Seperti ribuan anak panah yang menghujam jantungku. Melesat cepat dan
tepat. Aku yang sebuah kapas merasa tak berdaya dan hanya mampu tercabik.
Argumen-argumen ini gila. Memenuhi setiap rongga pikiranku hingga kepalaku
terasa sakit. Seperti ada tarikan yang sangat kuat yang menyuruhku untuk pergi
tapi ragaku tetap ada di sini. Dengan pikiran dan jiwa yang kosong. Yang
semakin hitam dan berkarat. Tak berharga.
Apa ini? Pikiran darimana ini?
Keinginan ini datang darimana? Kenapa tiba-tiba aku menjadi seperti ini? Aku tidak
kehilangan arah justru aku telah menemukan arah yang harus kutuju. Tapi, aku
harus banting setir. Harus berbalik arah. Dan itu adalah hal yang sulit.
Rasanya seperti ada yang mau keluar
dari diriku. Seperti mau meledak. Tapi, aku tahan. Tapi, kurasa semakin lama
kekuatannya semakin besar. Kekuatan ini membuatku gila. Aku tak mampu. Aku
lemah. Aku yakin suatu saat nanti akan meledak juga dan aku hanya akan menjadi
serpihan.
Saat ini, tak ada yang lain
kecuali ‘rasa sakit’ akibat ‘kebingungan’. Tapi, aku akan berdosa jika aku
membuat kekacauan pada hatiku. Maka aku biarkan ini semua mengalir bagai air.
Padahal bebatuan besar menghambat jalannya. Airnya keruh.
Aku tahu, aku harus terlepas dari jurang ini. Dari tembok-tembok raksasa
yang terus menghimpitku. Dari pikiranku sendiri. Ya, aku harus temukan
kebebasan. Kebebasan untuk diriku sendiri. Tapi, aku terlalu takut untuk
bermain dengan kebebasan.
Rasanya seperti ada dua muka. Bukan satu, tapi dua. Dan itu membuatku
bingung. Aku seperti telah memegang sebuah pelana. Tapi, aku tak memiliki kuda
untuk menggunakannya. Aku ingin naik dan pergi dengan kuda itu. Tapi, percuma
saja aku tetap tak punya kuda. Lalu aku bisa apa?
Aku tahu, aku harus mencarinya. Harus temukannya. Karena aku harus pergi.
Ya, aku harus keluar dari sini. Harus bisa menjadikan ‘dua muka’ menjadi ‘satu
muka’. Hati ini harus tenang. Tidak. Tak boleh lagi ia tersesat dan gelisah.
Ya Rabb..
Ijinkanlah aku menemukan apa yang
aku cari..
Ijinkanlah aku menjadi yang terbaik
menurutMu..
Jadikanlah aku ridho atas segala
yang Engkau ridhoi…
Aku selalu merasa lebih baik ketika aku sudah menuliskan tinta hitam
dalam bebatuan. Ya, ini lumayan. Alhamdulillah….
Tapi, sebuah tulisan tidak akan terhapus kecuali karena datangnya hujan.
Siiip lah, aku akan tunggu hujan itu.
Pelana ini harus dipakai dan tidak bisa dibiarkan begitu saja. Ini
amanah. Dan aku harus bersikap amanah.
Ini adalah titipan dan Sang Pemilik
titipan pasti akan menagihnya..
Aku harus menggunakan ini..
Harus….
Selalu ada sesuatu yang meloncat dan bukannya ‘meledak’ dari pikiranku
setelah hujan turun. ‘Pencerahan’, aku menyebutnya demikian. Dan biarlah ini
selalu terjadi padaku. Pelana ini kini ada di tanganku dan sang kuda kini ada
di depan mataku.
☻☻☺
Selalu saja. Dan selalu. Penyakit
yang sama dan aku tidak yakin apa aku bisa sembuh darinya. Penyakit itu selalu
menggerogoti aku. Merebut waktu siang dan malamku. Menyalakan api yang selalu
membakar otakku. Hingga otakku buntu, aku buntu, dan jiwakupun ikut buntu.
