Selasa, 03 Maret 2015

Si kesayangan

Sesederhana itulah. Baju yang ia kenakan berwarna abu-abu. Kusam seperti wajahnya. Celananya yang setengah lutut itupun lusuh. Penampilannya acak-acakan. Giginya kuning, matanya merah. Sepertinya tak ada yang menarik darinya untuk dilihat. Namun, apa itu yang merekah di wajahnya? Yang membuatku ikut menarik bibirku ke samping kiri dan kanan? Ah, benar, senyumnya yang lebar dan ketawanya yang lepas ternyata mampu membuang semua 'standarku' yang aku cap menarik. Iya. Sesederhana itu dia.
^^
Hari ini keindahan di senyumnya hilang. Dia menurunkan bibirnya. Dia cemberut. Matanya tetap merah. Tapi, kini air mata pun membanjiri mata itu. Ada apa sayang? Ujarku dalam hati. Kenapa kau menangis? Dimana senyumanmu yang aku rindukan itu? Dan kau berjalan tergesa, hampir tersandung. Lalu, pergi.
^^
Aku keluar dari zona amanku. Tak lagi jadi pengamat pasif. Aku berusaha keluar dari rumahku dan menengok kemana si kesayanganku pergi. Ah, dia mengejar laki-laki yang agaknya menjadi sumber kebahagiannya. Ujarku. Pikirku. Laki-laki itupun tak kalah lusuhnya dengan kesayanganku. Dia mendorong sepeda yang agaknya sudah tua, karena kudengar decit-mendecit di bagian sana sini.
Kesayanganku berteriak parau, "Tolong.....". Seketika laki-laki itu, berbalik, menatap kesayanganku dengan tatapan yang lembut. Dia merogoh saku di belakang celananya yang sudah tak jelas warnanya itu dan mengeluarkan sesuatu yang bulat dan berwarna menarik. Aku jamin pasti rasanya manis. Pikirku.
Seketika itu pula, kesayanganku mengeluarkan keindahan di wajahnya yang aku nanti-nanti. Ia tersenyum lalu berlari mendekati laki-laki itu dan meraih sesuatu yang bulat itu.
^^
Ah, inilah dia. Permen. Barang yang tidak ada seberapanya pikirku. Tapi mampu membuat kesayanganku kembali tersenyum. Aku bertanya-tanya, apakah dia menangis tadi karena permen ini pula?
Inilah dia kesayanganku. Sederhana namun indah. Nyatanya apa yang membuat dia bersedih dan tersenyum adalah hal yang menurutku kecil. Dari sini aku berpikir, apa yang mampu kita beri pada orang lain, walau sekecil apapun itu nyatanya bisa menjadi besar, dan hal yang tak kita duga ternyata juga bisa begitu menyakitkan di hati orang lain.
Kehidupan sosial itu sulit. Tapi, manusia tidak bisa hidup sendiri.
Dan sekali lagi. Bahagia itu sederhana sekali.

Bintang itu



Di langit di atas sana ada ribuan bintang yang memancarkan cahayanya. Meski serupa tapi tak sama. Tidak mau kalah, di bawah sinipun ada seseorang yang terus melihat ke atas. Mengamati dan menebak-nebak bintang mana yang paling indah.

 ~~~~````~~~~````~~~~


Bintang yang bersinar di dekat bulan itu terlihat kecil. Namun ia terlihat cantik. Dibandingkan bulan ia tidak ada apa-apanya. Tapi, melihat dia yang memancarkan cahaya dengan caranya sendiri pun terlihat indah dan elegan. Iya. Inilah dia bintang yang selalu berada di dekat sang bulan. Tanpa takut terkalahkan dengan keanggunan sang bulan, ia memancarkan cahayanya sendiri.
Di ujung langit malam itupun, di ujung penglihatanku, ada bintang yang bersinar redup-redup. Seakan tidak yakin apakah akan ada seseorang yang melihatnya dari bawah sini. Namun, hei, lihatlah lebih jauh lagi, bintang itu dengan keberaniannya sendiri, meski jauh, meski terpisah dengan teman-temannya tetap memancarkan cahaya yang indah. Berbeda tapi cantik.

