BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Masa
nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat
kandungan pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung
selama 6 - 8 minggu. Periode nifas merupakan masa kritis bagi ibu, diperkirakan
bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan, yang mana
50% dari kematian ibu tersebut terjadi dalam 24 jam pertama setelah persalinan.
Selain itu, masa nifas ini juga merupakan masa kritis bagi bayi , sebab dua
pertiga kematian bayi terjadi dalam 4 minggu setelah persalinan dan 60% kematian
bayi baru lahir terjadi dalam waktu 7 hari setelah lahir (Saifuddin et al,
2002). Untuk itu perawatan selama masa nifas merupakan hal yang sangat penting
untuk diperhatikan.
Perawatan
masa nifas mencakup berbagai aspek mulai dari pengaturan dalam mobilisasi,
anjuran untuk kebersihan diri , pengaturan diet, pengaturan miksi dan defekasi,
perawatan payudara (mammae) yang ditujukan terutama untuk kelancaran pemberian
air susu ibu guna pemenuhan nutrisi bayi, dan lain-lain (Rustam Mochtar, 1998
dan Saifuddin et al, 2002).
Selain
perawatan nifas dengan memanfaatkan sistem pelayanan biomedical, ada juga
ditemukan sejumlah pengetahuan dan perilaku budaya dalam perawatan masa nifas.
Para ahli antropologi melihat bahwa pembentukan janin, kelahiran, dan masa
pasca kelahiran pada umumnya dianggap oleh berbagai masyarakat di berbagai
penjuru dunia sebagai peristiwa-peristiwa yang wajar dalam kehidupan manusia.
Namun respon masyarakat terhadap berbagai peristiwa kehidupan ini bersifat
budaya, yang tidak selalu sama pada berbagai kelompok masyarakat (Swasono,
1998).
Pada
masyarakat Bandanaera, Kabupaten Maluku Tengah, perawatan postpartum dilakukan
dengan memberikan minuman yang salah satu bahannya dari jeruk nipis, pemberian
makanan berupa rujak dalam beberapa jam setelah persalinan selesai, penyembuhan
luka jalan lahir dengan menggunakan pasir panas, perawatan dengan pengurutan,
penguapan badan, konsumsi jamu-jamuan dan aneka perlakuan lainnya yang
bertujuan untuk kesejahteraan ibu dan bayinya (Swasono, 1998).
Pada
masyarakat Bajo di Saloso, Kabupaten Kendari, untuk keselamatan ibu dan bayinya
dilakukan upacara adat dengan berbagai syarat dan aturan yang harus dipenuhi
selama proses maupun sebelum proses upacara tersebut terlaksana. Begitu juga
pada masyarakat Aceh yang memiliki aturan berupa pantangan meninggalkan rumah
selama 44 hari bagi wanita yang baru melahirkan. Anjuran untuk berbaring selama
masa nifas, perawatan nifas dengan pengurutan, penghangatan badan, konsumsi
minuman berupa jamu-jamuan dan pantangan makan-makanan tertentu (Swasono,
1998).
Berbeda
dengan etnis Tionghoa, yang merupakan salah satu etnis pendatang di Indonesia
yang jumlahnya cukup besar dibandingkan masyarakat pendatang lainnya, yang
memiliki aturan bagi perempuan selama masa nifas meliputi pantangan bagi wanita
nifas untuk keluar rumah selama satu bulan, tidak boleh mandi dan keramas
selama satu bulan dengan alasan kondisi ibu yang dianggap dingin setelah
melahirkan sehingga bila terpapar sesuatu yang dingin lagi akan menyebabkan
masuk angin. Pantangan makan makanan yang bersifat dingin, kekhususan dalam
mengolah makanan, juga penyajian makanan yang juga dilakukan secara khusus
(Mahriani, 2008). Berdasarkan
fakta yang terjadi pada masyarakat di atas, dapatlah dikatakan bahwa memang
benar ada beberapa nilai kepercayaaan masyarakat yang berhubungan dengan
perawatan postpartum. Mengingat bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat
yang multikultural, maka fenomena tersebut sangat wajar terjadi. Pengetahuan tentang
aspek budaya merupakan hal penting diketahui oleh pelayan kesehatan untuk
memudahkan dalam melakukan pendekatan dan pelayanan kesehatan. Sebab, tidak
semua perawatan yang dilakukan dengan berpedoman pada warisan leluhur tersebut
bisa diterima sepenuhnya, bisa saja perawatan-perawatan yang dilakukan tersebut
memberikan dampak kesehatan yang kurang menguntungkan bagi ibu dan bayinya. Hal
ini tentu saja memerlukan perhatian khusus untuk mengatasinya (Swasono, 1998).
B.