Penyakit itu bernama ‘kebingungan’.
Aku bertanya pada seseorang yang ada
di dalam cermin ketika aku sedang melihat ke dalamnya. “Seharusnya kamu tahu
apa yang harus kamu lakukan! Masalahnya adalah, kamu itu terlalu takut untuk
melakukan yang “harus” dan kamu malah melakukan yang kamu ‘nggak diharuskan’!”
“Aku butuh duit.” katamu datar,
“Naif kalau bilang nggak butuh duit!” katamu lagi.
Perutku geli. Duit? Menggelikan!
Akupun bertanya lagi pada yang ada di dalam pantulan air yang jernih ketika aku
menatapnya, “Kamu butuh duit? Kenapa nggak minta sama yang menggagas dan
menakdirkan bahwa duit adalah alat tukar menukar jaman sekarang?”
☻☻☺
“Kamu sudah tahu kan
kamu mau jadi apa?” suara itu menggema lagi. Suara yang muncul entah dari sudut
mana dalam diriku, “Sekarang tinggal kamu berani atau tidak untuk mengambil
itu. Kamu sudah tahu kan
apa yang harus kamu kejar? Tidak usah melirik sana-sini! Nanti matamu kecetit!
Teruslah menatap ke arah yang sama! Fokus itu penting!”
“Yah, kalau akhirnya apa yang aku pandang salah gimana?”
“Ini namanya kamu mengambil resiko! Ini hidup kamu! Hak kamu! Jadi, ya
terserah kamu sajalah kamu mau mengejar apa! Pesan saya sih, kejar yang
‘selamanya’ jangan yang ‘fana’!”
“Baiklah, InsyaAllah! Doakan saya saja ya!”
Pilihan yang akan aku ambil ini sungguh akan sangat mengejutkan banyak
orang. Tapi, ya mau bagaimana lagi? Aku kan
memang harus banting setir! Lagipula, memang ini kan yang aku hasratkan sejak lama?
Ketika aku telah mengenal cinta
yang sejati…
Ingin aku rengkuh cinta ini
selamanya…
Ingin ku buktikan cinta ini
sejujurnya…
Ingin ku kembangkan cinta ini
setulusnya…
Ingin ku rangkai cinta ini agar Kau
mau menerimanya…
☻☻☺
Ini adalah realitas dan setiap orang
wajib mengenggamnya erat-erat! Bukannya menjadi ‘sok tak membutuhkannya’! Tapi,
mau bagaimanapun inilah realitas!
Tak usah kau bingung-bingung dan
menghitung ribuan bintang di atas sana!
Percuma saja! Karena kaupun tak akan pernah selesai untuk melakukannya. Hanya
sia-sia berbalut kekecewaan.
☻☻☺
Nafas ini semakin kutarik panjang
dan kulepaskan semakin terasa ringan beban di pundakku. Tapi, cuma sedetik saja
ini semua terasa ringan. Setelah itu, beratnya lebih berat.
Mauku
apa sih?
Menuntut
ilmu!
Menuntut
ilmu!
Menuntut
ilmu!
Menuntut
ilmu apa?
Buat
apa?
Buat
kamu!
Buat
kamu!
Buat
kamuuuuuuuu!
☻☻☺
Kembali terbentur oleh pertanyaan
dan penyakit yang sama yaitu ‘bingung’. Penyakit ini bisa menggerogoti diriku
dan aku yakin aku tak akan memiliki kekuasaan untuk mengalahkannya. Gila!
Otakku rasanya mau pecah karena ‘kebingungan’ ini.
Kembali melihat secercah cahaya yang
bersinar terang di ujung mataku, berharap bisa memilikinya sementara aku masih
harus menunggu. Ini sebuah ‘sistem’ dan kita selalu dan harus mengikuti
‘sistem’. Tanpa ‘sistem’ kita tak memiliki arti. Makna yang hampa.