~~~~````~~~~````~~~~

         
 Malam ini aku berpikir, seandainya bintang-bintang itu memiliki rasa. Dan bagi mereka ada persaingan untuk selalu menjadi bintang yang terindah di langit malam. Apakah yang akan terjadi? Aku bertanya-tanya, apakah yang akan mereka lakukan? Apakah bintang yang di ujung langit malam, yang bersinar redup-redup itu, akan memiliki keberanian untuk menantang bintang yang bersinar terang di dekat sang rembulan? Aahhh... Dalam hidup manusia pun akan seperti ini. Semua orang berlomba-lomba untuk berlari paling cepat, dan siapapun yang terlebih dahulu sampai di garis finish dialah yang dikatakan 'menang'. Aku tidak benci persaingan, karena sebenarnya persaingan yang sehat itu baik, yang aku tidak suka adalah pelabelan bahwa dia yang menang, dia yang terlebih dahulu mencapai garis finish adalah dia yang segala-galanya. Tidak begitu, menurutku. Bahkan di langit malampun, kau bisa berkaca, lihatlah bintang-bintang itu, meski dia memancarkan sinar yang berbeda, tapi mereka bersama-sama membuat keindahan di langit malam yang sering membuat takjub. Yah, percayalah pada dirimu sendiri. Meski kau gagal kali ini, percayalah suatu saat akan tiba waktunya kau akan tersenyum. Bahagia itu sederhana kawan. Jangan paksakan dirimu untuk tidak menjadi dirimu sendiri. Bahagia itu kau yang menentukan. Sama dengan bintang itu yang memancarkan cahaya dengan caranya sendiri. Dan mereka yang membuat indah sang malam. :)

Senin, 01 Desember 2014

File X X (3/10/2012)



Mataku bengkak, tubuhku lemas. Sudah satu jam aku menangis. Tapi, sepertinya hatiku masih merasa sakit. Ku tarik nafasku dan akupun mendesah panjang. Ku pandang lantai di depanku. Kosong, hitam, dan kotor. Aku bergidik. Lalu, tiba-tiba ku dengar suara….
“Apa benar aku adalah orang seperti yang dia katakan tadi? Apa benar aku adalah orang yang bermuka ganda dan memakai topeng? Apa benar jika semua yang aku lakukan bukanlah suatu hal yang tulus dan memiliki maksud tertentu? Apa aku…… apa aku benar-benar orang yang munafik?”
Aku bergidik! Itu suaraku sendiri!
Aku mencoba menggerakan bibirku dan berkata, “Aku adalah orang yang aku sendiri tidak mengetahui aku ini siapa. Aku adalah orang yang bermuka dua dan pintar berakting. Kalau begitu, aku pantas menjadi seorang pemain film….. Hahahaha!” Aku tertawa. Aku tertawa. Aku tertawa.
Tapi, hatiku masih sakit. Sekarang aku malah merasa jauh lebih sakit dari yang tadi! Tiba-tiba aku ingin menangis. Aku ingin menangis jauh lebih keras dan lebih dalam dari yang tadi! Dari satu jam sebelum ini!
Dan benar, aku menangis lagi. Dan kali ini aku merasa sangat lelah. Hingga akhirnya aku tertidur…..

•••

Aku melihat sebuah pisau di samping kiriku. Aku menatapnya tajam.
“Pisau, jika tanganku menyentuhmu pasti tanganku akan terluka bukan? Dan tanganku akan mengeluarkan darah. Apa jika hatiku menyentuhmu hatiku akan terluka juga dan akan mengeluarkan darah juga seperti tanganku ini?”
Iya, aku tidak akan tahu. Aku tidak akan tahu apa yang akan terjadi sebelum aku mencobanya. Aku menarik nafas dan berkata,
“Kau akan menyentuh hatiku sekarang wahai kau pisau yang tajam. Sentuhlah ia dengan setajam-tajamnya dirimu hingga ia mengeluarkan darah yang banyak. Kau tahu, aku sudah bosan punya hati……”
Dan aku menusukkan pisau itu tepat di hatiku….