Tujuan
1.
Tujuan umum
Ø
Membantu ibu dan pasangannya selama
masa transisi awal mengasuh anak.
2.
Tujuan khusus
Ø
Menjaga kesehatan ibu dan bayi baik
fisik maupun psikologisnya.
Ø
Melaksanakan skrining yang
komprehensif, Mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi
komplikasi pada ibu dan bayinya.
Ø
Memberikan pendidikan kesehatan,
tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, KB, menyusui, pemberian imunisasi dan
perawatan bayi sehat.
Ø
Memberikan pelayanan keluarga
berencana.
C.
Manfaat
1.
Bagi institusi pendidikan
Sebagai
salah satu bahan kepustakaan penananan kasus pada klien 2 jam post partum.
2.
Bagi lahan praktek
Dapat
memberikan suatu masukan dalam upaya peningkatan mutu dan pelayanan pada klien
post partum hari ke 1 fisiologis.
3.
Bagi penulis
Mampu
melaksanakandan menerapkan asuhan kebidanan pada klien post partum hari 1
fisiologi sesuai dengan kriteria dan teori yang didapat dan mendokumentasikan
dalam bentuk tulisan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian masa nifas
Masa nifas (puerperium) dimulai setelah kelahiran
plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan
sebelum hamil. Masa nifas atau puerperium dimulai sejak 2 jam setelah lahirnya
plasenta sampai dengan 6 minggu (42 hari) setelah itu. Dalam bahasa latin, waktu
mulai tertentu setelah bayi ini disebut puerperium
yaitu dari kata puer yang artinya
bayi dan parous melahirkan. Jadi, puerperium
berarti masa setelah melahirkan bayi.
Puerperium adalah masa pulih kembali, mulai dari
persalinan selesai sampai alat-alat kandungan
kambali seperti pra hamil. Sekitar 50% kematian ibu terjadi dalam 24 jam
pertama postpartum sehingga pelayanan pasca-persalinan yang berkualitas harus
terselenggara pada masa itu untuk memenuhi kebutuhan ibu dan bayi.
B. Tujuan
Masa Nifas
Menjaga kesehatan ibu dan bayinya,
baik fisik maupun psikologik. Mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila
terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya. Memberikan pendidikan kesehatan
tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian
imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat. Memberikan pelayanan
keluarga berencana.
C. Periode
Masa Nifas
Masa nifas ini di bagi menjadi dalam
3 periode antara lain :
1.
Puerperium dini yaitu kepulihan ketika ibu telah
diperbolehkan berdiri dan berjalan.
2.
Puerperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat
genital.
3.
Remote puerperium yaitu waktu yang diperlukan untuk
pulih dan sehat sempurna, terutama bila selama hamil atau
waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna mungkin
beberapa minggu, bulan atau tahun.
D. Perubahan
Terjadi Pada Masa Nifas
Selama hamil, terjadi perubahan pada
sistem tubuh wanita, diantaranya terjadi perubahan pada sistem reproduksi,
sistem pencernaan, sistem perkemihan, sistem musculoskeletal, sistem endokrin,
sistem kardiovaskuler, sistem hematologi, dan perubahan pada tanda-tanda vital.
Pada masa postpartum perubahan-perubahan tersebut akan kembali menjadi seperti
saat sebelum hamil. Adapun perubahannya adalah sebagai berikut :
1.
Autolysis
Merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi di
dalam otot uterine. Enzim proteolitik akan memendekkan jaringan otot yang telah
mengendur hingga panjangnya 10 kali panjang sebelum hamil dan lebarnya 5 kali
lebar sebelum hamil yang terjadi selama kehamilan.
2.
Terdapat polymorph phagolitik dan macrophages di dalam
system vascular dan system limphatik.
3.
Efek oksitosin (cara bekerjanya oksitosin)
Oksitosin menyebabkan terjadinya kontraksi dan retraksi otot
uterin sehingga akan menekan pembuluh darah yang mengakibatkan berkurangnya
suplai darah ke uterus. Proses ini membantu untuk mengurangi situs atau tempat
implantasi plasenta serta mengurangi perdarahan.
E. Perubahan Fisiologis
Masa Nifas
Waktu
|
Bobot Uterus
|
Diameter Uterus
|
Palpasi Serviks
|
Pada akhir persalinan
|
900 gram
|
12,5 cm
|
Lembut/lunak
|
Akhir minggu ke-1
|
450 gram
|
7,5 cm
|
2 cm
|
Akhir minggu ke-2
|
200 gram
|
5,0 cm
|
1 cm
|
Akhir minggu ke-6
|
60 gram
|
2,5 cm
|
Menyempit
|
1. Perubahan
pada uterus
a.
