ASUHAN KEBIDANAN NEONATUS, BAYI DAN BALITA
INFEKSI
PROGRAM STUDI D III KEBIDANAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS REPATI YOGYAKARTA
2012/2013
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bayi baru lahir
berisiko tinggi terinfeksi dibandingkan janin yang masih berada dalam uterus.
Pada keadaan dimana BBL terpapar oleh organisme benda asing tidak terlalu
membahayakan bagi bayi dan diistilakan dengan kolonisasi dan bayi dapat
membentuk imuinitas untuk melawan organisme yang menimbulkan infeksi. Tetapi
jumlah atau virulensi organisme berlebihan melebihi mekanisme pertahanan bayi
akan mengakibatkan terjadinya infeksi yang disebut infeksi klinis.
Infeksi pada neonatus lebih sering ditemukan pada BBLR.
Infeksi lebih sering ditemukan pada bayi yang lahir di rumah sakit dibandingkan
dengan bayi yang lahir di luar rumah sakit. Dalam hal ini tidak termasuk bayi
yang lahir di luar rumah sakit dengan cara septik. Bayi baru lahir mendapat
imunitas trans. Plasenta terhadap kuman yang berasal dari ibunya. Sesudah
lahir, bayi terpapar pada kuman yang berasal bukan saja dari ibunya tetapi juga
berasal dari ibu lain. Terhadap kuman yang disebut terakhir ini, bayi tidak
mempunyai imunitas.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan infeksi?
2.
Apa saja klasifikasi infeksi
pada bayi?
3.
Bagaimana penatalaksanaan
pada bayi yang terkena infeksi?
4.
Bagaimana prinsip pencegahan
infeksi?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui
pengertian infeksi.
2. Untuk mengetahui klasifikasi infeksi pada bayi.
3. Untuk
mengetahui penatalaksanaan pada bayi yang terkena infeksi.
4. Untuk
mengetahui prinsip pencegahan infeksi.
BAB II
ISI

A. Definisi
Infeksi dalam kamus kedokteran merupakan penembusan dan
penggandaaan dalam tubuh dari organisme yang hidup ganas seperti bakteri, virus
dan jamur.sedagkan infeksi perinatologi yaitu infeksi yang terjadi pada
neonatus terjadi pada masa prenatal, intra natal, postnatal. Infeksi pada
neonatus lebih sering ditemukan pada BBLR dan bayi yang lahir di rumah sakit.
Sepsis adalah istilah bagi infeksi berat. Anak-anak tertentu
berisiko besar mengalaminya. Sepsis disebabkan oleh mikroorganisme yang masuk
ke dalam tubuh. Namun, sepsis berbeda dari penyakit infeksi biasa. Infeksi
biasa hanya menyerang daerah yang terkena infeksi. sepsis berarti bakteri
penyebab infeksi ditemukan dalam peredaran darah. Ini mengakibatkan infeksi
bisa terjadi di seluruh organ tubuh.
B. Etiologi
Infeksi pada neonatus dapat melalui beberapa cara. Blanc
membaginya dalam 3 golongan, yaitu :
1. Infeksi Antenatal
Infeksi yang
terjadi pada masa kehamilan. Kuman mencapai janin melalui sirkulasi ibu ke
plasenta. Di sini kuman itu melalui batas plasenta dan menyebabkan
intervilositis. Selanjutnya infeksi melalui
sirkulasi umbilikus dan masuk ke janin. Kuman yang dapat menyerang janin
melalui jalan ini ialah :
a. Virus, yaitu rubella, polyomyelitis, covsackie, variola, vaccinia,
cytomegalic inclusion
b. Spirokaeta, yaitu treponema palidum ( lues )
c. Bakteri jarang sekali dapat melalui plasenta kecuali E. Coli dan listeria
monocytogenes. Tuberkulosis kongenital dapat terjadi melalui infeksi plasenta.
Fokus pada plasenta pecah ke cairan amnion dan akibatnya janin mendapat
tuberkulosis melalui inhalasi cairan amnion tersebut.
2. Infeksi Intranatal
Infeksi yang terjadi pada saat persalinan. Infeksi melalui jalan ini lebih sering terjadi daripada cara yang lain.
Mikroorganisme dari vagina naik dan masuk ke dalam rongga amnion setelah
ketuban pecah. Ketubah pecah lama ( jarak waktu antara pecahnya ketuban dan
lahirnya bayi lebih dari 12 jam ), mempunyai peranan penting terhadap timbulnya
plasentisitas dan amnionitik. Infeksi dapat pula terjadi walaupun ketuban masih
utuh misalnya pada partus lama dan seringkali dilakukan manipulasi vagina.