•••

Tubuhku sakit, lemas, mataku berkunang-kunang. Ku lihat perutku. Aku merabanya. Tidak, tidak ada pisau. Tidak ada darah. Apa itu cuma mimpi? Aku melihat sekelilingku. Tempat ini kotor sekali, sunyi sekali, aku bahkan bisa mendengar suara hatiku sendiri. Aku di mana?
Aku berjalan, berjalan beberapa langkah, ku lihat sebuah kaca yang bening di depanku. Aku mendekat. Tapi, semakin aku mendekat semakin hitam kaca yang bening tadi.
“Hai, kaca… Apa yang terjadi padamu? Mengapa kau semakin hitam jika aku semakin mendekat padamu? Apa kau? Apa kau marah padaku?”
Aku masih berjalan mendekat. Aku mencoba meraba kaca itu. Debu. Banyak sekali debu di kaca ini. Apa aku bisa membersihkannya? Aku ingin sekali melihat kaca ini bersih dan bening lagi. Apa aku bisa melakukannya? Tapi, apa yang akan aku pakai untuk membersihkannya?
Ku lihat sekelilingku. Kotor. Tidak ada benda yang bisa aku gunakan untuk membersihkan kaca ini. Aku menarik nafas. Apa ini berarti selamanya aku tidak akan pernah bisa membersihkan kaca ini? Tapi, aku ingin sekali melihat kaca ini bersih. Aku ingin melihat bagaimana rupaku di dalamnya.
“Kaca, katakan sesuatu padaku. Katakan apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu. Aku tahu, kau tersiksa karena kau kotor sekali. Apa kau? Apa kau mengijinkanku?”
Aku tersenyum. Ku coba menyentuh lagi kaca itu. Dan tiba-tiba…. Kaca itu… Pecah… Sebelum aku sempat menyentuhnya, kaca itu…. Pecah….

•••

Di depanku ada jurang. Gelap, hitam, dan yang pasti, menakutkan. Aku mencoba melihat ke dalamnya.
“Kau tidak terlalu menakutkan jika aku mendekat. Kau juga tidak terlalu gelap jika aku mencoba benar-benar menatapmu dengan seksama. Kau ini, mau menipuku ya?”
Aku tersenyum. Aku berlari-lari di pinggir jurang itu.
“Ini menyenangkan! Sungguh! Ini membuatku bahagia dan tersenyum! Terima kasih karena telah membuatku merasa bahagia wahai jurang……”
Tiba-tiba angin dingin berhembus. Angin yang membuat aku menggigil. Tubuhku bergetar, gigiku bergemeretak, kakiku tidak sanggup lagi untuk berdiri.
“Angin, mengapa kau jahat sekali? Kau buat tubuhku bergetar. Mengapa kau jahat padaku?”

•••

            Ini taman bunga. Tapi, aku tidak suka bunga. Tapi, aku ada di taman bunga. Bukankah itu berarti aku harus menikmatinya? Bukankah itu berarti aku harus berusaha untuk menyukainya?
            “Bunga, kau tahu, aku tidak terlalu menyukaimu. Tapi, sekarang aku ada di rumahmu. Jadi, karena aku adalah tamu, aku akan berlaku baik padamu. Aku berjanji.”
            Angin sejuk berhembus. Bunga-bunga bergoyang. Wangi bunga menyergap masuk ke hidungku.
            “Hai, ini tidak terlalu buruk. Ku rasa aku bisa menyukaimu bunga.” Aku tersenyum.
            Aku menatap depanku. Aku melihat langit, matahari, dan pepohonan. Aku ingin berbalik dan melihat apa yang ada di belakangku. Tapi, tiba-tiba aku mendengar suara burung berkicau. Merdu, indah sekali.
            “Burung, kau sedang berbicara dengan siapa? Apa kau punya teman? Aku tidak punya teman. Apa kau mau menjadi temanku?”
            Burung itu terbang. Ku kira dia akan terbang menjauh. Tapi, dia malah mendekat dan hinggap di bahuku.
            “Apa ini artinya kau mau menjadi temanku? Baiklah, kita berteman.” Aku tersenyum dan burung itu terbang. Aku berlari mengejarnya. Tapi, sebelumnya, aku membalikkan tubuhku dan melihat belakang.
            Aku terkejut. Aku melihat bukit hitam yang gelap. Mataku berkunang-kunang. Aku ingin pingsan!
            Tapi, tiba-tiba ku dengar suara kicau burung itu lagi. Aku berbalik ke arah depan dan tersenyum, lalu berkata, “Aku. Aku tidak akan berbalik ke belakang dan melihat bukit itu lagi. Apa pun yang terjadi. Burung, karena kau adalah temanku, aku akan selalu ada di sampingmu. Aku berjanji.”
*********

Bisakah kau melihatnya? Ini bukan sekadar tulisan lhoooo

*********



Aku…
Tidak akan pernah bisa mengenal diriku sendiri,
Karena aku bukanlah yang menciptakan diriku sendiri,
Aku hanyalah manusia, yang selalu berbuat salah,
Bahkan ketika aku berusaha mengenal
siapa aku?