Passaa. Perubahan
pada pembuluh darah uterus
Kehamilan yang sukses
membutuhkan peningkatan aliran darahnuterus yang cukup besar. Untuk
menyuplainya, arteri dan vena di dalam uterus (terutama di plasenta) menjadi
luar biasa membesar, begitu juga pembuluh darah dari dan ke uterus. Di dalam
uterus, pembentukan pembuluh-pembuluh darah baru juga menyebabkan peningkatan
aliran darah yang bermakna. Setelah pelahiran, caliber pembuluh darah
ekstrauterin berkurang sampai, atau paling tidak, mendekati keadaan sebelum
hamil.
Di dalam uterus nifas,
pembuluh darah mengalami obliterasi akibat perubahan hialin, dan
pembuluh-pembuluh yang lebih kecil menggantikannya. Resorpsi residu hialin
dilakukan melalui suatu proses yang menyerupai proses pada ovarium setelah
ovulasi dan pembentukan korpus luteum. Namun, sisa-sisa dalam jumlah kecil
dapat bertahan selama bertahun-tahun.
b. Perubahan
pada serviks dan segmen bawah uterus
Tepi
luar serviks, yang berhubungan dengan os eksternum, biasanya mengalami laserasi terutama di bagian
lateral. Ostium serviks berkontraksi perlahan, dan beberapa hari setelah
bersalin ostium serviks hanya dapat ditembus oleh dua jari. Pada akhir minggu
pertama, ostium tersebut telah menyempit. Karena ostium menyempit, serviks
menebal dan kanal kembali terbentuk. Meskipun involusi telah selesai, os eksternum
tidak dapat sepenuhnya kembali ke penemapakannya sebelum hamil. Os ini tetap
agak melebar, dan depresi bilateral pada lokasi laserasi menetap sebagai
perubahan yang permanen dan menjadi cirri khas serviks para. Harus diingat juga bahwa epitel serviks menjalani pembentukan
kembali dalam jumlag yang cukup banyak sebagai akibat pelahiran bayi.
Segmen
bawah uterus yang mengalami penipisan cukup bermakna akan berkontraksi dan
tertarik kembali, tapi tidak sekuat pada korpus uteri. Dalam waktu beberapa
minggu, segmen bawah telah mengalami perubahan dari sebuah struktur yang tampak
jelas dan cukup besar untuk menampung hampir sebagian besar kepala janin,
menjadi isthmus uteri yang hampir tak terlihat dan terletak di antara korpus
uteri di atasnya dan os internum serviks di bawahnya.
c. Involusi
korpus uterus
Involusi uterius adalah perubahan
yang merupakan proses kembalinya alat kandungan atau uterius dan jalan lahir
setelah bayi lahir hingga mencapai keadaan sebelum hamil. Proses involusi terjadi karena adanya
proses autolisis aktifitas otot-otot dan iskhemia dimana protein dinding rahim dipecah, diaborsi dan kemudian dibuang
melalui urine.
1) Bekas implantasi plasenta segera setelah plasenta
lahir seluas 12x5 cm, permukaan kasar dimana pembuluh darah besar bermuara.
2) Pada pembuluh darah terjadi pembentukan trombosis
disamping pembuluh darah tertutup karena kontraksi otot rahim.
3) Bekas luka implantasi dengan cepat mengecil pada
minggu ke 2 sebesar 6-8 cm dan pada akhir masa nifas sebesar 2 cm.
4) Lapisan endometrium dilepaskan dalam bentuk jaringan
nekrosis bersama dengan lochea. Luka bekas implantasi plasenta akan sembuh
karena pertumbuhan endometrium yang berasal dari tepi luka dan lapisan basalis
endometrium.
5) Luka bekas implantasi plasenta akan sembuh karena
pertumbuhan endometrium yang berasal dari tepi luka dan lapisan basalis
endometrium.
6) Luka sembuh sempurna pada 6-8 minggu post partum.
d.
Lokhea
Involusi uteri menyebabkan lapisan luar desidua yang mengelilingi situs
plasenta menjadi nekrotik. Desidua yang mati akan keluar bersama dengan sisa
cairan. Percampuran antara darah dan desidua inilah yang dinamakan lokia. Lochea merupakan ekskresi cairan rahim selama masa
nifas. Lochea mengandung darah dan sisa jaringan desidua yang nekrotik dari
dalam uterus.
1) Proses keluarnya lochea terdiri atas 4 tahapan
a) Lochea rubra/merah (kruenta): muncul hari 1 sampai
hari ke 4.
b) Lochea sanguinolenta: berlangsung hari ke 4 sampai
hari ke 7 post partum.
c) Lochea serosa: muncul hari ke 7 sampai hari ke 14 post
partum.
d) Lochea alba/putih: berlangsung selama 2 minggu sampai
6 minggu post partum.
e) Lokhea purulenta:
keluarnya cairan seperti nanah,berbau busuk,dan telah
terjadi infeksi.
f) Lochiotosis: jika lochea tidak lancar
keluarnya.