Kembali tersungkur atas kenyataan
diri yang begitu menggelikan sekaligus menjijikan. Berharap semua berubah
layaknya mentari di ujung sana
yang selalu merekah tatkala datangnya senja. Tapi, aku justru kosong dan hanya
bisa mlompong (bengong).
Kembali dan kembali. Seolah tak pernah ada kata sesudah. Apa aku waras?
☻☻☺
Dentuman jam ini membuat hatiku
terpojok. Aku menggigil.
“‘Bingung’ itu salah loh dek!” katamu lembut tapi tegas.
Aku cuma bisa menatapmu sebentar lalu memalingkan mukaku lagi, “Lalu,
mesti gimana mbak?” kataku acuh.
“Dasar anak kecil manja! Kamu kan
punya sesuatu yang ada di kepalamu itu buat berpikir! Mbok ya dipakai! Berkarat
loh nanti! Kamu sendiri yang rugi!” katamu lagi sambil tersenyum mengejek.
“Nggak bisa pakai itu mbak! Nggak tahu caranya!” kataku datar.
“Dasar kamu ini! Kepalamu itu isinya apa to? Apa otakmu itu malah udah
keinstall virus tingkat tinggi jadi semuanya udah ke program menjadi program
bingung semua?” kamu menatapku penasaran.
Aku nyengir, sebisa mungkin mirip kuda, “Isinya cuma khayalan kelas lele dumbo
mbak!”
“Oh… Pantes!” katamu lagi sambil melirikku.
Aku manggut-manggut sok ya kalau aku setuju dan paham. Padahal sih, sama
sekali nggak.
Aku buntu dan bingung karena aku terlalu takut melakukan semuanya. Karena
aku masih sering tergeser oleh argumen orang lain sehingga anggota badanku tak
bisa kukendalikan. Karena aku itu masih dungu, culun.
☻☻☺
Hari ini perayaan karena aku bisa memecahkan selusin gelas yang ada di dalam
pikiranku. Akupun mengambil batu dan mencoba merangkai pecahan itu menjadi
pecahan yang lebih kecil lagi. Maunya sih sampai sebesar atom!
Kalau apa yang ada nanti gelap gimana ya? Kalau nggak putih? Aku mau
pegang batu ini aja terus ah! Biar gampang mecahin gelas lagi!
“Pengangguran lagi? Atau lagi mengkhayal lagi? Pengkhayal kelas lele
dumbo!” katamu sinis.
Aku tersenyum, lingkaran hitam di dalam mataku kutarik ke samping,
melirikmu tajam, “Sekarang udah nggak mbak! Aku pemimpi kelas hiu!”
“Wow… baru berapa detik anda bisa ganti spesies gitu?”
“Seperlima detik mbak!”
☻☻☺
Semuanya merah jambu. Dinding-dinding di depan dan di belakangku merah
jambu. Tembok-tembok di kanan dan di kiriku merah jambu. Semua merah jambu.
Kecuali satu, gigiku yang putih karena aku baru selesai makan pasta gigi rasa
mint.
“Mbak, aku sudah menentukan sikap! InsyaAllah, semoga jalan terbaik
mbak!” aku menatapmu optimis.
“Apa?” tanyamu tak percaya.
“Udah lama kayaknya hati ini meronta-ronta! Mau pilih apa yang sesuai
hati ini aja! Terserah deh, angin mau ngabarin aku berita apa!”
“Yakin? Itu pilihan cerdas atau ceroboh ya?” tanyamu lagi.
“Cerdas dan ceroboh sulit dibedakan mbak! Hasil juga bukan harga yang
mutlak. Nilai juga bukan. Yang penting penyusunan hati dan otak dengan cara
yang benar meski terkadang kasar! Realitas yang berkualitas to?”
Kamu terheran-heran, “Diinstall pake apa sih?” tanyamu memperhatikan
kepalaku.
“Pake hati juga pengambilan resiko mbak!”
“Nggak paham!”
“Sama mbak! Saya juga!”
☻☻