Rabu, 20 Mei 2015

Pesona Bebek Kuning 2

Bebek kuning yang berada di pinggir danau menatap sedih. Air matanya mengalir pelan. Dia menangis. Tanpa diketahuinya, seekor angsa putih datang mendekat. Angsa putih itu melihatnya lekat-lekat. Dia terheran-heran untuk apa bebek kuning menangis.

"Kenapa kau menangis?" Angsa putih bertanya merdu.

"Kau indah sekali," jawab bebek kuning.

"Kau juga indah," angsa putih menjawab lagi, "Ohh.. sebentar! Apakah kau si bebek kuning yang mempesona yang namanya selalu diagung-agungkan oleh bebek lainnya?"

Bebek kuning tersenyum malu-malu, "Apa benar begitu?"

Angsa mengangguk pelan. Lehernya yang panjang membuatnya terlihat semakin menawan. Bebek kuning menunduk sedih.

"Kenapa kau selalu menunduk sedih seperti itu?" angsa bertanya pelan.

"Setiap sore aku kemari, menatap kalian para angsa yang berdua-dua. Saat aku melihat kalian entah mengapa hatiku menjadi sedih.", bebek kuning mulai terisak, "Akhir-akhir ini aku baru tersadar bahwa rupanya aku mulai jatuh cinta pada angsa. Tapi, aku tak berani mendekat. Saat kalian pergi, aku berjalan mendekati danau dan melihat ke airnya. Saat ku lihat diriku sendiri di atas air, entah mengapa hatiku hancur."

Angsa berpikir sejenak kemudian bertanya, "Mengapa kau jatuh cinta pada angsa? Tidak adakah bebek yang menarik perhatianmu?"

Bebek kuning tersenyum pilu, "Saat melihat bebek, aku seperti melihat diriku sendiri. Lemah dan tak menarik. Berbeda saat aku melihat kalian."

Angsa tersenyum, lalu mendorong kepalanya ke badan bebek kuning hingga bebek kuning terpaksa berjalan menuju danau. Saat bebek kuning sudah dekat sekali dengan danau, semua angsa menatapnya. Bebek kuning merasa seperti ingin ditelan bumi. Dia sangat malu.

"Itu si bebek kuning...." sahut angsa yang berada di tengah danau. Angsa lainnya pun menimpali. Beramai-ramai angsa itu memanggil bebek kuning. Bebek kuning terkejut karena semua angsa mengenalnya. Dia menatap heran angsa yang mendorongnya tadi.

"Kami semua mengenalmu karena kau adalah bebek kuning. Bebek yang selalu menjadi bahan pembicaraan bebek lainnya. Jangan merasa rendah diri, jika kau bukan bebek kuning dan kau adalah angsa maka kami semua tidak akan mengenalmu. Bersyukurlah dengan dirimu sendiri."

Selasa, 19 Mei 2015

Laki-laki ini

Laki-laki ini jatuh hati padamu,
Beberapa hari ini dia selalu memikirkanmu,
Tapi, kakinya melangkah malu-malu.

Laki-laki ini benar-benar mencintaimu,
Usahanya benar-benar dilakukannya untukmu,
Senyum kagumnya akan parasmu terlihat jelas.

Laki-laki ini menahan perasaannya untukmu,
Dikatakannya kau adalah rasanya yang sementara,
Meski pikirnya tak henti-henti membayangkan dirimu.

Laki-laki ini pada akhirnya menyadari sesuatu,
seorang perempuan mengusiknya, dan perempuan itu tertawa,
Pada kenyataan bahwa sang laki-laki telah jatuh hati padamu.
Bertanyalah laki-laki ini akan hatimu. Ah, si perempuan tidak bisa diandalkan untuk mencapai hatimu.

Laki-laki ini masih mengharapkanmu, meski dia tahu kau terlalu jauh untuk diraih. Tapi, siapa yang tahu masa depan? Mungkin saja di hari besok pintu hatimu terbuka untuknya.

Pesona Bebek Kuning

Bebek hijau datang, lehernya yang panjang membuatnya terlihat dari kejauhan. Bebek kuning tersenyum malu-malu. Matanya berbinar riang. Bebek hijau menyapanya dengan cinta. "kwek..kwek.." Bebek kuning membalikan badannya dan meninggalkan bebek hijau.

Bebek biru bersembunyi di balik ilalang. Dia melihat bebek kuning pergi meninggalkan bebek hijau. Karena senang dengan apa yang dilihatnya, berlarilah dia menghampiri bebek kuning. Tidak lupa dia mengambil cacing malang yang sedang menggeliat di depannya. Diserahkannya cacing itu pada bebek kuning. Bebek kuning mengambilnya dan menelannya. Suaranya lembut mengucapkan terima kasih pada bebek biru. Ah, si bebek biru tenggelam dalam bahagia.

Bebek merah dengan badannya yang besar dan paruhnya yang hitam menari di pinggir sungai. Dia menari indah sekali. Bebek kuning tersadar akan hal itu dan menghampirinya. Ditinggalkanlah dia, si bebek biru yang menatapnya penuh harap. 

Sadar dia mampu menarik perhatian bebek kuning, bebek merah menari dengan penuh semangat, kaki-kakinya yang bersirip melangkah bersilang-silang. Suara kweknya terdengar gahar. Namun, bebek kuning menghentikan langkahnya dan berbalik berjalan menghadap danau.