Lokia
|
Waktu
|
Warna
|
Ciri-ciri
|
Rubra
|
1-4 hari
|
Merah kehitaman
|
Terdiri dari sel
desidua, verniks caseosa, rambut lanugo, sisa mekoneum dan sisa darah
|
Sanguilenta
|
4-7 hari
|
Putih bercampur merah
|
Sisa darah
bercampur lendir
|
Serosa
|
7-14 hari
|
Kekuningan/ kecoklatan
|
Lebih sedikit
darah dan lebih banyak serum, juga terdiri dari leukosit dan robekan laserasi
plasenta
|
Alba
|
>14 hari
|
Putih
|
Mengandung
leukosit, selaput lendir serviks dan serabut jaringan yang mati.
|
e.
Regenerasi
Endometrium
Proses
regenerasi endometrium berlangsung cepat, kecuali pada tempat melekatnya
plasenta. Dalam satu minggu atau lebih, permukaan bebas menjadi tertutup oleh
epitel dan seluruh endometrium pulih kembali dalam minggu ketiga.
Subinvolusi
yaitu keadaan menetapnya atau terjadinya retardasi involusi, proses yang
normalnya menyebabkan uterus nifas kembali ke bentuk semula. Pross ini disertai
pemanjangan masa pengeluaran lokhea dan perdarahan uterus yang berlebihan atau
ireguler dan terkadang juga disertai perdarahan hebat. Pada pemeriksaan
bimanual, uterus teraba lebih besar dan lebih lunak dibanding normal untuk
periode nifas tertentu. Penyebab subinvolusi yang telah diketahui antara lain
retensi potongan plasenta dan infeksi.
2.
Perubahan pada
serviks, vulva dan vagina
Setelah
persalinan bentuk serviks agak menganga seperti corong berwarna merah
kehitaman. Konsistensinya lunak, kadang-kadang
terdapat perlukaan-perlukaan kecil. Setelah bayi lahir tangan masih bisa masuk
rongga rahim, setelah 2 jam dapat dilalui 2-3 jari dan setelah 7 hari hanya
dapat dilalui 1 jari.
Vulva
dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang sangat besar selama proses
melahirkan bayi, dan dalam beberapa hari pertama sesudah proses tersebut, kedua
organ ini tetap berada dalam keadaan kendur. Setelah 3 minggu vulva dan vagina
kembali kepada keadaan tidak hamil dan rugae dalam vagina secara
berangsur-angsur akan muncul kembali sementara labia manjadi lebih menonjol. Vagina dan lubang
vagina pada awal nifas merupakan suatu saluran yang luas berdinding tipis. Lama
kelamaan luasnya berkurang tetapi jarang sekali kembali ke ukuran semula
(nulipara). Rugae
timbul kembali pada minggu ke-3, hymen berubah menjadi karun kulae
mitiformis yang
merupakan ciri khas dari
wanita multipara.
3. Payudara
Payudara menjadi besar, keras dan
menghitam di sekitar puting susu, ini menandakan dimulainya proses menyusui.
Segera menyusui bayi sesaat setelah lahir (walaupun ASI belum keluar). Pada
hari ke 2 hingga ke 3 akan diproduksi kolostrum atau susu jolong yaitu ASI
berwarna kuning keruh yang kaya akan anti body, dan protein.
4.
Perubahan Sistem perkemihan
a.
Sistem Urinarius
Perubahan
hormonal pada masa hamil (kadar steroid yang tinggi) turut menyebabkan
peningkatan fungsi ginjal, sedangkan penurunan kadar steroid setelah wanita melahirkan
sebagian menjelaskan penyebab penurunan fungsi ginjal selama masa postpartum.
b.
Komponen Urine
Glikosuria
ginjal diinduksikan oleh kehamilan menghilang. Laktosuria positif pada ibu
menyusui merupakan hal yang normal. Blood Urea Nitrogen(BUN) yang meningkat
selama pascapartum, merupakan akibat autolysis uterus yang berinvolusi. Pemecahan
kelebihan protein dalam sel otot uterus juga menyebabkan proteinuria ringan (+1)
selama satu sampai dua hari setelah wanita melahirkan.
c. Diuresis Postpartum
Dalam 12 jam pasca melahirkan, ibu mulai membuang
kelebihan cairan yang tertimbun di jaringan selama ia hamil. Salah satu
mekanisme untuk mengurangi cairan yang teretensi selama masa hamil ialah
diaphoresis luas, terutama pada malam hari selama 2-3 hari pertama setelah
melahirkan. Diuresis pascapartum, yang disebabkan oleh penurunan kadar
estrogen, hilangnya peningkatan tekanan vena pada tingkat bawah, dan hilangnya
peningkatan volume darah akibat kehamilan merupakan mekanisme tubuh untuk
mengatasi kelebihan cairan.
d.