Semangat…
Yang kian patah dan tak tahu arah,
Membuat mata buta hingga salah melangkah,
Tapi, aku tidak akan mencoba,
Untuk menusukkan semangat patah ke dalam tubuhku,
Karena, semangat itu,
Ada di dalam diriku sendiri..

Hati…
Awal ku lihat dirimu,
Ku kira kau putih bersih, tapi, ternyata
Kau lebih kotor dari apapun,
Ijinkan aku untuk membersihkanmu, meski
aku terseok-seok untuk membersihkanmu,
Asal kau tidak hancur, dan meninggalkanku hingga aku tidak punya hati..

Kesenangan…
Aku tidak membutuhkanmu jika kau datang hanya sementara,
Lalu kau tiupkan malapetaka yang menakutkan untukku,
Ku katakan,
Aku benar-benar tidak membutuhkanmu…

Masa lalu …
Dirimu akan selalu ada,
Temaniku sampai aku tiada,
Tapi, kau tidak akan membuatku menghentikan langkah,
Karena kau adalah masa laluku,
Dan selamanya adalah masa laluku,

Apapun itu,
Yang ada di depanku,
Aku akan berusaha menyukainya, meski awalnya menakutkan untukku…
Aku akan berusaha!
Dan tidak berhenti sebelum aku benar-benar telah berusaha!

:)

Sajak Orang Bingung (12/17/2013)



Seperti ribuan anak panah yang menghujam jantungku. Melesat cepat dan tepat. Aku yang sebuah kapas merasa tak berdaya dan hanya mampu tercabik. Argumen-argumen ini gila. Memenuhi setiap rongga pikiranku hingga kepalaku terasa sakit. Seperti ada tarikan yang sangat kuat yang menyuruhku untuk pergi tapi ragaku tetap ada di sini. Dengan pikiran dan jiwa yang kosong. Yang semakin hitam dan berkarat. Tak berharga.
            Apa ini? Pikiran darimana ini? Keinginan ini datang darimana? Kenapa tiba-tiba aku menjadi seperti ini? Aku tidak kehilangan arah justru aku telah menemukan arah yang harus kutuju. Tapi, aku harus banting setir. Harus berbalik arah. Dan itu adalah hal yang sulit.
            Rasanya seperti ada yang mau keluar dari diriku. Seperti mau meledak. Tapi, aku tahan. Tapi, kurasa semakin lama kekuatannya semakin besar. Kekuatan ini membuatku gila. Aku tak mampu. Aku lemah. Aku yakin suatu saat nanti akan meledak juga dan aku hanya akan menjadi serpihan.
 Saat ini, tak ada yang lain kecuali ‘rasa sakit’ akibat ‘kebingungan’. Tapi, aku akan berdosa jika aku membuat kekacauan pada hatiku. Maka aku biarkan ini semua mengalir bagai air. Padahal bebatuan besar menghambat jalannya. Airnya keruh.
Aku tahu, aku harus terlepas dari jurang ini. Dari tembok-tembok raksasa yang terus menghimpitku. Dari pikiranku sendiri. Ya, aku harus temukan kebebasan. Kebebasan untuk diriku sendiri. Tapi, aku terlalu takut untuk bermain dengan kebebasan.
Rasanya seperti ada dua muka. Bukan satu, tapi dua. Dan itu membuatku bingung. Aku seperti telah memegang sebuah pelana. Tapi, aku tak memiliki kuda untuk menggunakannya. Aku ingin naik dan pergi dengan kuda itu. Tapi, percuma saja aku tetap tak punya kuda. Lalu aku bisa apa?
Aku tahu, aku harus mencarinya. Harus temukannya. Karena aku harus pergi. Ya, aku harus keluar dari sini. Harus bisa menjadikan ‘dua muka’ menjadi ‘satu muka’. Hati ini harus tenang. Tidak. Tak boleh lagi ia tersesat dan gelisah.

Ya Rabb..
Ijinkanlah aku menemukan apa yang aku cari..
Ijinkanlah aku menjadi yang terbaik menurutMu..
Jadikanlah aku ridho atas segala yang Engkau ridhoi…

Aku selalu merasa lebih baik ketika aku sudah menuliskan tinta hitam dalam bebatuan. Ya, ini lumayan. Alhamdulillah…. Tapi, sebuah tulisan tidak akan terhapus kecuali karena datangnya hujan. Siiip lah, aku akan tunggu hujan itu.
Pelana ini harus dipakai dan tidak bisa dibiarkan begitu saja. Ini amanah. Dan aku harus bersikap amanah.


