. Ada apa sayang?

Seorang teman datang dan memberikan bahunya untukmu bersandar. Kau hanya tersenyum, malah kau berbaring di rerumputan. Langit. Itulah yang kau pandangi.

Kau pikir semua ini tentang satu. Ternyata tentang banyak hal. Kau menertawai dirimu sendiri karena kau rasa kau bodoh. Bagaimana kau percaya hal-hal itu? Ah, rumput bergoyang yang mulai berisik.

Kau mulai bertanya-tanya apa kau benar keras kepala atau hanya mempertahankan ego?

Pada akhirnya kau menatap ke atas. Lagi. Langit itu luas. Begitu pula dengan dunia. Hukum ketetapan yang dulu kau ragukan. Sekarang mulai kau pelajari lagi. Alkimia.

kenyataan yang membuat aku tertawa

saat aku melihatnya aku teringat akan diriku dulu
ketika aku masih hijau
ketika kau bisa aku perjuangkan
ketika aku menangis karena hatiku telah tercuri olehmu
dan ketika aku bingung karena aku kehilangan separuh hati

Aku agak sedikit kesal, padanya karena seolah tidak mau memperjuangkan bunganya
tapi aku juga mengerti bahwa bunga yang tumbuh di tanah yang tidak tepat tidak bisa dipelihara

Dia bilang itu belum bunga, masih benih yang ia simpan, dan dia menyerahkannya pada sang waktu,
akankah benih itu mekar ataukah layu?

Ah ini yang tidak aku mengerti

Sabtu, 16 Mei 2015

Rupa malam

Dalam rupa malam aku bicara
tentang langit, pohon, dan air

Apa yang bisa digapai oleh tangan kecil ini?
Ketika langit terlalu tinggi,
Pohon terlalu besar,
Dan air terlalu jernih

Namun ketika aku menutup mata
Langit tak terlalu tinggi, dan seakan aku menjadi satu dengan bintang

Bila benar aku kecil karena aku yang menginginkannya
Bolehkah kubuang diriku?
Karena aku ingin menyelam di air yang jernih itu

Dia

Semua tentangmu membuatku berpikir tentang masa lalu. Tentang cerita yang agaknya milik kita. Atau hanya sekadar milikku sendiri.

Aku bahagia saat kau bahagia. Kata-kata itu yang terus kukatakan pada diriku sendiri. Tapi, ternyata aku sadar. Aku tidak tulus mengatakannya. Kata-kata itu adalah kata-kata yang menghiburku, membuatku merasa yakin bahwa aku tidak terluka karena mencintaimu. Kata-kata itu adalah keegoisanku yang paling nyata.

Dan barangkali sekarang saat melihatmu bahagia, aku tersenyum meski hatiku masih menangis. Aku merindukanmu.

Jumat, 15 Mei 2015

Angin dingin

Angin dingin di pegunungan, membisikan suara-suara

Bagi dia yg hatinya lemah, menciutkan nyali untuk terus melangkah
Bagi dia yg menghela rindu, membakar semangat untuk bisa bertemu

Dan bagiku adalah pengalaman yg baru

Angin dingin di pegunungan, seakan mengusikku

Untuk apa aku berada di sini? jauh dari rumah dan keluargaku

Angin dingin di pegunungan, benar-benar menggodaku

Saat kulihat kawan yang berlarian kesana kemari bagai ingin memeluknya namun malah menepisnya

Angin dingin di pegunungan, membuatku merasa malu
Akan keberaniannya menari dan menghampiri si gunung yang gagah

Pada akhirnya, angin dingin di pegunungan membuatku ingat
Akan malam-malam itu
Malam dikala aku menjadi orang yang baru