Uretra dan
Kandung Kemih
Distensi
kandung kemih yang muncul segera setelah wanita melahirkan dapat menyebabkan
perdarahan berlebih karena keadaan ini bisa menghambat uterus berkontraksi
dengan baik. Pada masa pascapartum tahap lanjut, distensi yang berlebihan ini
dapat menyebabkan kandung kemih lebih peka terhadap infeksi sehingga mengganggu
proses berkemih normal. Apabila terjadi distensi berlebih pada kandung kemih
dapat mengalami kerusakan lebih lanjut(atoni). Dengan mengosongkan kandung kemih secara adekuat, tonus kandung
kemih biasanya akan pulih kembali dalam 5-7 hari setelah bayi lahir.
5.
Perubahan
endokrin
Hormon-hormon yang berperan pada proses tersebut,
antara lain:
a.
Hormon Plasenta
Pengeluaran
plasenta menyebabkan penurunan hormon yang diproduksi oleh plasenta. Hormon
plasenta menurun dengan cepat pasca persalinan. Penurunan hormon plasenta
(human placental lactogen) menyebabkan kadar gula darah menurun pada masa
nifas. Human Chorionic Gonadotropin (HCG) menurun dengan cepat dan menetap sampai
10% dalam 3 jam hingga hari ke-7 post partum dan sebagai onset pemenuhan mamae
pada hari ke-3 post partum.
b.
Hormon pituitary.
Hormon
pituitary antara lain: hormon prolaktin, FSH dan LH. Hormon prolaktin darah
meningkat dengan cepat, pada wanita tidak menyusui menurun dalam waktu 2
minggu. Hormon prolaktin berperan dalam pembesaran payudara untuk merangsang
produksi susu. FSH dan LH meningkat pada fase konsentrasi folikuler pada minggu
ke-3, dan LH tetap rendah hingga ovulasi terjadi.
c.
Hipotalamik pituitary ovarium.
Hipotalamik
pituitary ovarium akan mempengaruhi lamanya mendapatkan menstruasi pada wanita
yang menyusui maupun yang tidak menyusui. Pada wanita manyusui mendapatkan
menstruasi pada 6 minggu pasca melahirkan berkisar 16% dan 45% setelah 12 minggu
pasca melahirkan. Sedangkan pada wanita yang tidak menyusui, akan mendapatkan
menstruasi berkisar 40% setelah 6 minggu pasca melahirkan dan 90% setelah 24
minggu.
d. Hormon oksitosin.
Hormon oksitosin disekresikan dari kelenjar otak
bagian belakang, bekerja terhadap otot uterus dan jaringan payudara. Selama
tahap ketiga persalinan, hormon oksitosin berperan dalam pelepasan plasenta dan
mempertahankan kontraksi, sehingga mencegah perdarahan. Isapan bayi dapat
merangsang produksi ASI dan sekresi oksitosin, sehingga dapat membantu involusi
uteri.
e.
Hormon estrogen dan progesteron
Volume darah
normal selama kehamilan, akan meningkat. Hormon estrogen yang tinggi
memperbesar hormon anti diuretik yang dapat meningkatkan volume darah.Sedangkan
hormon progesteron mempengaruhi otot halus yang mengurangi perangsangan dan
peningkatan pembuluh darah. Hal ini mempengaruhi saluran kemih,ginjal, usus,
dinding vena, dasar panggul, perineum dan vulva serta vagina.
6.
Perubahan sistem pencernaan
a.
Nafsu Makan
Ibu
biasanya merasa lapar segera setelah melahirkan sehingga ia boleh mengonsumsi
makanan ringan. Ibu sering kali cepat lapar setelah melahirkan dan siap makan
pada 1-2jam post-primordial, dan dapat ditoleransi dengan diet yang
ringan.setelah benar-benar pulih dari efek analgesia, anestesia, dan keletihan,
kebanyakan ibu merasa sangat lapar.
b.
Motilitas
Secara
khas, penurunan tonus dan motilitas otot traktus cerna menetap selama waktu yang
singkat setelah bayi lahir. Kelebihan analgesia dan anastesia bisa memperlambat
pengembalian tonus dan motilitas ke keadaan normal.
c.
