Tujuan Instruksional Umum:
Mengetahui hormon-hormon yang
disekresikan plasenta.
Tujuan Instruksional Khusus:
1.
Mengetahui
hormon-hormon yang disekresikan plasenta.
2.
Mengetahui
fungsi dari hormon-hormon tersebut.
Pendahuluan
Plasenta adalah alat
yang sangat penting bagi janin karena merupakan alat pertukaran zat antara ibu
dan anak dan sebaliknya. Jiwa anak sangat tergantung pada plasenta, baik
tidaknya anak tergantung pada baik buruknya faal placenta.
Perkembangan plasenta manusia sama menariknya dengan
embriologi janin. Plasenta adalah suatu organ yang luar biasa, terutama apabila
kita melihat fungsinya. Selama keberadaannya yang singkat dalam uterus, janin
bergantung pada plasenta sebagai paru, hati, dan ginjalnya. Organ ini
melaksanakan fungsi-fungsi tersebut sampai janin cukup matang sehingga dapat
bertahan hidup di luar rahim sebagai organisme yang bernapas melalui udar.
Sebagai kelanjutan proses fertilisasi dan
implantasi/nidasi adalah terbentuknya plasenta. Plasenta adalah organ endokrin
yang unik dan merupakan organ endokrin terbesar pada manusia yang menghasilkan
berbagai macam hormone steroid, peptide, faktor-faktor pertumbuhan, dan
sitokin.
Pada trimester I plasenta berkembang sangat cepat akibat
multiplikasi sel-sel sitotrofoblas. Vili korialis primer tersusun oleh sel-sel
sitotrofoblast yang proliferatif di lapisan dalam dan sel-sel sinsitiotrofoblas
di lapisan luar. Sel-sel mesenkim yang berasal dari mesenkim ekstraembrional akan menginvasi vili korialis
primer sehingga terbentuk vili korialis sekunder, sedangkan vili korialis
tersier terbentuk bersamaan dengan terbentuknya pembuluh darah-pembuluh darah
janin. Sinsisiotrofoblas umumnya berperanan dalam pembentukan berbagai macam
hormon, sedangkan sitotrofoblas lebih berperanan dalam sekresi faktor-faktor
pertumbuhan.
Hormon-hormon
yang Dihasilkan oleh Plasenta
Plasenta menghasilkan
hormon-hormon sebagai berikut.
1. Sintesis
hormon polypeptide:
Human
chorionic gonadotropin (hCG), human placenta lactogen (hPL).
2. Hormon-hormon
protein:
Chorionic
adrenocorticotropin (CACTH), chorionic thyrotropin (CT), relaksin, parathyroid hormone related protein (PTHrP), growth hormone variant (hGH-V).
3. Hormon-hormon
peptide: Neuropeptide-Y (NPY), inhibin, aktivin.
4. Hypothalamus-like Releasing hormone
(GnRHP):
Gonadotropin-releasing
hormone (GnRH), corticotropin
releasing hormone (CRH), thyrotropin-releasing
hormone (cRTH) dan growth
hormone-releasing hormone (GHRH).
5. Hormon
steroid: Progesteron, estrogen.
Gonadotropin
Korionik Manusia (hCG)
“Hormon kehamilan” ini
adalah suatu glikoprotein dengan aktivitas biologis yang sangat mirip dengan
LH, dan keduanya sama-sama bekerja melalui reseptor LH/hCG membrane plasma.
Walaupun diproduksi hampir seluruhnya di plasenta, hCG juga disintesis di
ginjal janin, dan sejumlah jaringan janin menghasilkan subunit-
atau molekul utuh hCG (Mcgregor dkk., 1981,
1983).
Berbagai tumor ganas juga menghasilkan hCG, kadang-kadang
dalam jumlah yang sangat banyak-terutama penyakit trofoblas ganas. Pada wanita
tidak hamil dan pria, hCG juga diproduksi dalam jumlah yang sangat sedikit,
mungkin terpusat di kelenjar hipofisis anterior. Namun demikian, deteksi hCG
dalam darah atau urin hampir selalu menunjukkan kehamilan.
hCG mulai dapat dideteksi 1 hari setelah implantasi.
Sekresi hormon ini akan memperpanjang hidup korpus luteum dan menstimulasi
produk progesteron melalui sistem adenilatsiklase. Keadaan ini terus dipertahankan
sampai usia kehamilan kurang lebih 11 minggu saat plasenta sudah mampu
menyintesis progesterone.
Fungsi hCG yang lain adalah merangsang proses
diferensiasi sitotrofoblas, stimulasi produksi testosterone testis janin dan
diduga mempunyai efek imunosupresif selama kehamilan. Secara klinik, pengukuran
kadar hCG umumnya digunakan untuk menunjang diagnosis kehamilan, evaluasi
setelah terapi penyakit trofoblas, dan evaluasi abnormalitas kehamilan
(misalnya kehamilan ektopik). Kadar hCG yang lebih tinggi daripada kadar normal
pada trimester kedua seringkali dihubungkan dengan trisomi 21, trisomi 13,
trisomi 20, sindroma Turner dan Klinefelter, sebaliknya kadar yang lebih rendah
sering ditemukan pada janin dengan trisomi 18. Atas dasar inilah hCG digunakan
sebagai salah satu cara skrining adanya aneuploidi pada janin.