Infeksi janin terjadi dengan inhalasi likuor yang septik sehingga terjadi
pneumonia kongenital selain itu infeksi dapat menyebabkan septisemia. Infeksi
intranatal dapat juga melalui kontak langsung dengan kuman yang berasal dari
vagina misalnya blenorea dan ” oral trush ”.
3.
Infeksi
Pascanatal
Infeksi ini terjadi setelah bayi lahir lengkap. Sebagian
besar infeksi yang berakibat fatal terjadi sesudah lahir sebagai akibat
kontaminasi pada saat penggunaan alat atau akibat perawatan yang tidak steril
atau sebagai akibat infeksi silang. Infeksi pasacanatal ini sebetulnya sebagian
besar dapat dicegah. Hal ini penting sekali karena mortalitas sekali karena
mortalitas infeksi pascanatal ini sangat tinggi. Seringkali bayi mendapat
infeksi dengan kuman yang sudah tahan terhadap semua antibiotika sehingga
pengobatannya sulit.
C. Klasifikasi
1.
Berdasar waktu terjadinya, infeksi yang terjadi
pada bayi baru lahir ada dua yaitu:
a.
Early
infection (infeksi
dini)
Infeksi
dini karena infeksi diperoleh dari si ibu saat masih dalam kandungan
b.
Late
infection (infeksi lambat)
Infeksi yang diperoleh dari lingkungan
luar, bisa lewat udara atau tertular dari orang lain.
2.
Berdasarkan bakteri penyebabnya yaitu
a.
Infeksi bakteri sistemik
Apabila bayi tampak mengantuk/letargi
atau tidak sadar, kejang disertai satu tanda infeksi, gangguan nafas, malas
minum atau tidak bisa minum dengan atau tanpa muntah, bagian tubuh merah dan
mengeras, ubun-ubun cembung, suhu bisa panas atau dingin.
b. Infeksi bakteri lokal berat
Apabila ditemukan nanah didaerah mata, telinga,
tali pusat atau umbilikus kemerahan dan meluas sampai kekulit perut, bernanah
serta ada kerusakan kulit.
c.
Infeksi bakteri local
Apabila ada nanah keluar dari mata
dalam jumlah sedikit, daerah tali pusat dan umbilikus kemerahan, berbau busuk
dan terjadi sedikit kerusakan kulit.
3. Berdasarkan berat ringannya, dibagi menjadi
a.
Infeksi
berat (major in fections):
Sepsis neonatal, meningitis, pneumonia, diare
epidemik, plelonefritis, osteitis akut, tetanus neonaturum.
b.
Infeksi
ringan (minor infection) :
Infeksi pada kulit, oftalmia neonaturum,
infeksi umbilikus (omfalitis), moniliasis.
D. Gejala
Beberapa gejala bayi terkena infeksi yaitu :
1. Malas minum
2. Gelisah
3. Frekuensi pernafasan meningkat
4. Mengantuk (letargi) atau tidak sadar
5. Berat badan turun
6. Pergerakan kurang
7. Muntah
8. Diare
9. Odema
10. Perdarahan, ikterus, kejang, suhu
meningkat, normal atau kurang dari normal.
11. Adanya nanah dari telinga, pusar tampak
kemerahan dan meluas ke kulit perut serta berbau busuk.
E. Diagnosa
Diagnosis infeksi tidak mudah karena tanda khas seperti yang
terdapat pada bayi sering kali tidak ditemukan, diagnosis dapat dibuat dengan
pengamatan yang cermat.
Diagnosis dini dapat dibuat apabila terdapat kelainan
tingkah laku bayi dapat merupakan tanda-tanda permulaan infeksi umum.
Diagnosa infeksi perinatal sangat
penting, yaitu disamping untuk kepentingan bayi itu sendiri tetapi lebih
penting lagi untuk kamar bersalin dan ruangan perawatan bayinya. Diagnosis
infeksi perianatal tidak mudah. Tanda khas seperti yang terdapat bayi yang
lebih tua seringkali tidak ditemukan. Biasanya diagnosis dapat ditegakkan
dengan observasi yang teliti, anamnesis kehamilan dan persalinan yang teliti
dan akhirnya dengan pemeriksaan fisis dan laboratarium seringkali diagnosis
didahului oleh persangkaan adanya infeksi, kemudian berdasarkan persangkalan
itu diagnosis dapat ditegakkan dengan permeriksaan selanjutnya.