Pengosongan Usus
Secara
spontan BAB bisa tertunda selama 2-3 hari setelah ibu melahirkan karena tonus
otot usus menurun selama proses persalinan dan pada awal masa pascapartum, diare
sebelum persalinan, enema sebelum melahirkan, kurang makan, atau dehidrasi. Sistem
pencernaan pada masa nifas membutuhkan waktu yang berangsur-angsur untuk kembali
normal. Pola makan ibu nifas tidak akan
seperti biasa dalam beberapa hari dan perineum ibu akan terasa sakit
untuk defekasi. Faktor-faktor tersebut mendukung konstipasi pada ibu nifas
dalam minggu pertama. Akan tetapi, terjadinya konstipasi juga dapat dipengaruhi
oleh kurangnya pengetahuan ibu dan kekhawatiran lukanya akan terbuka bila ibu
BAB.
7.
Perubahan Sistem
Hematologi
Selama minggu-minggu kehamilan, kadar fibrinogen dan
plasma, serta faktor-faktor pembekuan darah meningkat. Pada hari pertama
postpartum, kadar fibrinogen dan plasma akan sedikit menurun, tetapi darah
lebih mengental dengan peningkatan viskositas sehingga meningkatkan faktor
pembekuan darah.
Jumlah hemoglobin, hematokrit, dan eritrosit akan
sangat bervariasi pada awal-awal masa postpartum sebagai akibat volume
darah.Volume plasenta dan tingkat volume darah yang berubah-ubah akan dipengaruhi
oleh status gizi wanita tersebut. Kira-kira selama kelahiran dan masa post
partum terjadi kehilangan darah 200-500 ml. Penurunan volume dan peningkatan
sel darah pada kehamilan diasosiasikan dengan peningkatan hematokrit dan
hemoglobin pada hari ke 3-7 postpartum dan akan kembali normal dalam 4-5 minggu
postpartum.
8.
Penurunan berat badan
Setelah melahirkan ibu akan
kehilangan 5-6 kg berat badannya yang berasal dari bayi, ari-ari, air ketuban
dan perdarahan persalinan, 2-3 kg lagi melalui air kencing sebagai usaha tubuh
untuk mengeluarkan timbunan cairan waktu hamil.
9.
Perubahan sistem
kardiovaskuler
a.
Volume Darah
Perubahan
volume darah bergantung pada beberapa factor,misalnya kehilangan darah selama
melahirkan dan mobilisasi,serta pengeluaran cairan ekstravaskular ( edema
fisiologis). Kehilangan darah merupakan akibat penurunan volume darah total
yang cepat,tetapi terbatas.setelah itu terjadi perpindahan normal cairan tubuh
yang menyebabkan volume darah menurun dengan lambat.Bila kelahiran melalui SC,maka
kehilangan darah dapat dua kali lipat.Pada persalinan pervaginam,hematokrit
akan naik,sedangkan pada SC,hematokrit cenderung stabil dan kembali normal
setelah 4-6 minggu.
Tiga
perubahan fisiologi pasca partum yang terjadi pada wanita antara lain sebagai
berikut:
1) Hilangnya sirkulasi Uteroplasenta yang mengurangi
ukuran pembuluh darah maternal 10-15%.
2) Hilangnya fungsi endokrin plasenta yang menghilangkan
stimulus vasodilatasi.
3) Terjadinya mobilisasi air ekstravaskuler yang disimpan
selama wanita hamil.
b. Curah Jantung
Denyut jantung, volume sekuncup, dan curah
jantung meningkat sepanjang masa hamil. Segera setelah wanita melahirkan
keadaan ini meningkat bahkan lebih tinggi selama 30-60 menit karena darah yang
biasanya melintasi sirkulasi uteroplasenta tiba-tiba kembali ke sirkulasi umum.
Nilai ini meningkat pada semua jenis kelahiran.
10. Perubahan
tanda-tanda vital
a.
Suhu badan, setelah melahirkan biasanya agak meningkat sebagai
akibat kerja keras waktu melahirkan, kehilangan cairan, kelelahan dan setelah 12 jam akan kembali
normal. Waspadai jika sampai terjadi panas tinggi, karena dikhawatirkan sebagai
salah satu tanda infeksi atau tanda bahaya lain.
b.
Nadi, denyut
nadi normal pada orang deawasa 60 – 80 x /menit. Setelah melahirkan biasanya
denyut nadi itu akan lebih cepat.
c.
Tekanan Darah, biasanya
tidak berubah, kemungkinan tekanan darah akan rendah setelah melahirkan karena
ada pendarahan.Tekanan darah tinggi pada postpartum dapat menandakan terjadinya
preeklamsia postpartum.
d.