Laktogen
Plasenta Manusia (hPL)
hPL disintesis di
sinsisitiofroblas. HPL dapat ditemukan di plasenta dalam 5 sampai 10 hari
setelah konsepsi dan hPL dapat dideteksi di serum sedini 3 minggu setelah
fertilisasi. Konsentrasi di dalam plasma ibu terus meningkat sampai sekitar
minggu ke-34 sampai 36; konsentrasi ini kira-kira setara dengan massa plasenta.
Pada akhir kehamilan, konsentrasi serum mencapai kadar yang lebih tinggi
daripada hormon protein lainnya.
Efek utama hPL adalah terhadap insulin dan metabolisme
glukosa, tetapi bagaimana mekanisme kerjanya sampai sekarang belum diketahui
dengan jelas. Efek hPL terhadap lipolisis dan glucose –sparing terutama pada perempuan hamil yang sedang berpuasa
menunjukan bahwa hPL mempunyai efek proteksi pada janin. Keadaan puasa akan
merangsang sekresi hPL sehingga penggunaan glucose
oleh ibu akan menurun. Hal ini akan menjamin tercukupinya sumber energy janin.
Pengukuran kadar hPL sangat jarang digunakan untuk
kepentingan evaluasi abnormalitas kehamilan. Umumnya disepakati bahwa kadar hPL
< 4
/ml pada usia kehamilan
30 minggu merupakan batas bahwa janin dalam keadaan bahaya. Pada plasenta yang
besar seperti pada kehamilan ganda dan kehamilan dengan diabetes mellitus, akan
didapatkan kadar hPL yang lebih tinggi. Sebaliknya kadar hPL yang rendah
ditemukan pada pertumbuhan janin terhambat, preeclampsia, dan neoplasma
trofoblas. Pada kasus abortus imminens, kadar hPL yang rendah menunjukan bahwa
kehamilan sulit untuk dipertahankan.
Adrenokortikotropin
Korionik (CACTH)
ACTH diproduksi oleh
sel-sel plasenta yang tersebar. Peran fisiologis ACTH plasenta masih belum
jelas. Kadar ACTH dalam plasma sepanjang kehamilan (sebelum persalinan) lebih
rendah daripada kadar pada pria dan wanita tidak hamil; namun, konsentrasi
meningkat seiring dengan perkembangan kehamilan. Selama kehamilan, plasenta
mungkin menghasilkan ACTH yang disekresikan ke ibu atau janin, tetapi ACTH
tidak melewati plasenta.
Tirotropin
Korionik (CT)
Terdapat bukti bahwa
plasenta menghasilkan hormon CT tetapi sama seperti CACTH, fungsinya dalam
kehamilan belum diketahui dengan jelas.
Relaksin
Ekspresi relaksin dapat
dijumpai di korpus luteum, desidua, dan plasenta manusia. Relaksin bekerja pada
otot polos miometrium untuk merangsang adenilil siklase dan untuk meningkatkan
relaksasi uterus.
Parathyroid
hormone related protein (PTHrP)
Sintesis PTHrP dapat
dijumpai di sejumlah jaringan orang dewasa normal, terutama di organ reproduksi
pria dan wanita, termasuk uterus (miometrium dan endometrium), korpus luteum,
dan jaringan payudara fase laktasi. Beberapa organ janin juga memproduksi PTHrP
di antaranya kelenjar paratiroid, ginjal dan plasenta.
Growth
hormone variant (hGH-V)
hGH-V adalah suatu
protein yang terdiri dari 191 asam amino yang berbeda di 15 posisi asam amino
dari sekuens untuk hGH. hGH-V disintesis oleh plasenta, mungkin di sinsitium.
Sekresi hGH-V dipengaruhi oleh glukosa.
Inhibin
dan Aktivin
Inhibin adalah suatu
hormon glikoprotein yang bekerja untuk menghambat pelepasan FSH oleh hipofisis
sehingga mencegah ovulasi selama kehamilan. Zat ini diproduksi oleh testis
manusia dan korpus luteum. Aktivin berkaitan erat dengan inhibitin.
Neuropeptide-Y
(NPY)
Hormon ini disekresikan
oleh plasenta terutama di sitotrofoblas.
Estrogen
Selama 2 sampai 4
minggu pertama kehamilan, estrogen yang dihasilkan ovarium ibu hamil relative
sedikit. Pada minggu ke-7 kehamilan, 50
% estrogen yang masuk ke dalam sirkulasi darah ibu adalah estrogen yang
dihasilkan oleh plasenta. Estrogen ini diproduksi oleh sinsisiotrofoblas pada
palsenta.
Estrogen mempengaruhi pertumbuhan saluran kelenjar mammae
sewaktu menyusui, mengontrol pelepasan LH dan FSH, mengendorkan serviks,
vagina, dan vulva, sekaligus menimbulkan kontraksi pada rahim.
Progesteron
Korpus luteum
menghasilkan progesterone selama 14 hari saat setelah terjadi ovulasi. Tetapi,
jika terjadi konsepsi fungsi korpus luteum dipertahankan oleh hormone hCG untuk
tetap menghasilkan progesteron sampai usia 10 minggu.
Progesteron berfungsi untuk membangun lapisan dinding
rahim untuk menyangga plasenta di dalam rahim, mencegah gerakan kontraksi,
menurunkan tekanan darah, dan membantu menyiapkan payudara untuk menyusui.
Daftar
Pustaka
Cunningham,
F. Gary, dkk. 2005. Obstetri Williams
Volume 1. Jakarta: EGC.
Prawirohardjo,
Sarwono. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta:
PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Sastrawinata,
Sulaiman. 1983. Obstetri Fisiologi.
Bandung: Eleman.
oleh: bidan respati

Tidak ada komentar:
Posting Komentar