Ini adalah titipan dan Sang Pemilik titipan pasti akan menagihnya..
Aku harus menggunakan ini..
Harus….

Selalu ada sesuatu yang meloncat dan bukannya ‘meledak’ dari pikiranku setelah hujan turun. ‘Pencerahan’, aku menyebutnya demikian. Dan biarlah ini selalu terjadi padaku. Pelana ini kini ada di tanganku dan sang kuda kini ada di depan mataku.
           
☻☻☺
            Selalu saja. Dan selalu. Penyakit yang sama dan aku tidak yakin apa aku bisa sembuh darinya. Penyakit itu selalu menggerogoti aku. Merebut waktu siang dan malamku. Menyalakan api yang selalu membakar otakku. Hingga otakku buntu, aku buntu, dan jiwakupun ikut buntu. Penyakit itu bernama ‘kebingungan’.
            Aku bertanya pada seseorang yang ada di dalam cermin ketika aku sedang melihat ke dalamnya. “Seharusnya kamu tahu apa yang harus kamu lakukan! Masalahnya adalah, kamu itu terlalu takut untuk melakukan yang “harus” dan kamu malah melakukan yang kamu ‘nggak diharuskan’!”
            “Aku butuh duit.” katamu datar, “Naif kalau bilang nggak butuh duit!” katamu lagi.
            Perutku geli. Duit? Menggelikan! Akupun bertanya lagi pada yang ada di dalam pantulan air yang jernih ketika aku menatapnya, “Kamu butuh duit? Kenapa nggak minta sama yang menggagas dan menakdirkan bahwa duit adalah alat tukar menukar jaman sekarang?”

☻☻☺
“Kamu sudah tahu kan kamu mau jadi apa?” suara itu menggema lagi. Suara yang muncul entah dari sudut mana dalam diriku, “Sekarang tinggal kamu berani atau tidak untuk mengambil itu. Kamu sudah tahu kan apa yang harus kamu kejar? Tidak usah melirik sana-sini! Nanti matamu kecetit! Teruslah menatap ke arah yang sama! Fokus itu penting!”
“Yah, kalau akhirnya apa yang aku pandang salah gimana?”
“Ini namanya kamu mengambil resiko! Ini hidup kamu! Hak kamu! Jadi, ya terserah kamu sajalah kamu mau mengejar apa! Pesan saya sih, kejar yang ‘selamanya’ jangan yang ‘fana’!”
“Baiklah, InsyaAllah! Doakan saya saja ya!”
Pilihan yang akan aku ambil ini sungguh akan sangat mengejutkan banyak orang. Tapi, ya mau bagaimana lagi? Aku kan memang harus banting setir! Lagipula, memang ini kan yang aku hasratkan sejak lama?
Ketika aku telah mengenal cinta yang sejati…
Ingin aku rengkuh cinta ini selamanya…
Ingin ku buktikan cinta ini sejujurnya…
Ingin ku kembangkan cinta ini setulusnya…
Ingin ku rangkai cinta ini agar Kau mau menerimanya…

☻☻☺
            Ini adalah realitas dan setiap orang wajib mengenggamnya erat-erat! Bukannya menjadi ‘sok tak membutuhkannya’! Tapi, mau bagaimanapun inilah realitas!
            Tak usah kau bingung-bingung dan menghitung ribuan bintang di atas sana! Percuma saja! Karena kaupun tak akan pernah selesai untuk melakukannya. Hanya sia-sia berbalut kekecewaan.

☻☻☺
            Nafas ini semakin kutarik panjang dan kulepaskan semakin terasa ringan beban di pundakku. Tapi, cuma sedetik saja ini semua terasa ringan. Setelah itu, beratnya lebih berat.
            Mauku apa sih?
Menuntut ilmu!
Menuntut ilmu!
Menuntut ilmu!
           
            Menuntut ilmu apa?
            Buat apa?

Buat kamu!
Buat kamu!
Buat kamuuuuuuuu!