Pernapasan, keadaan
pernapasan selalu berhubungan dengan keaaan suhu dan denyut nadi. Bila suhu
nadi tidak normal, pernapasan juga akan mengikutiya, kecuali apabila ada
gangguan khusus pada saluran napas.
11. Perubahan emosi
Emosi yang berubah-ubah (mudah
sedih, khawatir, tiba-tiba bahagia) disebabkan oleh berbagai faktor, antara
lain adanya perubahan hormon, keletihan ibu, kurangnya perhatian keluarga,
kurangnya pengetahuan akan cara merawat bayi serta konflik dalam rumah tangga.
Perubahan ini memiliki berbagai bentuk dan variasi dan akan berangsur-angsur
normal sampai pada pekan ke 12 setelah melahirkan.
F.
Adaptasi Psikologi Masa Nifas
Pengalaman menjadi orang tua
khususnya menjadi seorang ibu tidaklah selalu merupakan suatu hal yang
menyenangkan bagi setiap wanita atau pasangan suami istri. Realisasi tanggung
jawab sebagai seorang ibu setelah melahirkan bayi sering kali menimbulkan
konflik dalam diri seorang wanita dan merupakan faktor pemicu munculnya
gangguan emosi, intelektual dan tingkah laku pada seorang wanita. Beberapa
penyesuaian dibutuhkan oleh wanita dalam menghadapi aktivitas dan peran barunya
sebagai seorang ibu. Sebagian wanita berhasil menyesuaikan diri dan mengalami
gangguan-gangguan psikologis dengan berbagai gejala atau sindrom yang oleh para
peneliti dan klinisi disebut posartum blues.
Proses adaptasi
psikologi sudah terjadi selama kehamilan,
menjelang proses kelahiran
maupun setelah persalinan.
Pada periode tersebut, kecemasan seorang wanita dapat bertambah.
Pengalaman yang unik dialami oleh ibu setelah persalinan.
Masa nifas
merupakan masa yang rentan dan terbuka untuk bimbingan dan pembelajaran. Perubahan
peran seorang ibu memerlukan adaptasi.
Tanggung jawab ibu mulai bertambah.
- Fungsi menjadi orang tua
- Respon dan dukungan dari keluarga
- Riwayat dan pengalaman kehamilan serta persalinan
- Harapan, keinginan dan aspirasi saat hamil dan melahirkan
Fase
ini merupakan periode ketergantungan, yang berlangsung dari hari pertama sampai
hari ke dua setelah melahirkan.
Ibu terfokus pada dirinya sendiri, sehingga cenderung pasif terhadap
lingkungannya. Ketidaknyamanan
yang dialami antara lain rasa mules, nyeri pada luka jahitan,
kurang tidur,
kelelahan. Hal yang perlu diperhatikan pada fase ini adalah istirahat
cukup, komunikasi
yang baik dan asupan nutrisi.
a.
Kekecewaan pada bayinya.
Fase
ini berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan.
Ibu merasa khawatir akan ketidakmampuan dan rasa tanggung jawab dalam perawatan
bayinya. Perasaan ibu lebih sensitif sehingga mudah tersinggung. Hal yang
perlu diperhatikan adalah komunikasi
yang baik, dukungan
dan pemberian penyuluhan/pendidikan
kesehatan tentang perawatan diri dan bayinya. Tugas bidan antara lain: mengajarkan
cara perawatan
bayi, cara menyusui
yang benar, cara perawatan luka jahitan,
senam nifas, pendidikan
kesehatan gizi, istirahat, kebersihan
diri dan lain-lain.
Fase
ini merupakan fase menerima tanggungjawab akan peran barunya. Fase ini
berlangsung 10 hari setelah melahirkan.
Ibu sudah mulai dapat menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayinya. Terjadi
peningkatan akan perawatan diri dan bayinya. Ibu merasa percaya diri akan peran
barunya, lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan dirinya dan bayinya. Dukungan
suami dan keluarga
dapat membantu merawat bayi. Kebutuhan akan istirahat
masih diperlukan ibu untuk menjaga kondisi fisiknya
POSTPARTUM BLUES
Postpartum
blues atau sering juga disebut maternity blues atau sindrom ibu baru, dimengerti
sebagai suatu sindrom gangguan efek
ringan pada minggu pertama setelah persalinan dengan ditandai gejala-gejala
berikut ini:
1.
Reaksi depresi/
sedih/disforia.
2.
Sering menangis.
3.
Mudah
tersinggung.
4.
Cemas.
5.
Labilitas
perasaan.
6.
Cenderung
menyalahkan diri sendiri.
7.
Gangguan tidur
dan gangguan nafsu makan.
8.
Kelelahan.
9.
Mudah sedih.
10. Cepat marah.
11. Mood mudah berubah, cepat menjadi sedih dan cepat
menjadi gembira.