Infeksi pada neonatus cepat sekali
menjalar menjadi infeksi umum, sehingga gejala infeksi lokal tidak menonjol
lagi. Walaupun demikian diagnosis dini dapat ditegakkan kalau kita cukup waspada
terhadap kelainan tingkah laku neonatus yang seringkali merupakan tanda
permulaan infeksi umum. Neonatus terutama BBLR yang dapat hidup selama 72 jam
pertama dan bayi tersebut tidak menderita penyakit atau kelaianan kongenital
tertentu, namun tiba – tiba tingkah lakunya berubah, hendaknya harus selalu
diingat bahwa kelainan tersebut mungkin sekali disebabkan oleh infeksi. Beberapa
gejala yang dapat disebabkan diantaranya ialah malas, minum, gelisah atau
mungkin tampak letargis. Frekuensi pernapasan meningkat, berat badan tiba –
tiba turun, pergerakan kurang, muntah dan diare. Selain itu dapat terjadi
edema, sklerna, purpura atau perdarahan, ikterus, hepatosplehomegali dan
kejang. Suhu tubuh dapat meninggi, normal atau dapat pula kurang dari normal.
Pada bayi BBLR seringkali terdapat hipotermia dan sklerma. Umumnya dapat
dikatakan bila bayi itu ” Not Doing Well ” kemungkinan besar ia menderita
infeksi.
F. Penatalaksanaan
Penanganan secara umum bayi yang
mengalami infeksi, diantaranya adalah:
1. Mengatur tidur (semi fowler)
agar sesak berkurang
2. Bila suhu tinggi lakukan kompres
3. Berikan ASI perlahan-lahan
sedikit demi sedikit.
4. Apabila bayi muntah lakukan
perawatan muntah yaitu tidur miring ke kiri atau ke kanan.
5. Apabila ada diare perhatikan
personal hygiene dan keadaan lingkungan
6. Rujuk segera
Pemberian antibiotik yang berlebihan dan tidak terarah dapat
menyebabkan tumbuhnya mikroorganisme yang tahan terhadap antibiotik serta
tumbuhnya jamur yang berlebihan seperti candida albicans.
1. Pengobatan pada klasifikasi
infeksi bakteri sistemik, adalah sebagai berikut :
a. Lakukan penanganan kejang apabila
ditemukan tanda dan gejala kejang
b. Lakukan penanganan gangguan pernafasan
bila dijumpai gangguan pernafasan
c. Lakukan penanganan hipotermi apabila
ditemukan hipotermi
d. Pertahankan kadar gula darah agar tidak
turun
e. Berikan dosis antibiotik pertama secara
intramuskuler
f. Beri penjelasan ibu agar bayi tetap
hangat
g. Lakukan rujukan segera.
2. Pengobatan pada klasifikasi infeksi
bakteri lokal berat, adalah sebagai berikut:
a.
Berikan dosis antibiotik pertama secara intramuskuler
b. Berikan antiseptik lokal sesuai daerah
yang terkena dan ajarkan ibu tentang pengobatan berikut ini :
1) Cuci tangan sebelum mengobati
2) Bersihkan kedua mata tiga kali sehari
dengan kapas atau kain basah dengan air hangat
3) Berikan salep/tetes mata tetrasiklin
pada kedua mata
4) Cuci tangan setelah selesai pengobatan
dan lakukan terus sampai kemerahan sembuh.
c.
Pengobatan infeksi kulit atau pusar
1) Cuci tangan sebelum mengobati
2) Bersihkan nanah dan krusta dengan air
matang dan sabun secara hati-hati
3) Keringkan daerah sekitar luka dengan
kain bersih dan kering
4) Oleskan Gentian Violet 0,5% atau
proviodin iodine atau salep yang mengandung neomisin dan basitrasin
5) Cuci tangan setelah selesai pengobatan
dan lakukan terus sampai kemerahan sembuh.
3. Pengobatan pada klasifikasi infeksi
bakteri lokal, adalah sebagai berikut :
a.
Berikan dosis antibiotik pertama secara oral dengan pilihan
amoxilin dan ampisilin
b. Berikan penjelasan dan ajari ibu cara
perawatan infeksi local
c.
Lakukan asuhan dasar bayi muda
d. Berikan penjelasan kapan sebaiknya bayi
dibawa ke petugas kesehatan
e.