☻☻☺
            Kembali terbentur oleh pertanyaan dan penyakit yang sama yaitu ‘bingung’. Penyakit ini bisa menggerogoti diriku dan aku yakin aku tak akan memiliki kekuasaan untuk mengalahkannya. Gila! Otakku rasanya mau pecah karena ‘kebingungan’ ini.
            Kembali melihat secercah cahaya yang bersinar terang di ujung mataku, berharap bisa memilikinya sementara aku masih harus menunggu. Ini sebuah ‘sistem’ dan kita selalu dan harus mengikuti ‘sistem’. Tanpa ‘sistem’ kita tak memiliki arti. Makna yang hampa.
            Kembali tersungkur atas kenyataan diri yang begitu menggelikan sekaligus menjijikan. Berharap semua berubah layaknya mentari di ujung sana yang selalu merekah tatkala datangnya senja. Tapi, aku justru kosong dan hanya bisa mlompong (bengong).
Kembali dan kembali. Seolah tak pernah ada kata sesudah. Apa aku waras?
             
☻☻☺
            Dentuman jam ini membuat hatiku terpojok. Aku menggigil.
“‘Bingung’ itu salah loh dek!” katamu lembut tapi tegas.
Aku cuma bisa menatapmu sebentar lalu memalingkan mukaku lagi, “Lalu, mesti gimana mbak?” kataku acuh.
“Dasar anak kecil manja! Kamu kan punya sesuatu yang ada di kepalamu itu buat berpikir! Mbok ya dipakai! Berkarat loh nanti! Kamu sendiri yang rugi!” katamu lagi sambil tersenyum mengejek.
“Nggak bisa pakai itu mbak! Nggak tahu caranya!” kataku datar.
“Dasar kamu ini! Kepalamu itu isinya apa to? Apa otakmu itu malah udah keinstall virus tingkat tinggi jadi semuanya udah ke program menjadi program bingung semua?” kamu menatapku penasaran.
Aku nyengir, sebisa mungkin mirip kuda, “Isinya cuma khayalan kelas lele dumbo mbak!”
“Oh… Pantes!” katamu lagi sambil melirikku.
Aku manggut-manggut sok ya kalau aku setuju dan paham. Padahal sih, sama sekali nggak.
Aku buntu dan bingung karena aku terlalu takut melakukan semuanya. Karena aku masih sering tergeser oleh argumen orang lain sehingga anggota badanku tak bisa kukendalikan. Karena aku itu masih dungu, culun.

☻☻☺
Hari ini perayaan karena aku bisa memecahkan selusin gelas yang ada di dalam pikiranku. Akupun mengambil batu dan mencoba merangkai pecahan itu menjadi pecahan yang lebih kecil lagi. Maunya sih sampai sebesar atom!
Kalau apa yang ada nanti gelap gimana ya? Kalau nggak putih? Aku mau pegang batu ini aja terus ah! Biar gampang mecahin gelas lagi!
“Pengangguran lagi? Atau lagi mengkhayal lagi? Pengkhayal kelas lele dumbo!” katamu sinis.
Aku tersenyum, lingkaran hitam di dalam mataku kutarik ke samping, melirikmu tajam, “Sekarang udah nggak mbak! Aku pemimpi kelas hiu!”
“Wow… baru berapa detik anda bisa ganti spesies gitu?”
“Seperlima detik mbak!”

☻☻☺
Semuanya merah jambu. Dinding-dinding di depan dan di belakangku merah jambu. Tembok-tembok di kanan dan di kiriku merah jambu. Semua merah jambu. Kecuali satu, gigiku yang putih karena aku baru selesai makan pasta gigi rasa mint.
“Mbak, aku sudah menentukan sikap! InsyaAllah, semoga jalan terbaik mbak!” aku menatapmu optimis.
“Apa?” tanyamu tak percaya.
“Udah lama kayaknya hati ini meronta-ronta! Mau pilih apa yang sesuai hati ini aja! Terserah deh, angin mau ngabarin aku berita apa!”
“Yakin? Itu pilihan cerdas atau ceroboh ya?” tanyamu lagi.
“Cerdas dan ceroboh sulit dibedakan mbak! Hasil juga bukan harga yang mutlak. Nilai juga bukan. Yang penting penyusunan hati dan otak dengan cara yang benar meski terkadang kasar! Realitas yang berkualitas to?”
Kamu terheran-heran, “Diinstall pake apa sih?” tanyamu memperhatikan kepalaku.
“Pake hati juga pengambilan resiko mbak!”
“Nggak paham!”
“Sama mbak! Saya juga!”

☻☻