12. Perasaan terjebak dan juga marah terhadap
pasangannya,serta bayinya.
13. Perasaan bersalah.
14. Pelupa.
Puncak dari
postpartum blues ini 3-5 hari setelah melahirkan dan berlangsung dari beberapa
hari sampai 2 minggu.postpartum blues tidak mengganggu kemampuan seorang wanita
untuk merawat bayinya sehingga ibu dengan postpartum blues masih bisa merawat
bayinya.
Faktor-faktor
penyebab timbulnya postpartum blues :
1. Faktor hormonal berupa perubahan kadar estrogen,
progesteron, prolaktin dan estriol yg terlalu rendah
- Ketidaknyamanan fisik menimbulkan gangguan emosional, mis payudara bengkak, nyeri jahitan, mules
- Ketidakmampuan beradaptasi terhadap perubahan fisik dan emosional yg kompleks
- Faktor umur dan paritas (jml anak)
- Pengalaman dlmproses kehamilan dan persalinan
- Latar belakan psikososial, mis tkt pendidikan, status perkawinan, ktd, riwayat gangguan kejiwaan, sosial ekonomi
- Kecukupan dukungan dr lingkungan (suami, keluarga, teman)
- Stres dlm keluarga, mis faktor ekonomi memburuk, persoalan dg suami, mertua, orang tua
- Stres yg dialami wanita itu sendiri, mis ASI tdk keluar, bayi tdk mau tidur, nangis dan gumoh, stres melihat bayi sakit, rasa bosan dg hidup yg dijalani
- Kelelahan pasca melahirkan
- Perubahan peran yg dialami ibu
- Rasa memiliki bayi yg terlalu dalam sehingga timbul rasa takut kehilangan anaknya
- Problem anak. Timbul rasa cemburu dari anak sebelumnya sehingga mengganggu emosi ibu
Cara mengatasi post portum blues:
1. Komunikasikan sgl permasalahan yang ingin diungkapkan.
- Bicarakan rasa cemas yg dialami.
- Bersikap ikhlas menerima aktifitas dan peran baru.
- Bersikap fleksibel dan tdk terlalu perfeksionis dlm merawat bayi dan rumah tangga.
- Belajar tenang dg menarik nafas panjang dan meditasi.
- Berolahraga ringan.
- Bergabung dengan kelompok ibu-ibu baru.
- Dukungan tenaga kesehatan.
- Dukungan suami, keluarga, teman.
- Konsultasikan pada dokter atau profesional agar dapat meminimalisir faktor resiko lainnya.
Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) yaitu alat untuk melakukan
skrening, berupa kuesioner dengan validitas yang teruji yang mengukur
intensitas perubahan suasana depresi selama 7 hair pascasalin.
1. Pertanyaan berhubungan dengan labilitas perasaan,
kecemasan, perasaan bersalah, hal lain yang terdapat pada postpartum blues.
- Kuesioner terdiri dari 10 pertanyaan dengan 4 pilihan jawaban yang mempunyai nilai skor dan harus dipilih sesuai dengan gradasi perasaan ibu.
- Harus dijawab sendiri oleh ibu dalam waktu 5 menit. Alat ini telah teruji validitasnya di Belanda, Swedia, Australia, Italia, dan Indonesia
Kiat mengurangi resiko terjadinya depresi post partum
:
1. Persiapan
diri yang baik.
2. Olahraga dan nutrisi yang cukup.
3. Support mental dari lingkungan sekitar.
4. Ungkapkan apa yang dirasakan.
5. Mencari informasi tentang depresi postpartum.
6. Menghindari perubahan hidup yang drastic.
7. Melakukan pekerjaan rumah tangga.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Masa
nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat
kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil yang berlangsung kira-kira 6
minggu. (Abdul Bari, 2000:122).
Selama masa nifas, ada beberapa perubahan yang terjadi
pada ibu, yaitu perubahan fisiologis dan psikologis ibu. Perubahan fisiologis
yang terjadi pada ibu di antaranya yaitu perubahan uterus, perubahan pada
serviks, vulva, dan vagina, perubahan pada sistem perkemihan, dll.
Sementara itu, adaptasi
psikologis pada ibu nifas juga diperlukan. Masa
nifas
merupakan masa yang rentan dan terbuka untuk bimbingan dan pembelajaran. Perubahan
peran seorang ibu memerlukan adaptasi.
DAFTAR PUSTAKA
Dewi,Vivian, Nanny Lia Sunarsih. 2011. Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas. Jakarta
: Salemba Medika.
Cunningham, F. Carry, dkk. 2005. Obstetric Williams Edisi 21. Jakarta: EGC.
by: bidan respati