Berikan penjelasan kunjungan ulang setelah hari kedua.
G. Macam-macam
Beragam infeksi bisa terjadi pada bayi baru lahir seperti herpes,
toksoplasma, rubella, CMV, hepatitis, eksim, infeksi saluran kemih, infeksi
telinga, infeksi kulit, infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) dan HIV/AIDS.
1.
Herpes
Virus ini terdiri
dari dua jenis yaitu herpes simpleks tipe 1 dan simpleks tipe 2. Herpes
simpleks 1 umumnya menginfeksi di dalam dan di sekitar mulut. Sedangkan herpes
simpleks 2 biasanya menginfeksi daerah genital atau alat kelamin sehingga
disebut juga herpes genitalis. Herpes genitalis yang terjadi pada mulut rahim
seringkali tanpa gejala klinis dan ini bukanlah ancaman ringan apalagi bagi
wanita hamil. Herpes simpleks 2 ini bisa mempengaruhi kondisi kehamilan maupun
janinnya. Bila penularan (transmisi) terjadi pada trimester I kehamilan hal itu
akan mengakibatkan terjadinya abortus. Sedang pada trimester ke II akan
mengakibatkan kelahiran prematur. Jika herpes mengenai seorang ibu dan pada
saat persalinan sedang kambuh maka akan beresiko menular kepada bayi yang dilahirkannya.
Bayi yang lahir
terkena infeksi akibatnya beragam mulai dari lesi hingga mikrosefali (kepala
kecil) atau hidrosefali (busung kepala), radang pada mata, radang otak
(ensefalitis) serta erupsi kulit yang menyeluruh. Jika bayi yang lahir dengan
herpes bawaan ini tidak diobati maka kemungkinan 50-80 % akan meninggal.
Penularan pada bayi sebagian besar terjadi pada proses kelahiran yaitu
kira-kira 90% selebihnya 5% pada janin melalui plasenta atau langsung mengenai
fetus (janin) selebihnya 5% infeksi HSV2 diperoleh sehabis masa persalinan.
Kontak lama dengan cairan terinfeksi dapat meningkatkan resiko bayi tertular.
Cara mengatasinya,
infeksi herpes simpleks pada bayi yang baru lahir memang sangat mengkhawatirkan
dan memberikan prediksi akibat yang buruk bila tidak segera diobati. Untungnya
pengobatan selama ini mampu menurunkan angka kematian demikian juga mencegah
progresivitas penyakit berupa infeksi herpes pada susunan saraf pusat atau
infeksi diseminata (penyebaran tubuh kebagian tubuh lain). Tindakan terhadap
bayi dari ibu penderita herpes genitalis dilakukan secara beragam, diantaranya
ada rumah sakit yang menganjurkan isolasi. Selanjutnya, pada bayi dilakukan
pemeriksaan kultur virus, fungsi hati dan cairan serebrospinalis (otak). Selain
pengawasan ketat selama bulan pertama kehidupannya.
2.
Eksim susu
Keluhan gangguan
kulit lain pada anak yang banyak ditemui adalah dermatitis atopik (eksim susu).
Penyakit eksim susu ini biasanya sangat gatal. Tampak dari seringnya bayi
menggaruk, gelisah serta rewel. Kulit terlihat kemerahan dan terdapat
gelembung-gelembung kecil berisi cairan jernih. Bila pecah akan tampak basah
kemudian mengering dan menjadi koreng kekuningan atau kehitaman.
Eksim ini
terdapat pada kulit daerah tertentu sesuai dengan usia anak. Misalnya pada bayi
banyak ditemukan di daerah pipi, sedangkan pada anak di daerah lekukan lengan
dan kedua lekukan lutut. Diluar daerah tersebut kulitnya kering dan bersisik.
Penyebab penyakit ini sangat kompleks, dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik
dari dalam tubuh yaitu faktor keturunan, maupun lingkungan, misalnya debu,
udara panas dan kelembaban. Karena itu perawatan kulit yang paling penting
adalah mencegah kulit agar jangan kering.
3.
HIV
Janin yang
dikandung ibunya dengan HIV beresiko besar terhadap infeksi virus yang sama.
Penularannya bisa melalui ari-ari. Saat keluar melalui jalan lahir atau
terinfeksi dari susu ibunya. Untuk mencegah penularan tersebut diperlukan
pengawasan dan perlakuan khusus. Mulai dari deteksi dini, tindakan operasi
caesar, pemberian obat-obatan hingga mencegah memberikan ASI kepada bayinya.