Di danau di depan sana, ada sekumpulan angsa putih sedang terbang. Lalu, hinggap di airnya dan mereka berdua-dua membentuk tanda cinta. Bebek kuning menatap dengan wajah sedih. Dilihatnya angsa putih di depan sedang mengaitkan hati. Ah, andai aku angsa putih. Begitu pikirnya.

Jam 3 di masa lalu

Bunga yang kau beri masih berwarna merah, wanginya masih bisa kucium. Tepat jam 3 sore kala itu kau memberikannya padaku,
"Bunga ini akan mudah layu, wanginya akan segera pergi dan aku tidak bisa berbuat apa-apa karena hal itu.", katamu, "Tapi, setidaknya kau bisa mengingatnya di dalam kenanganmu dan aku akan merasa sangat bahagia bila kau menjadikannya kenangan yang berharga."

Aku menatapmu. Wajahmu yang tersenyum penuh ketulusan membuat hatiku gemetar.

Tepat jam 3 di pagi buta itu, teleponku berdering.
"Sayang, sudahkah kau mencinta dengan Sang Maha Mencinta? Sudahkah kau mengucap ayat-ayat rindumu padaNya?" suaramu yang lembut bagai menari di telingaku.

Aku tersenyum. Hatiku kurasa luruh kembali.

Tepat jam 3 di kala sore yang lain, kau berbicara, "Aku akan pergi darimu meski hatiku tidak." Wajahmu sayu dan senyum indah itu hilang.

Aku menangis. Hatiku hancur.

Tepat jam 3 di pagi buta yang lain, aku merasa sangat sepi. Tangkai bunga yang sudah layu dan kering itu masih kusimpan.

Tepat jam 3 di sore yang cerah itu, aku sadar bahwa hatiku benar-benar telah kosong olehmu. Kau dimana? Apa kau bahagia di sana?

Jam 10 yang tak kusangka-sangka, ku terima surat itu, goresan tangan yang aku rindukan,
" Maafkan aku yang harus pergi. Maafkan aku yang meninggalkanmu. Kaulah yang paling mengerti perasaanku padamu. Jangan kau ragukan karena itulah yang sebenarnya sayang. Aku pergi karena duniaku sedang runtuh dan aku tak bisa lagi menatap matamu karena luka ini. Maafkan keegoisanku sayang. Maaf. Kau boleh percaya atau tidak. Tapi kaulah kenanganku yang paling berharga."

Aku menutup surat itu dengan perasaan kosong. Aku kenangan. Aku adalah kenangannya. Itu artinya, aku tidak akan pernah menjadi masa depannya.

Tepat jam 3 di tahun yang lain, seseorang mengatakan padaku, "Dia mencintaimu. Jangan kau ragukan itu. Tapi, bisakah kau percaya saja atas apa keputusannya?"

Aku percaya padamu. Tapi, hatiku tidak.

Kau menjadikanku kenanganmu. Maka itulah pula yang akan aku lakukan.

Senin, 18 Mei 2015

Suara

Suara yang indah itu muncul
Tatkala pagi, siang ataupun malam

Suara yang indah itu disertai
senyum lega dari calon bapak dan ibumu

Suara yang indah itu menghapuskan
keringat dan lelah kami

Suara yang indah itu mengingatkan
bahwa kau telah lahir, sebagai individu baru
Harapan baru

Suara yang indah itu, lengkungan tinggimu, membuat aku merasa lega dan bangga

Tangisanmu wahai adik bayi

Membuat aku bersyukur atas hidup ini

Rindu

Saat kami tertawa dunia serasa milik kami.

Tugas kami berat, tuntutan pekerjaan kami juga bukan main-main. Tapi, aku heran kenapa kami bisa tidak depresi walaupun kami setiap hari berhadapan dengan maut.

Jihadnya seorang wanita. Sakit yang 1000 kali lebih sakit.

Aku tersenyum. Bila kesabaran ada habisnya untuk manusia, maka kami harus melepas kemanusiaan kami demi nama pelayanan.

Ah, tugas yang berat ini. Aku menikmatinya. Pun denganmu. Kita bercanda tentang hal-hal yang aneh. Dan aku lupa akan segala tuntutan yang berat di depan kita. Kitalah bidan. Sang penerima kehidupan. Begitu katamu.

Aku merindukanmu sahabatku

Langit

Dalam dunia bisnis tidak ada yang lain selain untung dan rugi
Ketulusan yang dulu kupercayai, perlahan mulai hilang

Hujan yang jatuh dari langit itu mengenaimu. Kamu melihat ke atas dan malah tersenyum. Langit menyapa. Begitu pikirmu.
Di depanmu ada banyak orang. Tapi kau tetap merasa kesepian. Ada apa sayang?

Seorang teman datang dan memberikan bahunya untukmu bersandar. Kau hanya tersenyum, malah kau berbaring di rerumputan. Langit. Itulah yang kau pandangi.

Kau pikir semua ini tentang satu. Ternyata tentang banyak hal. Kau menertawai dirimu sendiri karena kau rasa kau bodoh. Bagaimana kau percaya hal-hal itu? Ah, rumput bergoyang yang mulai berisik.

Kau mulai bertanya-tanya apa kau benar keras kepala atau hanya mempertahankan ego?

Pada akhirnya kau menatap ke atas. Lagi. Langit itu luas. Begitu pula dengan dunia. Hukum ketetapan yang dulu kau ragukan. Sekarang mulai kau pelajari lagi. Alkimia.