Adapun pemberian
obat antiretroviral (ARV) pada bayi terinfeksi HIV di minggu pertama pasca
kelahiran akan memberikan peluang hidup lebih lama. Pemberian ARV sesegera
mungkin membantu menaikkan sistem imun yang lemah akibat serangan virus. Karena
bayi yang positif terinfeksi HIV tidak mampu mambangun sistem imun untuk
ketahanan tubuh. Akibatnya apabila ada penyakit yang menyerang bayi akan cepat
sakit dan meninggal. Menurut penelitian bayi yang mendapat terapi ARV akan
mempunyai kesempatan hidup lebih lama.
4.
Sepsis Neonatorum
Sepsis neonatorium
adalah suatu infeksi bakteri berat yang menyebar ke seluruh tubuh bayi baru
lahir. Terjadi kurang dari 1% pada bayi baru lahir tetapi merupakan penyebab 30%
kematian pada bayi baru lahir. Infeksi bakteri ini 5x lebih sering terjadi pada
bayi baru lahir yang berat badannya kurang dari 2,75 kg dan 2x lebih sering
menyerang bayi laki-laki.
Pada lebih dari
50% kasus, sepsis mulai timbul dalam waktu 6 jam setelah bayi lahir, tetapi
kebanyakan muncul dalam waktu 72 jam setelah lahir. Sepsis yang baru timbul
dalam waktu 4 hari atau lebih, kemungkinan disebabkan oleh infeksi nasokomial
(infeksi yang didapat di rumah sakit). Penyebabnya adalah infeksi bakteri.
Beberapa kasus sepsis
pada bayi baru lahir yang disebut dengan sepsis neonatorum dapat disebabkan
oleh faktor ibu. Mikroorganisme memasuki tubuh bayi melalui ibu selama
kehamilan atau proses kelahiran, seperti perdarahan, demam atau infeksi pada
ibu, ketuban pecah lebih dari 12 jam sebelum persalinan, dan proses persalinan
yang lama. Risiko terjadinya sepsis meningkat pada kasus ketuban pecah sebelum
waktunya dan perdarahan atau infeksi pada ibu.
H. Pencegahan Infeksi
Pencegahan infeksi adalah bagian penting setiap komponen perawatan pada
bayi baru lahir. Bayi baru lahir lebih rentan terhadap infeksi karena sistem
imun mereka imatur. Oleh karena itu, akibat kegagalan mengikuti prinsip
pencegahan infeksi terutama sangat membahayakan
Dengan mengamati praktik pencegahan
infeksi di bawah akan melindungi bayi, ibu dan pemberi perawatan kesehatan dari
infeksi. Hal itu juga akan membantu mencegah penyebaran infeksi. Prinsip
pencegahan infeksi yaitu:
1. Ada
pemisahan di kamar bersalin antara bagian Septik dan Aseptik.
2. Di
bangsal bayi baru lahir dipisahkan antara Partus Aseptik dan Septik
3. Dapur
susu harus bersih dan cara mencampur susu harus Aseptik, setiap bayi harus
mempunyai tempat pakaian sendiri begitu pula termonoloa obat, dll. Incubator
harus selalu dibersihkan lantai ruangan setiap hari harus dibersihkan dengan
Antiseptik.
4. Pemakaian
antibiotic dengan indikasi jelas.
5. Berikan perawatan rutin kepada bayi baru
lahir.
6. Pertimbangkan setiap orang ( termasuk bayi
dan staf ) berpotensi menularkan infeksi.
7. Cuci tangan atau gunakan pembersih tangan
beralkohol.
8. Pakai – pakaian pelindung dan sarung
tangan.
9. Pegang instrumen tajam dengan hati – hati
dan bersihkan dan jika perlu sterilkan atau desinfeksi instrumen dan peralatan.
10. Bersihkan unit perawatan khusus bayi baru
lahir secara rutin dan buang sampah.
DAFTAR PUSTAKA
Dewi,
Vivian Nanny Lia. 2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita. Jakarta:
Salemba Medika.
Fauziah,
Afroh dan Sudarti. 2012. Asuhan Kebidanan
Neonatus, Bayi, dan Balita. Yogyakarta: Nuha Medika.
Rukiyah, Ai
Yeyeh dan Lia Yulianti. 2010. Asuhan
Neonatus Bayi dan Balita. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran.
by: bidan respati
by: bidan respati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar